Merti Desa Supaya Tersambung Kepada Sangkan-Paran

Liputan Singkat Sinau Bareng Merti Desa Purworejo, 1 Oktober 2017

Warga desa Purworejo beserta hadirin lain yang datang dari berbagai daerah sedang khusyuk berdoa serta bershalawat bersama Mbah Nun saat laporan ini sedang ditulis. Suasana kekhusyukan meliputi. Kedalaman hati memohon kepada Allah terpancar. Pak Lurah, Pak Sekcam, Pak Danramil, Pak Kapolsek, dan pemuka desa pun turut dalam kekhusyukan ini.

Merti Desa ini sendiri sesungguhnya adalah wujud doa kepada Allah nyuwun supaya anugerah kesuburan tanah dan suasana gemah ripah loh jinawi toto tentrem kerto raharjo ini selalu terlimpah kepada desa ini.

Gemah Ripah Loh Jinawi.
Gemah Ripah Loh Jinawi. Foto: Adin.

Tentu tidak sekali ini hajat Merti Desa menghampiri Mbah Nun dan KiaiKanjeng. Dan kalau sudah bertemu desa, sangat jelas sikap dan panggraito Mbah Nun tentang desa dalam konteks kondisi negara dan zaman. Banyak hal baik yang ditemukan pada kehidupan desa yang perlu dijaga jangan sampai terkikis. Tanah-tanah desa jangan sampai terbeli oleh orang luar dan harus tetap menjadi milik mereka. Warga desa harus nguri-nguri amanah Allah itu. Demikian salah satu pesan Mbah Nun.

Merti desa ini yang bagi Mbah Nun merupakan ungkapan mensyukuri anugerah Allah itu juga sekaligus merupakan kesadaran tidak memutus silaturahmi dalam arti tidak hanya sesama manusia melainkan kepada alur, rute, dan asal-usul kita sebagai manusia. Buah tak boleh lupa akan pohon, akar, dan benihnya. Manusia pun demikian. Apalagi manusia ini posisinya dalam penciptaan adalah bungsu atau ragil. Dia punya kakak-kakak di antaranya alam semesta dan malaikat.

Manusia harus tersambung dengan asal-usulnya. Sampai kepada Rasulullah dan Allah. Di desa kesadaran akan hal itu masih terjaga lewat merti desa ini. Maka komplet, Mbah Nun mengajak mereka buat berdoa melalui membaca beberapa surat pendek, beberapa ayat suci Al-Qur`an, dan rangkaian shalawat. Shalawat ini merupakan jalan yang rasional dan paling efektif untuk ingat sangkan-paran.

Toto tentrem kerto raharjo. Foto: Adin
Toto tentrem kerto raharjo. Foto: Adin

Dalam cara berpikir yang sama, sesungguhnya desa itu lebih ‘tua’ dibanding negara. Falsafah dan adagium Jawa mengatakan Deso Mowo Coro Negoro Mowo Toto. Negara akan tertata dengan baik kalau mau belajar kepada desa. Kalau tidak, arah dan ceritanya akan berbeda.

Acara Merti Desa ini digelar di halaman kantor atau balai desa Purworejo yang satu lokasi dengan SD Desa. Yang hadir ternyata tak hanya warga desa ini, melainkan dari berbagai daerah. Ada yang dari Ambarawa, Pantura, bahkan Blora. Ternyata juga ada yang datang dari Jawa Timur.

Di lokasi, sejak sore persiapan sudah dimulai, terutama ibu-ibu dan mbak-mbak menyiapkan makanan-minuman buat menyambut kedatangan KiaiKanjeng. Jajanan dari bumi desa ini segera tersaji pula. Rebus-rebusan: ketela, pisang, kacang. Ada juga emping melinjo berpasangan dengan tape ketan. Kopi, teh, dan jahe hangat melengkapi. Ini khas penyambutan ala desa. Di beberapa titik, remaja dan perangkat keamanan desa bersiap menyambut kedatangan warga dan para tamu.

Menuju lokasi Sinau Bareng. Foto: Adin
Menuju lokasi Sinau Bareng. Foto: Adin

Lepas isya, warga desa berjalan kaki meninggalkan rumah masing-masing untuk segera menuju lokasi Sinau Bareng. Sementara itu, kurang lebih pukul 20.15, Mbah Nun sudah sampai di lokasi, dan segera disambut Sohibul Bayt: Pak Lurah, dan lain-lain. Di ruang tamu kantor kepala desa, sembari menikmati hidangan khas desa dan obrolan akrab, Mbah Nun mendengarkan hajat Merti Desa dari Pak Lurah. Cara dan muatan penuturan yang sebaiknya didengar oleh seluas-luasnya stakeholder di negeri ini. Pukul 21.00, Mbah Nun beserta Pak Lurah dan lain-lain bergerak menuju panggung disambut dengan shalawat Badar dari para vokalis KiaiKanjeng dan jamaah. (hm)

search cart twitter facebook gplus whatsapp youtube image