Kelompok Sinau Daur Semarang

Selain mengilhami lahirnya tulisan-tulisan Tadabbur Daur dari jamaah, Daur Mbah Nun yang saban hari menjumpai para jamaah, mengilhami pula terbentuknya Kelompok Sinau Daur, yakni oleh rekan-rekan penggiat Gambang Syafaat Semarang.

Sebagaimana pada tulisan-tulisan Tadabbur Daur, yang dilakukan Kelompok Sinau Daur ini juga menggali, mendalami, dan memetik ilmu hidup dari Daur Mbah Nun.

Selain mengilhami lahirnya Tadabbur Daur dari jamaah, "hutan belantara" Daur yang ditulis Mbah Nun direspons oleh JM Semarang dalam bentuk kelompok Sinau Daur.
Selain mengilhami lahirnya Tadabbur Daur dari jamaah, “hutan belantara” Daur yang ditulis Mbah Nun direspons oleh JM Semarang dalam bentuk kelompok Sinau Daur (Foto: Jhoni).

Bedanya, ini dilakukan secara kelompok dan sedikit ada urutannya. Sebelum melangkah ke Daur, mereka terlebih dahulu melakukan doa munajat bersama. Setelah itu, Daur yang akan dikaji, dibacakan. Masing-masing memegang print out-nya. Baru kemudian disambung dengan diskusi dan pendalaman bersama. Bulan April ini mereka sudah memasuki edisi ke-5.

Tadabbur Daur para jamaah dan Sinau Daur teman-teman Semarang adalah beberapa di antara  ujud praktik daras teks ilmu di dalam Maiyah. Di luar itu, Daur juga menginspirasi sejumlah tema Maiyahan rutin beberapa lingkar Maiyah di beberapa daerah.

Seperti anak-anak zaman dulu mengaji di surau atau masjid, teman-teman Sinau Daur ini menggunakan meja-meja kecil untuk membantu suasana benar-benar fokus seperti belajar para santri. Print out Daur diletakkan di atas meja sebagai bentuk penghormatan dan kesungguhan belajar. (Helmi Mustofa)

Sebagaimana pada tulisan-tulisan Tadabbur Daur, yang dilakukan Kelompok Sinau Daur ini juga menggali, mendalami, dan memetik ilmu hidup dari Daur Mbah Nun.

Bagikan

search cart twitter facebook gplus whatsapp youtube image