Nasab Saja Tidak Cukup, Nasib Perlu Diaktivasi

Fahmi Agustian
Waktu baca ± 4 menit
Bagikan
  • Share on Facebook
  • Share on X
  • Send via WhatsApp

Di panggung sejarah, kita sering kali silau oleh nama besar yang mengekor di belakang nama seseorang. