Menjadi Tamu Istimewa AIMEP

Sore tadi (19 Agustus 2021) mulai pukul 16.00 hingga 17.30 WIB, Mbah Nun memenuhi undangan Australia-Indonesia Muslim Exchange (AIMEP) untuk menjadi tamu istimewa pada salah satu sesi programnya dengan tema ‘Media, Arts & Activism’. AIMEP adalah program Pertukaran Tokoh Muslim Muda Indonesia-Australia yang merupakan inisiatif di bawah naungan Australia Indonesia Institute, Departemen Luar Negeri dan Perdagangan Pemerintah Australia. Peserta yang mengikuti program ini berjumlah dua puluh empat orang, dan sore tadi mereka belajar kepada Mbah Nun dalam subtema ‘Seni Pertunjukan, Musik, dan Islam di Indonesia.’

Karena situasi masih pandemi, pelaksanaan program masih berlangsung secara online termasuk pertemuan mereka dengan Mbah Nun sore tadi melalui zoom. Untuk acara ini, Mbah Nun didampingi Pak Ian L. Betts yang secara khusus ikut membantu menyampaikan poin-poin yang telah disiapkan Mbah Nun secara tertulis. Salah satu poin yang disampaikan Mbah Nun adalah harapan beliau agar AIMEP dapat menjadi wadah “People to People Relationship” atau “Human to Human Relationship” dan dapat mengorientasikan dirinya menjadi Pencerah Masa Depan Dunia atau The True Renaissance. Sebab menurut Mbah Nun, Renaissance yang berlangsung selama ini justru membuat manusia terkutub-kutub dan terkeping-keping, dan sekarang yang dibutuhkan adalah mengutuhkan kembali manusia.

Baik penyelanggara maupun para peserta sangat senang dan antusias dengan kesempatan langka beraudiensi dengan Mbah Nun. Terlihat di antaranya pada saat sesi dialog dan sesi ending acara di mana mereka satu per satu diberi kesempatan mengekspresikan rasa terima kasihnya kepada Mbah Nun sebagai special guest. Sebelum acara ini, panitia telah menyiapkan untuk peserta mereka tayangan video kegiatan Mbah Nun dan KiaiKanjeng. Dalam acara tadi, juga dua kali ditayangkan cuplikan video di mana mereka bisa melihat ragam kegiatan dan segmen audiens yang ditemui Mbah Nun di pelbagai wilayah, di mana tayangan tersebut diiringi nomor musik magis “Takbir Akbar” KiaiKanjeng.

Dalam sesi dialog, salah seorang peserta bertanya tentang bagaimana Mbah Nun merespons pendapat sebagian orang tentang ‘musik yang dianggap mereka haram karena di mana Nabi tidak ada.’ Beberapa perspektif respons Mbah Nun kemukakan. Menurut Mbah Nun jika dasar atau masalahnya adalah ‘tidak ada di zaman Nabi’, aplikasi zoom ini juga nggak ada di masa Nabi, pun juga handphone dan lain-lain yang sekarang kita pakai. Jadi, logikanya banyak hal yang harus kita bubarkan atau tinggalkan, tetapi tidak kita tinggalkan. Kemudian, pada perspektif hakikat, Mbah Nun mengajak peserta memahami apa hakikat musik. Musik adalah bunyi, nada, dan irama. Dan tak mungkin hidup ini tanpa unsur-unsur musikal tersebut. “Bahkan hati pun bermusik. Hatimu bernyanyi,” kata Mbah Nun.

Kemudian Mbah Nun juga menuturkan ada keterangan yang menceritakan bahwa Nabi Muhammad pernah berada di suatu daerah dan di situ ada acara perkawinan. Nabi heran mengapa suasananya sepi. Nabi lantas bertanya, “Ini kuburan atau apa, kok tidak adanya bebunyian.” Maka, menurut Mbah Nun rasanya mustahil Nabi melarang atau mengharamkan musik, dan menurut beliau yang haram adalah praktik-praktik yang melanggar etika dan budaya. Mbah Nun memberikan contoh musik yang diterapkan secara tidak tepat dalam konteks ruang dan waktu. Oleh karena itu, Mbah Nun mengajak para peserta untuk memiliki kelembutan dan ke-lantip-an dalam merasakan dan memahami banyak hal. Karena itu pula, di penghujung dialog ini Mbah Nun menekankan pentingnya para peserta untuk merumuskan kembali pemahaman-pemahaman berkaitan dengan kata-kata kunci yang diusung dalam tema ini. (Helmi Mustofa).

Lainnya