Nahdliyin Magetan Bercermin Bersama Cak Nun dan KiaiKanjeng

Sudah tidak terhitung jumlah Mbah Nun dan KiaiKanjeng menemani warga Nahdliyin di berbagai daerah untuk banyak keperluan seperti harlah, acara pondok pesantren, peresmian, peringatan hari besar Islam dan lain-lain. Termasuk malam ini di Magetan. Warga NU di sini tengah memeringati harlah NU ke-94 di Stadion Yosonegoro Magetan.

Ribuan orang dari segenap penjuru Magetan khususnya warga NU telah memenuhi stadion ini. Mbah Nun sudah berada di panggung ditemani para pengurus NU, Kiai, pemuka masyarakat dan Bupati Magetan. Suasana ta’dhim dan tawadhu kepada Mbah Nun sangat kental terasa layaknya penghormatan mereka kepada Kiai dan ulama yang merupakan tradisi Nahdliyin.

Berjumpa masyarakat "lapangan bawah"
Berjumpa masyarakat “lapangan bawah”. Foto: Adin.

Berjumpa warga masyarakat Nahdliyin yang merupakan “lapangan bawah” dari struktur sosial politik Indonesia, selalu membuat Mbah Nun menyematkan optimisme akan harapan masa depan. Betapa tidak! Kesetiaan dan kesungguhan, keikhlasan dan kemurnian kehadiran mereka untuk nyengkuyung niat baik “Ruwatan Nusantara di Bumi Ki Mageti” — judul acara malam ini, rasanya tidak mungkin tidak bernilai di mata Allah, yang Mbah Nun mohonkan bisa menjadi alasan bagi Allah untuk menyelamatkan Indonesia.

Apa yang akan Mbah Nun berikan untuk mereka? Mbah Nun hanya ingin mengajak semua warga Nahdliyin ini untuk bercermin melalui sejumlah pertanyaan pada dan tentang diri NU. Tetapi sebelum itu, dalam pancaran “otoritas”, kharisma, dan kedekatan kultural dengan para Nahdliyin, Mbah Nun mbeber hal-hal sederhana yang sudah familiar di lingkungan NU tetapi melalui rute dan cara berpikir yang agak berbeda, tentang cinta segitiga (Allah-Kanjeng Nabi-umat Islam), memahami shalawat, sejarah shalawat Nariyah, dan lain-lain.

Komunikasi sejak awal berlangsung enak dan akrab. Mbah Nun sendiri menyampaikan Magetan itu punya tempat tersendiri dalam pandangan dan pikiran Beliau. Termasuk acara malam ini. Tajuk Ruwatan Nusantara ini menurut Mbah Nun malah ndisiki atau lebih maju dari NU pusat. Demikian Mbah Nun mengapresiasi dan memuji. Mbah Nun juga berharap agar pada momentum di Magetan ini Allah berkenan menentukan takdirnya buat Indonesia.

Suasana Sinau Bareng Harlah NU di Magetan

Memasuki komplek stadion rombongan Mbah Nun disuguhi pemandangan khas rakyat. Pelapak-pelapak yang menjajakan macam-macam: peci tasbih dll, buah salak untuk mengusir tikur, mainan anak, makanan minuman dari sate ayam hingga nasi pecel, dan masih banyak lagi. Tak hanya di luar stadion tetapi juga sebagian di dalam.

Menyimak dengan nyaman di sekitar para pedagang
Menyimak dengan nyaman di sekitar para pedagang. Foto: Adin.

Hadirin tak hanya yang berada di depan panggung dan memenuhi rerumputan, tapi juga ada yang mengambil tempat di balkon. Pemandangan khas Nahdliyin tampak di depan mata. Banser, Anshor, para kiai, masyarakat yang mengenakan sarung dan peci. Pun ibu-ibu maupun adik-adik putri berjilbab dan mengenakan meksi. Bermacam situasi dan ekspresi pada berbagai titik di mana sejumlah hadirin atau jamaah mengikuti acara ini.

Tetapi bila ditebar ke segenap penjuru stadion, atmosfer utama yang terasa adalah penyimakan mereka penuh perhatian dan konsentrasi pada apa-apa yang disampaikan Mbah Nun. Tak ada berisik, tak ada mondar-mandir orang mencuri perhatian.

Memang sejak awal, dalam komunikasi yang terbangun atas keluasan jiwa Beliau serta kedekatan dengan mereka, Mbah Nun perlahan tapi pasti telah menyampaikan wawasan cukup banyak. Dari pemahaman ahsani taqwim, rodhiyatan mardhiyah, cerita tentang Badui Ya Karim Ya Karim, hakikat cinta yang tak banyak dipahami sebagai sikap hidup oleh banyak orang, dan lain-lain termasuk Mbah Nun merespons sambutan Ketua PCNU Magetan dengan mempkenalkan tafsir baru mengenai fis silmi kaffah.

Melihat perhatian hadirin pada uraian ilmu Mbah Nun, kadang tergelitik juga buat menyimpulkan Mbah Nun ini seorang ulama. Bukan sekadar budayawan sebagaimana sering disebut. Tapi kan tidak tamat pendidikan pesantren. Mungkin juga tidak akrab dengan kitab kuning. Ah, barangkali ini lamunan yang tak perlu. Sampai akhirnya: Lha kok, Pak Bupati tadi dalam awal sambutannya membuka dengan “Yang kami hormati ulama besar kita Cak Nun….” Lho! Pak Bupati ini menggoda saja.

