Colak-Colek Calik

Mukadimah Jamparing Asih Juli 2018

Hari-hari ini sungguh bising negeri kita. Penyebabnya: perhelatan penting yang bakal digelar tahun depan. Demi persiapan menghadapinya, kita saksikan para tokoh dan petinggi sibuk melakukan pendekatan. PDKT kata anak zaman now. Ibarat proses PDKT, terjadilah colek sana colek sini, menebar pesona, bujuk rayu untuk dipersunting.

Kenapa sih begitu semangat mereka colak-colek? Genit amat… Rupanya itu ada kaitan dengan peluang mereka mendapat kursi di perhelatan yang akan datang. Susah amat ya dapat kursi, alat sederhana untuk calik (duduk). Apa mereka tidak bisa duduk di tempat lain? Apa mereka tak kuat beli kursi? Nanti dulu, ini kursi bukan sembarang kursi. Kursi ini adalah simbol kedudukan. Jadi bukan sembarang duduk.

Dengan mendapat kedudukan ini, idealnya mereka menyalurkan aspirasi rakyat di rapat-rapat yang menentukan nasib semua orang di negeri ini. Mari kita doakan para tokoh tersebut tidak melupakan idealismenya setelah berhasil duduk di kursi idaman itu. Jangan seperti bunyi iklan furnitur: “Sudah duduk, lupa berdiri.” Lebih gawat lagi kalau “Sudah dapat kedudukan, lupa diri.”

Tapi yang paling parah jika para tokoh kita yang terhormat itu memakai kedudukan mereka untuk menduduki bangsa ini. Karena “menduduki” dan “pendudukan” konotasinya adalah penjajahan, penguasaan. Jika itu yang terjadi, maka tak berlaku kearifan leluhur kita yang bertutur: “Berdiri sama tinggi, duduk sama rendah.” Malang nian kita yang hanya penduduk jelata!

Perkara kursi dan tempat duduk ternyata amat penting dalam sejarah manusia. Coba perhatikan istana raja. Di balairung utamanya tentulah terdapat tahta yang indah dan memukau, tempat raja duduk penuh wibawa, membawa ketenteraman bagi rakyat dan keseganan penguasa negeri tetangga. Bayangkan jika raja boleh menerima tamu kerajaan di balairung sambil berbaring leyeh-leyeh di sofa! Saking pentingnya perkara tempat duduk, dalam Al-Qur`an kita temukan Ayat Kursi sebagai lambang kekuasaan Allah Swt. Mestinya fakta itu sudah cukup untuk mendorong kita mentadabburi secara serius perkara calik.

Dalam Maiyah, kita sadar atau tak sadar diajak mentadabburi calik. Forum Maiyah paling ideal berbentuk melingkar, sebuah halaqah. Posisi duduk semua hadirin setara. Siapa pun bisa menjadi “pusat perhatian” ketika mendapat giliran berbicara. Tentu tetap ada panggung atau tempat khusus di suatu titik sebagai tempat duduk narasumber atau koordinator, tetapi kesadaran yang dibangun dalam diri hadirin bukan sebagai penonton, tetapi pelaku. Secara sangat pas dan indah hal ini terlambangkan oleh bentuk cincin. Juga huruf nun.

Jika kita coba mentadabburi secara lebih transendental, atau meniti garis hablum minallah, maka kedudukan kita, atau maqam kita, di hadapan Allah Swt adalah sesejati-sejatinya kedudukan. Sementara kedudukan kita di tengah manusia secara esensial adalah “duduk sama rendah.” Kedudukan-kedudukan lain yang diciptakan manusia adalah relatif.

Supaya tidak penasaran masalah duduk ini, mari kita ngawangkong dan ngariung di majelis Jamparing Asih Juli 2018. Mangga calik

Hari-hari ini sungguh bising negeri kita. Penyebabnya: perhelatan penting yang bakal digelar tahun depan. Demi persiapan menghadapinya, kita saksikan para tokoh dan petinggi sibuk melakukan pendekatan. PDKT kata anak zaman now. Ibarat proses PDKT, terjadilah colek sana colek sini, menebar pesona…