Garuda Khilafah Pancasila

Catatan Sianu Bareng di Balairung UGM, 8 Juni 2017

Saya tidak pernah nyaman berada dalam gedung ini, gedung Balairung UGM. Selera memang dan subjektif, tapi setelah selera kita selalu punya pembenaran sendiri bukan?

Gedug yang diresmikan pada 19 Desember 1959 ini digagas oleh Ir Soekarno dengan menunjuk langsung GPH Hadinegoro sebagai arsitek utamanya. Tapi yang membangun gedung ini sesungguhnya ya kuli-kuli bangunan, namun nama para pekerja kasar itu tentu saja tidak akan pernah disebut dalam sejarah. Begitulah peradaban maskulin berlangsung; hanya peduli pada yang besar, yang megah, yang konsep, yang jargon sembari dengan gagah perkasa melupakan yang kecil, yang real, yang aplikatif.

Sinau Bareng di Balairung UGM. Foto: Adin.

Mungkin karena energi maskulinnya, dengan ukuran-ukuran yang serba besar baik di dalam maupun luar ruangan dengan keteraturan Appolonian yang begitu padat sehingga tiap masuk ke gedung ini emosi yang timbul adalah perasaan tertekan dan bukannya diayomi. Pada masanya, di mana ketika itu kita sedang butuh sosok dan simbol kebanggaan berbangsa, maskulinitas ala Soekarnoisme semacam ini mungkin memang diperlukan, tapi pada masa sekarang kita mestinya bisa beranjak pada hal yang lebih lembut, yang silmi.

And please don’t get me wrong ya, saya juga masihlah seorang lelaki yang tentu saja mewarisi pola pikir maskulin. Saya masih seorang lelaki yang saat acara berlangsung belum bisa move on dari duka cita mendalam karena girlband Korea favorit saya, Sistar, resmi membubarkan diri pada akhir bulan lalu.

Ketika acara Sinau Bareng 8 Juni 2016 M ini berlangsung, yang oleh panitia diberi tajuk Pagelaran Budaya “Menyongsong Persatuan Ummat Islam dengan Mengedepankan Sikap Saling Menghargai Menuju Indonesia Bermartabat” di bioskop-bioskop sedang gegap gempita euforia penayangan film Wonder Woman yang dibintangi oleh Gal Gadot, artis cantik kelahiran Israel. Pemutaran perdana di Indonesia sendiri dimulai sejak 31 Mei, artinya dua hari lebih awal dibanding di US negeri asalnya.

Saat acara berlangsung saya belum menemukan momentum yang tepat untuk menonton film ini. Pemutaran film yang berlangsung bertepatan dengan bulan Ramadhan cukup menyulitkan bagi saya, karena siangnya sebagai ummat muslim sedang berpuasa dan saya cukup yakin menonton Gal Gadot dengan balutan kostum superhero Wonder Woman akan memakruhkan pahala puasa. Sedang malamnya mesti taraweh. Sudah saya katakan, saya masih lakik.

Pola maskulinitas yang memadatkan segala, sehingga mudah terbentur satu sama lain juga tengah berlangsung di luar sana. Jargon-jargon kebersamaan dimanfaatkan oleh sementara pihak untuk menghantam golongan lain yang dianggap anti keberagaman. Gelembung kalah menang. Pancasila dan Binneka Tunggal Ika dijadikan jargon mendekati berhala bagi yang meyakini dan bagi yang tidak meyakini sudah disederajatkan dengan najis. Pola pikir pro dan kontra, aroma busuk perpecahan, kalimat-kalimat bijak dibalur emosi permusuhan. Tentu saja kita tidak bisa bergantung pada kekuatan supernya Wonder Woman yang dilabeli oleh kritikus film “hero of feminism” untuk mengurai keruwetan-keruwetan berpikir di sekeliling kita. Tapi acara Sinau Bareng yang diadakan di pelataran Gedung Balairung UGM yang rasanya sangat diliputi energi maskulin, bagaimana dia akan berlangsung?