Kontribusi Berpikir Substansial Mbah Nun

Eling thok saja itu juga sudah satu bentuk shalawat. Tidak mengumpat saja, juga sudah satu bentuk shalawat,” Mbah Nun mengajak jamaah Nahdliyin melengkapi sisi-sisi substansial shalawat dan shalawatan.

“Tak ada yang kotor. Yang ada adalah tidak berada pada tempat dan proporsi yang tepat. Ada ruang dan waktunya. Itulah Islam”.

Bergembira dengan dolanan bersama Pak Nevi, Doni, dan KiaiKanjeng.
Bergembira dengan dolanan bersama Pak Nevi, Doni, dan KiaiKanjeng. Foto: Adin.

“Saya tak mau ikut melihat masyarakat atau orang dengan kategorisasi radikal, liberal, moderat, fundamentalis dan lain-lain, karena semua unsur itu adalah bagian-bagian di dalam diri manusia. Manusia bukan bagian-bagian itu, melainkan mengandung semua unsur itu”.

“Semua yang berlangsung itu bisa dilihat sebagai sebab-akibat. Guyub adalah akibat. Radikalisme yang disebut dan ditudingkan orang itu juga akibat. Orang marah karena disebabi oleh ketidakadilan. Maka, jangan hanya melihat akibat-akibat, tapi lihat juga sebab-sebabnya”.

“Mari kita kurangi kebiasaan melihat hidup sebagai multiple choice (pilihan ganda). Itu mengakibatkan kita kalau melihat misalnya Ahok salah, maka Anies pasti benar. Atau sebaliknya. Hidup tidak seperti itu. Bahkan yang materialistik pun tak bisa diperlakukan dengan multiple choice”.

“NU itu seperti dapur untuk masak sesuatu yang menyegarkan orang. Begitulah kehidupan. Bahkan jika perlu agama sebagai identitas kita orang tak tahu, tetapi yang kita berikan adalah output sosial yang baik”.

Silmi itu pokoknya tiap hari Anda melakukan apa yang Anda bisa. Bisanya apa, itu sudah cukup. Akumulasi dari semua itu nanti Allah memakainya buat menyelamatkan Indonesia. Dan Magetan malam ini memberi teladan Silmi”.

Merespons bermacam-macam pertanyaan
Merespons bermacam-macam pertanyaan. Foto: Adin.

Itulah di antara beberap poin yang Mbah Nun sampaikan, tentu dengan berbagai konteks untuk memahaminya. Masih banyak muatan-muatan lain. Dan sampai saat ini, masih berlangsung respons-respons atas beberapa pertanyaan. Termasuk lima pertanyaan Mbah Nun sebagai bahan perenungan dan bercermin bagi warga Nahdliyin Magetan.

Betapa Luas dan Bermacam-macam Permasalahan

Sejatinya panitia mengagendakan waktu untuk Maiyahan malam tadi di Magetan hingga pukul 01.00 dini hari, karena agenda berikutnya adalah Shalat Tahajjud bagi Nahdliyyin. Namun menjelang pukul 01.00 ketika sedang sesi tanya jawab, antusiasme masyarakat begitu tinggi. Lebih dari sepuluh penanya maju ke depan panggung.

Dari pertanyaan-pertanyaan itu memperlihatkan begitu luasnya permasalahan dan sangat beragam titik persoalan. Semua diambrukkan kepada Mbah Nun seakan-akan semua harus dan bisa dijawab oleh Mbah Nun. Mulai dari pertanyaan kebingungan hidup, lalu mengenai PKI, pertanyaan seputar teknologi, kemudian pemanfaatan sumber daya alam. Tema pertanyaan juga melompat hingga masalah riba. Juga pertanyaan menganai NU sendiri, dan lain-lain. Tapi memang Mbah Nun sejak puluhan tahun lalu menjadi tempat ambruknya orang-orang yang penuh masalah dan pertanyaan, baik di negeri sendiri maupun di luar negeri salah satunya ketika menggelandang di Belanda tahun 80an. Mbah Nun sendiri mengistilahkan dirinya seperti “keranjang sampah”. Orang-orang itu melihat sebuah cahaya harapan di Mbah Nun.

Yang menarik dari tanya jawab ini, jika diperhatikan dengan seksama, adalah metode Mbah Nun dalam menjawab pertanyaan. Hampir semua jawaban selalu ditarik ke dalam cara berpikir yang paling mendasar. Menggiring jamaah kepada sebuah cara berpikir yang seimbang. Mbah Nun hanya memberi kunci-kunci kepada jamaah untuk digunakan mereka dalam membuka pintu-pintu jawaban dari pertanyaan mereka sendiri.

Antri salaman dengan tertib, rapi, dan lancar.
Antri salaman dengan tertib, rapi, dan lancar. Foto: Adin.

Maiyahan di Magetan semalam benar-benar berakhir hingga menjelang pukul 02.00 pagi. Masyarakat berjubel mengantri salaman dengan Mbah Nun dan Kyai-kyai NU Magetan di panggung. Ada banyak hal dibahas dalam maiyahan semalam. Di antaranya seperti yang telah dikutipkan di atas. Dan kunci-kunci hidup bertebaran sepanjang maiyahan yang menjadi bekal jamaah untuk menjalani hidup yang tidak bisa dielakkan merupakan ibadah kepada Allah. (hm/jj)

search cart twitter facebook gplus whatsapp youtube image