Lotrekrasi

Mukadimah Suluk Surakartan Maret 2019

Akhir-akhir ini, kita disibukkan oleh berbagai masalah kehidupan yang urusannya berkaitan dengan materi. Kita melihat kemajuan manusia, dari capaian fisiknya, bukan dari gagasan dan tindakannya yang berkualitas. Kita melihat sosok pemimpin, juga dari pencitraan sosoknya saja. Bahkan kita memahami demokrasi, juga sebatas pada urusan pemilunya, itu pun dengan ketegangan hingga permusuhan. Padahal pemilu, sebenarnya bukan hal substansial dalam demokrasi.

Ada apa dengan kita ini? Mengapa sekarang kita menjadi bangsa yang begitu memuja materi hingga kita tersesat dalam 3C, cethek, cupet, cekak. Sehingga kita terseok-seok dalam hidup bebrayan. Kita sedang hidup dalam sebuah era di mana secara berkala kita rela beradu satu sama lain untuk hal-hal yang sesungguhnya tidak benar-benar kita pahami maksudnya. Jadi, sebenarnya ada pilihan untuk tidak bertengkar, tetapi kita justru memilih untuk menjalankan sebuah mekanisme yang membuat kita bertengkar. Aneh sekali bukan.

Jika kita melihat ke belakang, bangsa ini pernah hidup dalam sebuah sistem “keratuan”. Ratu adalah simbol perlindungan bagi siapa pun yang bernaung di bawah naungannya. Sosok ratu digambarkan sebagai manusia yang adil serta menjalani laku prihatin. Jadi, ia tidak seperti gambaran penguasa-penguasa yang memiliki istana berkilau emas, bertahtakan berlian, dan dikawal oleh pasukan-pasukan super yang menakutkan. Ia manusia yang dihormati karena kewibawaannya dan kepribadiannya yang unggul.

Dengan demikian, soal kepemimpinan sesungguhnya adalah soal kualitas yang muncul secara alamiah, sebagian bagian dari tanda-tanda kekuasaan Tuhan di muka bumi. Ia tidak diputuskan oleh manusia melalui sebuah rundingan yang penuh kepentingan. Maka dari itu manusia yang berkualifikasi pemimpin, bukanlah yang gemar melakukan pencitraan ke sana kemari, tetapi yang memang memiliki energi pengabdian yang paling besar untuk manusia, yang dibuktikan dengan integritas pikiran, ucapan, dan tindakannya. Dengan keberadaannya, maka orang lain mengikuti perilakunya dan menaati ucapannya.

Selain itu, calon-calon pemimpin pada zaman itu umumnya tidak dididik dengan kemewahan seperti kebanyakan anak-anak zaman sekarang. Ada ragam cerita yang isinya serupa, yakni generasi mudanya diberi ujian berat oleh generasi tua agar sanggup menjalankan kepemimpinan berikutnya. Ada kelompok masyarakat yang memiliki tradisi mengirim anak laki-lakinya bertapa di sebuah tempat yang berbahaya. Jika ia bisa kembali dengan selamat, maka ia akan menjadi pemimpin besar pada masanya. Jadi, menjadi pemimpin itu bukanlah untuk bersantai dan dilayani, melainkan mencurahkan energi pengabdian yang lebih besar dari kebanyakan manusia biasa.

Coba kita bandingkan dengan hari ini? Pernahkah kita melihat generasi muda dihadapkan pada tantangan-tantangan yang berat oleh orang tuanya? Justru kebanyakan orang tua hari ini memanjakan anak-anaknya. Kita hidup dalam iklim pendidikan yang terlalu memudahkan, tidak menantang. Pendidikan untuk menumbuhkan manusia-manusia yang mengabdi menjadi terhapuskan. Ia digantikan oleh pendidikan yang berorientasi membentuk manusia yang haus materi dan eksistensi. Sehingga tidak heran, hari ini kita jumpai manusia yang mengejar kekayaan tanpa batas dan gila membangun citra diri agar dipuji pada hal-hal yang sebenarnya tidak benar-benar dilakukannya.

Puncaknya, kita mengalami sebuah kelucuan dalam peristiwa memilih pemimpin. Kita ditipu oleh pencitraan dan kita hidup dari perjudian pemilu dari waktu ke waktu. Ya, pemilu yang kita sebut-sebut sebagai pesta demokrasi sesungguhnya tidak lebih dari sekedar lotre yang merugikan. Sebab kalau lotre yang beneran, kita masih punya kemungkinan menang. Tapi pemilu yang kita jalankan sekarang, tidak lebih dari lotre yang hanya pasti memberi kemenangan pada bandarnya saja. Kita tak pernah bisa memilih calon pemimpin yang benar-benar dari rakyat. Kita cuma disodori calon pemimpin yang disponsori oleh bandarnya. Siapa pun yang menang, bandarnya yang untung. Itulah lotre yang paling absurd dalam kehidupan kita. Tapi ternyata kita tempuh juga dengan tenang, tanpa kegelisahan.

Jika sudah demikian, bukankah kita sebenarnya sedang menjalankan lotrekrasi? Kita tidak sedang memilih pemimpin sejati. Tapi kita sedang bersenang-senang dalam penderitaan yang sebenarnya kita ciptakan sendiri. (YAP)

Jumat, 22 Maret 2019 (malam sabtu pahing) pukul 20.00 WIB
Info Lokasi: Jl. Tanjunganom No.11 Kwarasan, Grogol, Sukoharjo

Buku Cak Nun