Kembali ke gedung ini dan maskulinitasnya, bagi saya gedung ini akan sangat kondusif bila anda sedang mengadakan sebuah aksi yang sangat mengandalkan kekuatan dan jumlah massa. Tapi untuk mengasah rasa, melatih kepekaan berpikir? Ini bukan tempat yang ideal menurut saya. Perlu saya katakan sekali lagi, ini pembacaan subjektif saya.

Almamater; Ini Garuda Jantan, Betina Apa Bencong

Tanpa disangka-sangka, masih pada awal acara Mbah Nun sudah masuk pada pembahasan yang cukup meretakkan dinginnya dinding maskulinitas gedung Balaiurung ini. Mbah Nun mengajak kita berpikir kembali, betapa pentingnya sosok ibu dan ibu disini bukan sekadar ibu biologis darah daging. Tapi juga bahwa segala yang sakral bagi kita dilekatkan dengan kata ibu. Ibu kota, ibu pertiwi dan “Almamater, itu ya ibu lho kan bukan alma-pater”  disambut dengan tawa oleh entah berapa banyak jumlah manusia yang memadati pelataran gedung. Agak mengherankan, ternyata banyak muncul mimik wajah kebingungan menanggapi kalimat Mbah Nun tersebut, mungkin hal ini dianggap sekedar joke dan otak-atik gatuk, dan sesungguhnya tidak juga karena memang ‘almamater’ berasal dari bahasa Latin yang artinya “Ibu tersayang”

Mbah Nun memulakan matei-materi dalam acara ini tidak dengan konsep baku yang sudah matang. Mbah Nun justru memberi “PR pertanyaan” yang tidak perlu dijawab saat itu juga, namun untuk dibawa pulang dan dipikir masing-masing. Pertanyaan-pertanyaan tersebut misalnya berapa banyak kata yang berasal dari term Islam dalam Pancasila? Atau burung garuda di Pancasila itu, jenis kelaminnya kira-kira apa?

Memulai dengan melempar pertanyaan yang tentu jawabannya bisa beragam miturut bekal pengalaman masing-masing dan bukannya menggelontorkan bahan yang sudah matang membuat acara Sinau Bareng berbeda dengan acara mendengarkan tausyiah oleh Kiai atau Syekh atau Ustadz.

Foto: Adin

Pentingkah mempertanyakan jenis kelamin sang garuda? Buat saya, ini pertanyaan fundamental yang sangat penting karena dengan itu kita bisa memahami pola bernegara macam apa yang selama ini ditanamkan dalam alam bawah sadar kita.

Ingat, simbol yang diproduksi berulang-ulang pada titik tertentu akan berpengaruh pada alam bawah sadar juga. Kalau dia seperti Roman Ackuila-nya Imperium Romanum yang elang Roma jantan maka dia akan melahirkan karakter pemimpin dan masyarakat yang imperialis, gagah merentangkan sayap, dan menundukkan musuh-musuhnya. Bila dia betina, kemungkinan dia akan melahirkan karakter pengayoman, peneduh keibuan.

Garuda kita yang mana? Kita koq rasanya tidak pernah menjajah, tapi bukan karena tidak mau melainkan lebih karena tidak bisa menjajah. Tentu beda nilainya tidak menjajah bangsa lain karena tidak mau dan karena tidak bisa. Tapi di satu sisi, garuda itu koq malah sangat gagah kalau berhadapan pada rakyat kecil yang tidak berdaya? Parade kebinnekaan maupun anti istilah binneka, tidak pernah membersamai rakyat kecil yang menjadi korban penggusuran, yang sulit menentukan kapan hari bisa makan dan kapan harus tidak makan? Apa penting pertentangan antara Pancasila vs Khilafah bagi mereka yang papa? Kemana mereka harus mengadu? Air mata mereka yang digusur apakah kurang berharga dibanding air mata seorang walikota Pontius Platus? Kan gawat juga kalau ternyata garudanya bencong?

