Siang Malam Tak Berdaur

Mukadimah Suluk Surakartan Maret 2018

Berapa lama kita telah membuka mata dan menikmati kehidupan dunia? Pernahkah kita mencoba merenungkan dan menghitung-hitungnya kembali? Sudah melakukan apa sajakah kita? Sudah sejauh mana kita “tumbuh” dalam proses kehidupan dunia kita saat ini?

Berapa kali pergantian malam dan siang yang sudah kita lewati? Berapa kali musim telah berganti dalam perjalanan hidup kita? Berapa purnama yang telah kita habiskan dengan sungguh-sungguh? Berapa tahun, berapa bulan, berapa hari, berapa jam, bahkan berapa detik waktu-waktu yang sudah kita lewati?

Barangkali hal-hal semacam itu tidak terlalu banyak kita rasakan dan renungkan. Karena hari ini kita hidup di abad kecepatan dan teknologi tinggi. Setiap detik kita dihadapkan pada berbagai informasi yang secara tidak sengaja membuat kita lupa pada hal yang berlalu. Bukan karena melupakan, tapi memang karena begitu derasnya arus perubahan kita tidak menyadari bahwa kita pernah memiliki masa lalu. Ibaratnya saking cepatnya kita bergerak, kita lupa bahwa sebenarnya dulu pernah bisa jalan santai.

Hidup kita bergulir dalam satuan momen. Kemudian kita menganggap bahwa perguliran momen itu terpisah-pisah satu sama lain. Seakan-akan kita merasakan hal-hal baru yang tidak berhubungan dengan sebelumnya. Jika diteruskan kita menganggap bahwa kehidupan kita seperti penggalan-penggalan waktu. Lalu kita berpikir bahwa kita saat ini hidup di alam dunia. Kemudian setelah ini kita akan memasuki alam akhirat. Sebuah area dianggap khayal oleh kebanyakan orang modern. Tragisnya lagi ia pun dianggap seperti “dunia lain” di kalangan orang yang mengaku beriman.

Padahal jika kita membuka al Quran, kita jumpai sebuah kalimat indah innaa lillahi wa innaa ilaihi raaji’un yang artinya bahwakita ini sesungguhnya kepunyaan Allah dan kepada-Nya kita akan dikembalikan”. Jika dicermati betul, informasi dari Allah ini menunjukkan bahwa perjalanan kita tidak seperti garis linier, tetapi sebuah lingkaran/ putaran. Umpamanya kita berangkat dari titik A, maka kita akan kembali ke titik A. Jadi dunia dan akhirat bukanlah sesuatu yang terpisah, tetapi merupakan suatu kesatuan.

Bagaimana kita membangun kesadaran dunia dan akhirat secara harmoni? Setiap manusia sudah dikaruniai akal. Akal ibarat ujung jari Tuhan yang membuat manusia mulia ketika menggunakannya. Dengan akal itu, kita bisa membangun kesadaran terus menerus atas peristiwa kehidupan kita. Sehingga rutinitas siang dan malam yang kita lewati menjadi selalu bermakna.

Setiap perbuatan kita selalu kita hayati sebagai daur dunia – akhirat, bukan sebagai salah satunya lagi. Sehingga tidak muncul pemikiran aneh di mana kita memandang aktivitas kerja mencari nafkah sebagai hal dunia, sementara bersembahyang di masjid sebagai aktivitas akhirat. Semua yang kita lakukan sesungguhnya merupakan amal duniawi sekaligus ukhrawi.

Jadi mau sampai kapan kita melewatkan siang malam tanpa makna? Akankah kita membiarkan fase dunia kita berakhir dalam pergantian siang malam yang monoton dan mekanis? Sedangkan Tuhan selalu mengawasi kita tanpa lengah sedetik pun.

Berapa lama kita telah membuka mata dan menikmati kehidupan dunia? Pernahkah kita mencoba merenungkan dan menghitung-hitungnya kembali? Sudah melakukan apa sajakah kita? Sudah sejauh mana kita “tumbuh” dalam proses kehidupan dunia kita saat ini? Berapa kali pergantian malam dan siang yang sudah kita…