Puasa dan Pendidikan Anak

dr. Eddy Supriyadi, SpA(K), Ph.D.
Waktu baca ± 4 menit
Bagikan
  • Share on Facebook
  • Share on X
  • Send via WhatsApp

Minggu ini saya dapat jatah jaga poli siang, poliklinik yang mulai dari jam 11 siang sampai agak sore, serampungnya antrian pasien.

Pertama kali masuk adalah seorang gadis mungil umur 6 tahun datang bersama ibunya. Memakai baju berpola sama dengan baju sang ibu. Hem dengan pola garis-garis hijau.

“Hallo cantiiik,” sapa saya. Si cantik belum bereaksi, namun mulai melirik ke saya.

Dari rekam medisnya saya ketahui dia bernama Maharani. Bertempat tinggal di desa daerah penghasil Durian di timur laut Magelang. Seorang penderita kelainan darah yang harus membutuhkan perawatan 2-4 minggu sekali untuk datang ke RS.

“Ehhh, kamu kok cantik siiih, bajunya bagus banget…, kembaran lagi sama ibunya,” lanjut saya.

“Iya Dok tadi sebelum berangkat anaknya minta kembaran…,” sahut ibunya.

“Wahhhh senangnya, tapi kok lemes sih….?”

“Cantik… kamu puasa?” lanjut saya.

Rani mengangguk pelan. Saya kaget, membelalakkan mata sambil mulut menganga. Langsung saya acungi dua jempol ke hadapan Rani, yang duduk agak serong di depan saya. Mengingat umurnya yang masih segitu, dan belum wajib menjalankan puasa, maka saya lanjutkan pertanyaan ke Rani.

“Jadi puasamu sampai jam berapa, anak cantik?”

“Jam dua belas, Dok,” kali ini dia menyahut.

“Wah sekarang sudah waktunya berbuka dong?” tanya saya, karena saya melihat jam di komputer di hadapan saya menunjukkan jam 11:47.

Rani menggelengkan kepala. Karena belum jam 12:00.

Saya kemudian melanjutkan mengisi borang-borang yang ada di EMR (Electronic Medical Record). Sambil mengisi EMR, saya mbatin, bagus banget ini pendidikan dari ibunya.

Walaupun kewajiban puasa tidak berlaku bagi anak kecil, tradisi pendidikan Islam menekankan pentingnya melatih anak berpuasa sejak dini. Praktik ini bukan sekadar pembiasaan ritual, tetapi bagian dari proses pembentukan karakter yang berlandaskan prinsip Al-Qur`an dan sunnah.

Al-Qur`an tidak hanya memerintahkan ibadah, tetapi juga menekankan tanggung jawab orang tua dalam pendidikan spiritual anak. Ini juga kekaguman saya kepada ibunya yang menekankan pendidikan ini. Di saat ini setiap anak pasti datang masuk ke ruang periksa dengan membawa gadget, apakah itu tab atau HP. Sehingga hampir tak ada kesempatan bagi saya untuk ngobrol dan bercanda dengan mereka.

Tetapi tidak begitu dengan Rani. Dia masuk menggandeng tangan ibunya dan kemudian duduk di hadapan saya di samping ibunya, tanpa gadget di tangan.

Di dalam QS. At-Tahrim: 6, Allah berfirman: “Wahai orang-orang yang beriman, peliharalah dirimu dan keluargamu dari api neraka…”

Ayat ini sering ditafsirkan oleh para ulama sebagai kewajiban mendidik keluarga dalam iman dan ibadah. Mendidik anak berpuasa sejak dini termasuk bagian dari proses penjagaan spiritual tersebut. Dalam kisah Luqman, Al-Qur`an juga menunjukkan bahwa pendidikan iman dimulai sejak kecil melalui nasihat bertahap (QS. Luqman: 13-19). Prinsip bertahap ini menjadi landasan pedagogi Islam.

“Dan (ingatlah) ketika Lukman berkata kepada anaknya, ketika dia memberi pelajaran kepadanya, “Wahai anakku! Janganlah engkau mempersekutukan Allah, sesungguhnya mempersekutukan (Allah) adalah benar-benar kezaliman yang besar.” (QS. Luqman: 13)

Saya lanjutkan dialog dengan Rani, gadis mungil, cantik, dan taat.