Pertanyaan soal jenis kelamin garuda dalam kepala saya menstimulasi berbagai pertanyaan serupa. Ini Garuda jenis yang mati dibunuh oleh Dasamuka waktu menculik Dewi Sinta? Atau Garuda yang ditunggangi oleh Prabu Kalimantara ketika menyerbu Kahyangan? Atau Garudanya bukan dari pewayangan? Jangan-jangan garudanya import? Kalau import dari mana? Dari Romawi? Dari Somalia? Nikaragua? Zimbabwe? Dan itu Garuda kenapa dia terus-terusan mangap? Minta makan atau bagaimana? Siapa yang harus ngasih dia makan? Kita juga? Gawat! Sepertinya Mbah Nun sukses mentrigger berbagai pertanyaan turunan dari tekhnik mempertanyakan hal-hal mendasar diawal tadi.

Garuda, Proses Evolusi Ajaran dan Semua Akan Khilafah Pada Waktunya

Karena kecerdasan spasial saya yang terbilang rendah, ketika selesai memarkirkan motor saya hanya ikut saja dengan alur berjalan orang-orang di sekeliling. Saya menduga saya akan sampai pada tempat seperti lapangan seperti biasanya acara Sinau Bareng. Tapi ya itu tadi, rupanya saya malah terbawa masuk ke dalam gedung Balairung yang kurang saya favoritkan ini. Ketidaksukaan saya pada gedung ini bahkan sampai berefek pada fisik, kepala pening, tengkuk tertekan. Melewati lorong-lorongnya adalah berhadapan arwah-arwah Hegel, Kant, Karl Marx. Nietzsche? Ah, dia tidak akan ada di sini, dia terlalu Dyonisian.

Begitu sampai di tempat acara, posisi saya malah ternyata berada pada belakang panggung. Acara sedang dibawakan oleh petugas panggung dari panitia. Karena kondisi badan yang tidak enak maka saya putuskan untuk duduk saja sekenanya. Setelahnya ada pembacaan puisi oleh Sanggar Salahuddin, sanggar yang pada era awalnya juga ikut dibidani oleh Mbah Nun sendiri. Tapi sulit menikmati puisi bagus dari dalam gedung ini.

Bapak-bapak personel Kiai Kanjeng tampak asik berbaur dengan jamaah lain dibelakang panggung ini, sambil menikmati batang-batang rokok, kopi dan obrolan santai. Saya juga sempat beberapa kali bersapaan dengan kawan-kawan JM.

Beberapa panitia mencoba mengatur sedulur-sedulur JM yang kebetulan sederajat dengan saya, maksudnya sama-sama ada di belakang panggung, dan disarankan sebaiknya pindah. Saya lupa waktu itu disebut untuk tempat lewat dekan atau rektor. Acara ini juga memang akan dihadiri oleh Guru Besar Fakultas Farmasi Prof Dr Edy Meiyanto M.Si.,Apt dan Kepala Pusat Studi Pancasila UGM Dr Heri Santoso, SS.,M.Hum.

Foto: Adin

Kawan-kawan JM, yah kadang memang suka gitu. Disuruh menyingkir, minggir bentar beberapa menit kemudian tempat itu penuh lagi. Hal-hal macam begini kadang lucu juga, JM sering dikenal sebagai orang-orang yang ngeyelan dan sulit diatur, suka mempertanyakan otoritas formal baik kampus maupun negara. Kalau di socmed terkesan lebih banyak haters. Saya kadang iseng, mengklasifikasikan sedulur-sedulur Maiyah itu ada yang saya sebut Cah Maiyah, yang biasanya masih suka melabrak sana-sini dengan bekal pengetahuan dan pemahaman dari Mbah Nun kemudian akan berproses jadi Jamaah Maiyah yang mulai menunjukkan keseriusan dan istiqomah dan lama-lama yang telah berproses akan merawat kebun menjadi Jannatul Maiyah. Tapi ini Cuma klasifikasi saya saja. Saya sendiri tidak tahu saya berada pada posisi mana. Dan naudzubillah, semoga kita semua terhindar menjadi Judas Maiyah, meminjam nama Judas yang saking mencintai Sang Guru tanpa sadar justru mengkhianati esensinya “Hay Judas, kau menyerahkan anak manusia dengan ciuman”.

