Kedaulatan Suta Naya Dhadhap Waru

Catatan Diskusi Sewelasa Perpustakaan EAN, 11 April 2017

Sejarah bisa saja menekan orang-orang Jawa lewat berbagai bentuk. Lewat kerajaan ataupun negara. Tapi wong cilik, yang bahkan sampai hari ini masih dianggap sebagai kawulo di negara yang katanya sudah merdeka ini, tentu punya caranya sendiri untuk menjaga kedaulatannya. 

Diskusi sewelasan yang dilaksanakan selasa (11/04) malam kemarin tampak lebih semarak. Halaman pendopo Rumah Maiyah yang pada hari-hari biasanya digunakan untuk parkir kendaraan, disulap menjadi lapak buku dadakan. Meriahnya suasana diskusi kali ini, tentunya, tidak dapat dilepaskan dari acara peringatan ulang tahun keempat Perpustakaan EAN yang dilaksanakan tempo hari.

Pada kesempatan ini, forum mencoba mendedah buku Suta Naya Dhadhap Waru: Manusia Jawa dan Tumbuhan karya Iman Budhi Santosa. Buku setebal 479 halaman ini, berisi 324 nama tanaman yang lazim digunakan sebagai nama desa atau kelurahan di wilayah Jawa Tengah, Yogyakarta, dan Jawa Timur. Penulis yang juga hadir sebagai narasumber utama dalam diskusi kali ini menjelaskan bahwa ide-ide awal dari buku ini sudah dimilikinya bahkan sejak tahun ‘80an.

Dalam pemaparannya, Pak Iman menjelaskan bahwa buku ini pada dasarnya masih berkaitan erat dengan buku Profesi Wong Cilik yang ditulisnya pada tahun 1999. Menurutnya, kedua buku tersebut sama-sama berangkat dari usahanya untuk mencatat keberadaan rakyat yang seringkali tidak diakui oleh sejarah. Filosofi ngrimo ing pandum, menurutnya, sangat mengakar kuat dalam kehidupan orang Jawa. ”Sifat pasrah semacam ini secara tidak langsung juga dipelajari dari sifat-sifat dasar tanaman.” Pungkasnya.

Sebagai bangsa agraris, orang Jawa memiliki kedekatan yang cukup personal terhadap tanaman. Kedekatan ini, menurut Pak Iman, juga dapat dikaitkan dengan kemunculan animisme di Jawa. Proses bercocok tanam yang telah dilakukan secara turun temurun di Jawa, diyakini merupakan awal dari kepercayaan atas kekuatan-kekuatan di luar diri manusia – yang kemudian menjadi dasar kepercayaan animisme.

Meskipun demikian, Bu Wahya, istri Pak Toto Rahardjo yang ikut serta dalam diskusi, menyatakan prihatin atas identitas bangsa agraris yang kian hari kian ditinggalkan. Orang Jawa semakin – dibuat – jauh dari tanaman. Sehingga kita menjadi kehilangan banyak sekali hal. “Bahkan kurikulum yang disusun pemerintah pun, belum mampu mengadopsi nilai-nilai kearifan lokal yang telah ada,” tambahnya.

Menanggapi ini, Pak Iman kembali mengingatkan forum atas teori pendidikan yang diterapkan Ki Hajar Dewantara yaitu: Niteni, Niroa’ke, dan Nambahi. Niteni menurutnya adalah proses membaca keadaan. Membaca fenomena lingkungan yang terjadi sehari-hari. Baru kemudian, kita dapat melakukan tahapan Niroa’ke atau menerjemahkan tanda-tanda alam. Kedua proses inilah yang diharapkan berlanjut pada tahap Nambahi, yaitu suatu proses kreatif yang melahirkan pengetahuan baru.

Tiga poin ini pada dasarnya sudah diamalkan oleh orang Jawa dan termanifestasi dalam Ilmu Titen. Sensibilitas orang Jawa terhadap fenomena di sekitarnya inilah yang menjadi acuan perilaku sehari-hari. Kapan harus menanam, kapan harus berjualan, dan kapan harus beristirahat. Semuanya harus dilandaskan pada siklus alam sehingga mampu terjadi sebuah harmoni.

Aufal, peserta diskusi lainnya, juga menambahkan bahwa sensibilitas semacam ini sudah lama hilang. “Sekarang kita lebih percaya apa yang ditulis di buku pelajaran, ketimbang apa yang benar-benar terjadi di lingkungan kita,” jelas pria asal Pati ini.

Buku Suta Naya Dhadhap Waru: Manusia Jawa dan Tumbuhan, sesungguhnya berusaha membalik anggapan semacam ini. Veronica, misalnya, beranggapan bahwa pada dasarnya buku ini adalah sebuah pemberontakan atas sistem yang dibangun dari atas. Sebuah usaha untuk kembali melihat wong cilik dari sudut pandang wong cilik itu sendiri. Buku ini, menurutnya, mencoba mengembalikan kedaulatan – dalam arti literal – ke tangan rakyat. Mencoba memahami sistematika atau alam pikiran wong cilik tanpa embel-embel apa pun.

Pak Iman Budhi Santosa, sebagai penulis, berupaya untuk mengabadikan kedaulatan semacam ini. Hal yang mungkin dianggap sepele oleh sebagian orang. Namun, hal ini mestinya dapat dimaklumkan. Karena sudah semestinya wong cilik menuliskan sejarahnya sendiri. Bukan untuk sombong apalagi besar kepala. Tapi semata-mata untuk mempertahankan kedaulatannya. (Faisal Nur)

search cart twitter facebook gplus whatsapp youtube image