Ngidulfitri

Tidak ada kemampuan pada manusia untuk sampai, tetapi wajib ada padanya perjuangan untuk menuju.—Emha Ainun Nadjib
Dalam bahasa Jawa, awalan “ng-“ punya fungsi yang penting dalam percakapan sehari-hari. “Ng-“ mengubah “keberadaan” menjadi proses yang “dikerjakan”. Misalnya kata “Nggawe” yang menunjukkan proses membuat dengan tangan sendiri. “Ngombe” bukan sekadar ada minuman di depan kita, tapi kita secara aktif meminumnya.
Demikian juga “ngamuk”, “ngampleng”, “ngambung”, “ngantuk”, “ngomel”, “ngaji”, dan seterusnya.
“Ngidulfitri” juga mengalami pembaruan makna yang sama. Idul Fitri awalnya adalah hari, tanggal, peristiwa yang datang dan pergi setiap tahun, bergeser menjadi satu aktivitas yang disadari, dikerjakan, diperjuangkan, dan tidak bisa diwakilkan atau diwakili oleh siapa pun.
Ngidulfitri merupakan upaya memproses, memperjuangkan, mengupayakan, mengkhalifahi diri menuju keadaan fitri.
Pohon kelapa tidak membutuhkan ngidulfitri. Malaikat tidak mengalami ngidulfitri. Ayam tidak tahu menahu soal ngidulfitri.
Pisang tidak perlu ngidulfitri untuk menjadi pisang yang sejati, sebab “dari sononya” pisang telah menerima titah taslim untuk tidak menjadi selain pisang. Ia tidak berubah atau mengubah dirinya menjadi durian atau kambing.
Yang ngidulfitri hanya manusia karena selain menjadi “makhluk kemungkinan”, manusia diberi kemampuan untuk memilih arah, mengubah diri, dan menanggung konsekuensi dari pilihannya.
Di dalam awalan “Ng-“ pada ngidulfiri tersimpan seluruh amanah kemanusiaan dan penghambaan. Proses itu tidak berhenti pada tindakan semata, tetapi juga mengarah pada tujuan yang paling mendasar, yaitu kembali kepada keadaan asal diri manusia.
Cermin yang Tidak Rusak, tapi Berdebu
“Fitri” berakar dari “fithrah”(Q.S. Ar Rum: 30). Dan “fithrah” dalam tradisi Islam bukan sekadar “suci” dalam pengertian bersih seperti baju yang baru dicuci. Fithrah adalah kondisi asal manusia—lapisan diri yang paling murni, yang dihadirkan sejak sebelum kita lahir, sebelum kita punya nama, sebelum kita mengenal konsep negara, sebelum dunia mengajari kita cara berpura-pura.
Ibaratnya, fitrah itu seperti cermin. Ia tidak pernah benar-benar rusak. Yang terjadi adalah cermin yang tertutup debu: debu ego, debu luka lama, debu keras kepala, debu kebiasaan yang terlanjur mengeras, debu dosa yang menebal karena tidak dibersihkan.
Maka “ngidulfitri” dalam pengertian ini tidak tentang mencari atau menciptakan model cermin yang baru. Tidak pula tentang menjadi versi makhluk yang berbeda sama sekali.
Jadi, Idul fithrah itu satu tapi tak terhitung jumlahnya, sebagaimana ia tak terhitung jumlahnya tapi hanya satu.
Fithrah yang satu itu memang hanya satu: satu asal, satu sumber, satu arah, satu Sang Maha Suci yang menjadi arah dan tujuan semua perjalanan. Tapi karena Allah memercikkan menjadi “seribu diri” yang berbeda-beda, maka setiap manusia menempuh proses ngidulfitri-nya sendiri dan tidak bisa disamakan begitu saja dengan proses orang lain.
Tidak ada dua orang yang persis sama komposisi hidupnya. Lukanya berbeda, ujian hidupnya berbeda, respons pikiran dan perasaannya berbeda, dan debu yang menutupi cermin mereka pun berbeda. Maka tidak ada satu pun model ngidulfitri yang berlaku sama untuk semua orang.
Orang yang membatasi versi ngidulfitri sebagaimana cara yang dia tempuh sesungguhnya sedang menampilkan kekerdilannya sendiri.
Sebaliknya, menghormati orang lain bersama dinamika perjuangannya mengerjakan ngidulfitri merupakan sikap pengakuan terhadap keluasan, kedalaman, dan Ahadiyah Allah yang termanifestasi dalam mozaik tajali setiap manusia.
Ngidulfitri Tidak Mengenal Tanggal
Kalau ngidulfitri adalah proses dan tidak semata-mata peristiwa, maka ia tidak terikat pada 1 Syawal. Ia bisa terjadi kapan saja di mana saja. Momen itu berlangsung ketika seseorang akhirnya memutuskan berhenti membohongi dirinya sendiri. Ketika pada detik tertentu seseorang memaafkan saudaranya. Ketika seseorang sadar bahwa ia sudah lama berjalan ke arah yang salah dan memilih untuk berbalik.
Setiap momen kesadaran yang sungguh-sungguh menghadapkan diri kepada kesejatian adalah ngidulfitri. Ketika seseorang berani melepaskan apa yang selama ini dipeluknya erat, di situlah proses itu berlangsung.
Ada kalanya ngidulfitri hadir sebagai rasa sakit saat mengelupas topeng pencitraan yang telah lama menempel. Dan setiap laku kecil yang membawa diri satu langkah lebih dekat menuju fitrah—betapa pun sunyi dan tak terlihat—itulah ngidulfitri.
Ketika Hari Raya Hanya Tinggal Kemeriahan
Ketika Idul Fitri hanya menjadi hari libur, baju baru, foto keluarga, dan kemacetan mudik, ketika semua orang bersuka cita tapi tidak satu pun yang sungguh-sungguh bergerak lebih dekat ke fitrahnya, maka yang terjadi adalah Hari Raya, Lebaran, Riyaya.
Hari Raya dan ngidulfitri bisa terjadi bersamaan. Tapi keduanya juga bisa hadir terpisah. Kita bisa ngidulfitri di tengah keseharian yang sepi tanpa ada satu pun yang tahu. Dan kita bisa merayakan Idul Fitri dengan sangat meriah tanpa satu pun momen ngidulfitri yang benar-benar terjadi.
Kita tidak mengatakan kemeriahan Lebaran itu keliru. Kendati demikian seyogianya kita tidak merasa puas hanya dengan perayaan itu. Sebab diri kita terlalu berharga untuk sekadar memoles hardware tanpa memperbarui software.
Perjalanan Pulang yang Tidak Pernah Selesai
Kalau semua lapisan itu disarikan sampai ke inti, ngidulfitri adalah hidup yang dijalani dengan kesadaran bahwa kita sedang dalam perjalanan pulang (Ilaihi rojiun).
Dan perjalanan pulang itu tidak pernah selesai. Ia tidak berhenti sebab umur. Tidak pula finis karena kematian. Hingga Allah memanggil, “Kembalilah kepada Tuhanmu dalam keadaan ridla dan diridlai” (Q.S. Al-Fajr: 27-28).
Di sanalah perjalanan ini berakhir sekaligus dimulai.
Jombang, 30 Maret 2026