Tapi sengeyel-ngeyelnya sedulur-sedulur saya para JM, mereka tentu tidak akan berbuat keonaran seperti murid-muridnya Syekh Siti Jenar, mereka sudah mengerti empan papan, mereka juga tidak tergoda untuk menjadi seperti semacam kaum Sicari pada era kelahiran Isa. Ah kapan-kapan di lain kesempatan tulisan saya ingin membahas mengenai tipe-tipe masyarkaat pada era Isa atau Yesus, dari kaum miskin Ebionith, anarkis teroris Sicari, purifikasi budaya Zealoth, penempel kekuasaan Sadusi, liberal Parisii, majlis ulama Sanhedrin, asketik kebatinan Eseni dan lainnya sampai munculnya Johanes Pembaptis (Yahya as) yang mampu merangkum mereka semua di Sungai Yordan kemudian diterus-aplikasikan oleh pergerakan Yesus (Isa as). Kapan-kapan, belum sekarang.

Maka saya coba beranjak dari tempat saya duduk dan berjalan-jalan meresapi nuansa dari sisi-yang berbeda. Berjalan berkeliling dan coba mencari jajanan.

Di Panggung, lagu Medley Nusantara sedang dimainkan dan atas permintaan Mbah Nun lagu tersebut jadi bahan untuk tebak-tebakan, bagi sesiapa yang bisa menjawab asal daerah potongan lagu diberi marchendise berupa peci Maiyah dan kaos. Suasana menjadi cair, kekhawatiran saya bahwa nuansa dan lingkup energi yang hyper-masculine akan membuat acara jadi spaneng tidak terbukti.

Cukup menarik perhatian saya ketika berada pada baris paling belakang mendapati gerombolan pemuda yang dari atribut busananya akan dilekatkan sebagai kaum tafsir keras kepala. Sebagai pembanding, di luar sana juga sedang ramai kasus yang menambahi keruwetan negeri ini. Organisasi mereka sedang diupayakan pembubarannya oleh pemerintah. Iya, mereka yang menyebut diri pejuang khilafah. Saya pribadi memiliki ketidaksetujuan pada beberapa konsep mereka, namun juga miris ketika kaum anti khilafah terus-terusan memberi embel-embel pada mereka dengan: kaum katok congklang, jilbab ninja, kaum bumi datar atau entah apa lagi hinaan-hinaan yang kontra produktif pada nuansa kebersamaan kita sebagai bangsa.

Inilah yang menjadi titik perhatian saya, berapa banyak acara entah itu diskusi atau pengajian mengenai peneguhan jati diri kebangsaan yang akan membuat mereka bertahan berada pada acara tersebut? Karena terlanjur kita termakan dengan klasifikasi negara vs agama, pancasila anti khilafah dan  banyak lagi pembakukan beku semacam itu. Rasanya tidak banyak bahkan sepengalaman saya, acara semacam ini biasanya langsung akan mereka tinggalkan. Tapi mengapa mereka bertahan pada acara Sinau Bareng ini? Saya coba mengaplikasikan ilmu teater seadanya yang saya miliki, saya masuk karakter menyelami pola pikir mereka dan menuliskan hal ini dalam sebuah tulisan dengan sudut pandang orang pertama. Bukan pada reportase ini, tapi akan saya coba rangkum sedikit.