“Jadi kamu sahur jam berapa, Nak?” tanya saya.

“Jam tiga,” jawabnya pelan, dengan muka yang agak lemah dan bibir kering yang nampak terlihat.

“Haaaaa…,” saya setengah berteriak.

“Dibangunin ibu yaa?” lanjut saya.

Rani menggeleng, dan ibunya pun menggeleng. Artinya alarm biologis dari seorang anak yang baru berumur 6 tahun sudah bekerja dengan baik. Otomatis terbangun pada saat sahur jam 3 pagi, di mana anak anak yang lain masih pulas dengan mimpi mereka.

Waduh saya tambah tak bisa berkata-kata. Saya lanjutkan menulis resep obat untuk Rani sambil menahan kekaguman saya.

Saya teringat para ulama menekankan betapa pentingnya latihan puasa sejak dini. Dalam hadits riwayat Bukhari dan Muslim disebutkan bahwa para sahabat melatih anak-anak mereka berpuasa. Mereka bahkan membuat mainan agar anak tetap bersemangat hingga waktu berbuka.

Imam Al-Ghazali menjelaskan bahwa latihan ibadah sejak kecil membantu membentuk malakah (disposisi jiwa yang menetap). Puasa menjadi latihan untuk melemahkan dominasi hawa nafsu, sehingga anak terbiasa dengan kesederhanaan dan kesabaran. Ibnul Qayyim Al-Jauziyyah juga menekankan bahwa pendidikan akhlak harus dimulai sejak dini karena jiwa anak masih lentur dan mudah dibentuk.

Saya pun bertanya kepada diri sendiri, lalu apa fungsi pendidikan puasa bagi perkembangan anak? Saya pun berselancar ke samudera maya untuk bisa menjawab pertanyaan saya ini. Saya mendapatkan beberapa jawaban ini.

Fungsi pembentukan pengendalian diri (Self-Regulation): Puasa melatih anak untuk menunda keinginan. Keinginan terhadap hal hal yang bernuansa negatif. Dalam psikologi modern, kemampuan delay of gratification berkaitan erat dengan perkembangan kedisiplinan dan kecerdasan emosional. Dalam perspektif Islam, pengendalian diri ini berkaitan dengan tujuan puasa: taqwa. Rani masuk ke ruangan periksa dengan menggandeng ibunya dan tanpa pegang gadget. Inilah fungsi pendidikan (dini) bagi perkembangan Rani.

Pendidikan empati sosial. Ketika anak merasakan lapar, ia mulai memahami kondisi orang lain yang kurang mampu. Ini selaras dengan nilai zakat dan sedekah yang menumbuhkan solidaritas sosial.

Pembentukan identitas religius. Melatih anak berpuasa membuat ibadah menjadi bagian alami dari identitasnya. Kebiasaan yang ditanam sejak kecil cenderung menjadi karakter permanen saat dewasa.

Suasana sedikit hening, maka saya nyeloteh saja, “Hebat ya Rani…. 

Dia diam tak berkomentar.

“Terus nanti sesudah buka jam 12 siang ini, puasanya dilanjutin sampai sore nggak?” lanjut saya.

“Iya.. sampai Maghrib,” jawab Rani.

Saya terdiam, dan tak ingin bertanya lebih lanjut.

Mendidik anak berpuasa sejak dini ini sesuai dengan Al-Qur`an, Hadis, dan pemikiran ulama. Puasa bukan sekadar kewajiban ritual, tetapi sarana pendidikan yang membentuk pengendalian diri, empati sosial, dan identitas spiritual. Dengan pendekatan bertahap dan penuh kasih sayang, latihan puasa dapat menjadi fondasi penting dalam membangun karakter generasi Muslim yang seimbang secara spiritual dan sosial.

Semoga nantinya akan makin banyak Rani-Rani yang lain, yang muncul satu persatu, yang memulai pendidikan budi pekerti sejak dini.

R8