Melihat Nabi Bukan Dari Posisi Nabi

Liputan Singkat Sinau Bareng Pasar Bunga Bratang 30 Desember 2017 (Bagian 1)

Tradisi keagamaan di masyarakat berjalan terus, bergulir dari zaman ke zaman. Abadi mengarungi lorong-lorong waktu. Dijalankan, dihidupkan, dan memberi makna bagi setiap orang yang mensetiainya.

Seperti saat ini, masyarakat dan himpunan pedagang kembang di kampung Bratang Surabaya sedang menghelat pengajian umum Sinau Bareng bersama Cak Nun dan KiaiKanjeng untuk memeringati Maulid Nabi Muhammad Saw.

Acara diawali dengan menyambut kehadiran Mbah Nun dengan lantunan shalawat ‘indal qiyam oleh kelompok shalawat dari kampung ini. Cukup lama prosesi ini sehingga membuat semua yang hadir masuk ke dalam kekhusyukan Thala’al Badru dan bait-bait shalawat lainnya.

Selepas ‘indal qiyam, acara segera dimulai. Mbah Nun menyambung langsung dengan ilmu shalawat. Diingatkan oleh beliau tentang apa hasil dari bershalawat. Syafaat. Itulah hasilnya. Mbah Nun ajak mereka memahami logika dan wujud-wujud syafaat dalam hidup kita.

Memberi perspektif mempelajari sirah Nabawi, Mbah Nun mengajak mereka melihat Nabi tidak dari posisi Nabi, melainkan dari posisi kita, supaya kita mengerti kemuliaan Kanjeng Nabi. Sehingga kita tidak akan mengatakan, “ya wajar, namanya juga Nabi.”

Dalam hidup ini kita bergantung kepada Allah, salah satu caranya dengan memohon Syafaat Nabi Muhammad Saw. Barokah rezeki adalah salah satu bentuk syafaat ini. Ada yang bertambah baik pada tingkat pribadi maupun sosial. Itu juga bentuk syafaat.

Rahasia syafaat juga mengandung pelajaran bahwa jangan dipikir hidup itu seperti yang kita pikirkan. Tak hanya kalkukasi ekonomi dan politik. Ada kalkulasi yang lain sama sekali. Kalau kita bershalawat, kita akan mendapatkan perhitungan-perhitungan lain yang tak terduga.

Acara ini diberi tajuk “Guyub Rukun Seduluran” dan digelar di jalan di komplek taman kuliner Bratang Binangun. Sangat banyak yang datang. Saat baru sound check usai Maghrib, shaf pertama pun sudah tertempati jamaah. Tidak hanya di area sepanjang jalan ini jamaah mengambil tempat. Di tenda-tenda taman kuliner pun mereka bisa ambil posisi untuk bisa mengikuti Sinau Bareng ini dengan enak, dan sangat banyak.

Masih di tahap awal, butir-butir suasana khusyuk, nikmat, enak, guyub, dan regeng sangat terasa mengalir beriringan dengan kalimat demi kalimat dari Mbah Nun mengantarkan prinsip-prinsip memahami shalawat, syafaat, dan yang terutama adalah mengungkapkan shalawat itu. Pada waktunya, setelah “gelas ilmu” cukup disiapkan, mereka akan diajak bershalawat bersama KiaiKanjeng.

Di panggung, Mbah Nun naik bersama tokoh masyarakat, perwakilan panitia, Pak Suko Widodo dan Kiai Muzammil. Beliau-beliau seperti biasa akan diajak Sinau Bareng, sementara Pak Suko dan Kiai Muzammil mendapat tugas tersendiri dalam acara ini. Sampai titik ini, masih prolog, percikan-percikan ilmu yang disampaikan Mbah Nun terus mengalir sekaligus mengantarkan KiaiKanjeng bershalawat bersama jamaah.

Keguyuban pun dengan cepat terangkai dalam acara ini. Bersama Mbah Nun dan KiaiKanjeng, tradisi keagamaan seperti peringatan Maulid Nabi malam ini menjadi lebih diperkembangkan kandungannya. Ya ilmu, kegembiraan, kebersamaan, kehangatan, dan dimensi-dimensi lainnya. (HM)

Tradisi keagamaan di masyarakat berjalan terus, bergulir dari zaman ke zaman. Abadi mengarungi lorong-lorong waktu. Dijalankan, dihidupkan, dan memberi makna bagi setiap orang yang mensetiainya. Seperti saat ini, masyarakat dan himpunan pedagang kembang di kampung Bratang Surabaya sedang menghelat…