Foto: Adin

Mungkin karena apa yang disampaikan oleh Mbah Nun, berbeda dengan kaum pro NKRI harga mati dan Pancasilais atau Binnekais lain. Mbah Nun tidak memposisikan diri sebagai anti khilafah. Tidak dan sama sekali tidak. Khilafah justru diapresiasi dan dipahami sebagai konsep yang sangat mulia. Bedakan dengan beberapa pemuka agama yang berposisi melawan mereka sering menyebut Khilafah itu sangat utopis sehingga tidak mungkin terjadi. Mbah Nun justru meletakkan Khilafah sebagai cakrawala tujuan, dia tetap mesti diperjuangkan dan karena dia begitu mulianya makan dia tidak boleh diperjuangkan dengan cara-cara dan bentuk yang lazimnya jahiliah kontemporer pascamodern ini. Mbah Nun memberi contoh ketika beliau ‘bertugas’ menenangkan hati para pendukung Syekh Abu Bakar Baasyir.

Kalau pembaca yang budiman menggemari musik metal, tentu bisa memahami bahwa nama Syekh ini bukan saja populer di kalangan santri garis keras namun juga dikalangan metalhead terutama fansnya band grindcore kawakan; TENGKORAK. Dalam satu gigs underground di Jakarta saya sempat mendapati ketika Ombat vokalis Tengkorak mengangkat minuman diatas panggung sembari berseru “Bersulang! Atas bebasnya imam kita Syekh Abu Bakar Baasyir! Allahu Akbar!” dan gema takbir membahana pada acara konser tersebut.

Maaf saya sempat ternostalgia pada era ketika masih metal. Nah kembali ke acara tadi (Sinau Bareng! Bukan yang konser metal)

Pada satu pertanyaan mengenai mengapa dulu banyak ilmuwan dan saintis dari kalangan muslim namun saat ini kaum muslim jadi terbelakang. Mbah Nun memberi analogi, bahwa kita seperti seorang suami yang punya istri cantik, istrinya itu ya penemuan-penemuan oleh ulama masa lampau, kemudian istri itu direbut orang. Pada awalnya kita melawan orang yang merebut istri kita, katakanlah itu peradaban Barat namun setelah bertahun-tahun melalui berbagai perlawanan istri kita tidak kunjung kembali maka kita mulai menjelek-jelekkan istri kita sendiri. Itu berlaku misalnya, orang Islam mulai menganggap negatif istilah-istilah yang lahir dari ajarannya sendiri sepert Khilafah, jihad dan banyak hal termasuk penemuan-penamuan dari ilmuwan muslim katakanlah semisal Al Khawarizmi, Ibn Sina, Ibn Rusyd dan lainnya justru dianggap sebagai plagiat naskah-naskah Yunani.

Dan ini saya menyaksikan, mereka yang lekat dengan embel-embel pro-khilafah itu bertahan hingga acara usai. Banyak sekali uraian-uraian Mbah Nun yang rasanya tidak membuat mereka diserang dan disakiti seperti lazimnya diskusi mengenai Pancasila lainnya. Mbah Nun tidak memposisikan diri sebagai pemberhala Garuda, tapi menegaskan bahwa Pancasila sebagai sesuatu yang “Terlanjur ada” sebagai surat nikah kebangsaan. Mereka yang pro-khilafah ditawarkan oleh Mbah Nun untuk tetap teguh pada perjuangan mereka dengan menemukan strategi yang lebih ciamik dan lebih setia secara esensi khilafah itu sendiri. Mengenai pembubaran  organisasi pro-khilafah yang sedang ramai, Mbah Nun juga tidak terjebak pada dua kutub “syukurin loe akhirnya dibubarin” atau “betapa zalimnya pembubaran ini.”

Mbah Nun sedikit demi sedikit menyapa dan membesarkan hati mereka bahwa inilah konsekuensi kalau kita bermain pada tataran gelembung kalah-menang. Pembubaran ini, oleh Mbah Nun diberi pemaknaan agar mereka naik maqom perjuangannya, tidak lagi terjebak pada tataran menang-kalah, tapi “udkhulu fissilmi kaffah” masuk kepada alam silmi bersama-sama.

