Back to Ramadlan Tiap Hari

“Lik, ternyata lapar itu nikmat… bahkan sangat nikmat,“ kata Lik Guh pada suatu hari.
“Dan kelaparan itu hanyalah sesaat dan tipuan semata,“ lanjutnya.
Lik Teguh adalah teman dan guru memotret. Sosok yang memprovokasi saya untuk menjalankan tarekat Ketofastosiyah. Beliau menularkan tarekat itu karena banyak mendapatkan manfaatnya. Berat badan turun itu hanyalah bonus. Yang penting adalah sehat. Bahkan beliau bercerita kalau seseorang yang berlabel DM (Diabetes Melitus) akan sembuh tanpa obat.
Saya kemudian “nglakoni“ tarekat Ketofastosiyah itu, dan benar saya pun merasakan banyak manfaatnya. Kalau dihubungkan dengan ibadah puasa yang baru saja kita kerjakan bersama, saya merasakan kali ini ibadah puasa jauh lebih berat. Bukan dalam hal tidak makan dan minum seharian, tetapi puasa dalam hal lain yang saya rasa lebih berat, dan saya belum benar-benar berhasil berpuasa.
Saya masih belum berhasil puasa indera yang lain, telinga, mata, dan hati serta pikiran saya benar-benar mendapat ujian yang tak benar-benar mampu saya menaklukkannya.
Bahkan Cak Nun dalam suatu acara Sinau Bareng mengatakan, “Lha kalo cuma nggak makan dan nggak minum, apa bedanya kalian sama hewan?“
“Terus kemudian di akhir bulan Ramadlan, kalian semua rame-rame bikin status di WA maupun di instagram…. aku sangat sedih, karena Ramadlan sebentar lagi akan meninggalkan kami….!“
“Nbobosssssss….Kalian ini bersedih apa pura-pura bersedih?“ tanya Cak Nun.
“Kalian ini sebenarnya senang apa tidak senang dengan kehadiran Ramadlan?“
“Lha kok sebentar lagi Ramadlan berlalu, kalian bilang mari kita bergembira ria, menyambut kedatangan “Idul Fitri“!“ lanjut Cak Nun.
“Berarti kalian tidak senang dengan Ramadlan! Yaaa kan…, ngaku saja!“
“Lha iya… kalau umat manusia semua senang dan bahagia dengan kehadiran Ramadhan dengan ibadah puasanya, pasti Allah tidak akan memakai kata ”DIWAJIBKAN“ atas kamu untuk berpuasa…..“
“Berarti umat manusia tidak suka dengan adanya kewajiban ini. Dan Allah tahu betul itu.“
“Lha kok kalian pura pura sedih dengan berlalunya Ramadlan?“
“Kalau Ramadhan bisa ngomong, pasti Ramadhan akan bilang ke kalian: Taeek!“
“Selamat datang hari raya Fitri, bagi kalian, artinya adalah… pagi-pagi hari, bangun tidur kalian bisa ngopi!“
Idul fitri sendiri bermakna: Id adalah berhari raya, sedangkan fitr/iftar adalah berbuka. Artinya merayakan hari raya dengan berbuka puasa.
“Hari raya oleh mbadhog maneh…,“ kata Cak Nun.
“Hari raya dengan boleh makan lagi.“
Saya sendiri merasakan beberapa hari pasca lebaran, yang saya rasakan kok badan nggak enak ya. Begah, eneg, lemas seharian. Padahal kita diperbolehkan makan minum. Setiap sowan ke rumah simbah, bulik, budhe ataupun saudara, selalu ada suguhan makanan dan minuman di atas meja.
Bermacam-macam ragamnya. Kue kering, nastar, putri salju, roti sus, roti kacang, roti coklat, kacang mete, kacang bawang emping dan tape ketan, madu mongso, dan masih banyak ragamnya. Belum lagi kupat opor, gudheg manggar, sambel krecek, ayam lengkuas, sambel bubuk, mangut lele. Ya Allah kenapa kami berlebih-lebihan dalam merayakan akhir Ramadlan?
Bukankah Syawal ini adalah awal kita memulai ”kehidupan“ yang nyata, sesudah digembleng sebulan penuh.
Sahur dengan sedikit makan dan minuman, kemudian seharian berpuasa, berbuka dengan makanan seadanya.
Namun kenapa sekarang mengada-adakan makanan di setiap meja di setiap rumah?
Saya merenung kembali bagaimana tahun lalu Lik Plenthi menolak undangan syawalan di kantor kelurahan.
Saya terngiang kembali kata-kata Cak Nun tentang Idul Fitri, yang saya maknai sebagai “kembali“.
Kembali ke Ramadlan tiap hari.
Syawal-2 1447H