Maiyah, dicontohkan oleh Mbah Nun, tidak pernah bermain pada tatran menang-kalah dunia, sehingga tidak bisa dikalahkan. “simpan kebenaranmu didapurmu, jangan diperlihatkan” rupanya juga adalah strategi perang sendiri.

Mbah Nun pun menjelaskan mengenai konsep evolusi agama dari bluluk, cengkir, degan hingga klopo. Lalu disambung dengan evolusi kesadaran dari sumpah Allah Swt sendiri dalam surah At-Tin.  Pohon Tin digambarkan sebagai simbol dari agama brahma. Bila saya coba sambungkan dengan sedikit pemahaman sejarah saya, memang ada kemungkinan besar nama agung Ibrahim sebagai bapak para Nabi dibawa oleh pengelana Persia hingga ke dataran Hindustan, Abraham kemungkinan besar menjadi cikal bakal kata Brahman sang dewa inisiator, begitu juga menjadi dasar kata Brahman dalam stratifikasi masyarakat Hindustan (varna) “maka dari Tin, kita akan ke Buddha” mengapa Buddha? Mungkin karena Buddha sebagai revolusi ajaran Shiva adalah gerakan mem-Brahmanakan seluruh manusia. Sedang Zaytun, adalah perlambang zaman Yesus atau Isa as. Diteruskan dengan Turisiniin atau Bukit Sinai, tempat Musa as menerima Taurat dan diteruskan Balaadil amiin yang tentu merujuk pada Muhammad Saw dengan segala kelengkapan dan penyempurnaan terhadap konsep tauhid pendahulunya.

Masih menjadi bahan pikiran saya sendiri mengapa dalam evolusi kesadaran pada surah At-Tin itu, timeline sejarahnya tidak linier. Karena bila mengikuti logika zaman per zaman, maka semestinya setelah ajaran brahmana Ibrahim kemudian adalah revolusi perbudakan ala Musa dulu baru Isa?  Bila pembaca yang budiman memiliki pendapat mengenai hal ini, bolehlah kita mendiskusikannya.

Foto: Adin

Dengan sabar Mbah Nun mengajak kita merinci berbagai persoalan, tidak terjebak pada kebutan jurus abad pasca-modern, era post-truth ini. Kita perlu memahami proses dan tepat di sini Mbah Nun membesarkan hati para pejuang khilafah itu. Berpuasalah, belum waktu berbuka. Belajarlah pada proses dan yakinlah; semua akan khilafah pada waktunya.

Mbah Nun mencontohkan pada kita bagaimana Binneka Tunggal Ika yang semestinya. Bagaimana peradaban perdamaian dibangun dengan kesadaran untuk sedia menyapa, bukan menghantam yang terlanjur diasumsikan sebagai yang anti perdamaian. Bahwa yang kita hadapi adalah manusia, kita perlu percaya bahwa mereka juga memiliki kapabilitas untuk berpikir. Percaya pada manusia, masihkah kita memiliki itu?

Di luar sana, slogan perdamaian dipakai untuk menghajar habis mereka yang dianggap keras hati.  Kaum Sicari tidak serta merta melakukan aksi menikam orang Romawi di pasar-pasar, ada proses penjajahan yang sangat panjang yang kepedihan hati mereka juga perlu kita pahami dan mengerti. Jangan sampai cengkraman cakar Garuda terlalu keras pada slogan Binneka Tunggal Ika, sehingga justru mencabik dan mengoyak ke-Binneka-an tersebut.

Baru dua hari menjelang saya menyelesaikan tulisan ini saya akhirnya dapat menyempatkan waktu untuk nonton Wonder Woman. Dari tadabbur terhadap film itu saya mendapat hikmah; Rupanya Ares sang dewa perang yang berhasrat menyaksikan perpecahan di antara ummat manusia, ketika turun ke bumi justru menjelma menjadi sosok yang getol menyuarakan perdamaian. Untuk yang belum nonton, maaf spoiler. (MZ Fadil)

search cart twitter facebook gplus whatsapp youtube image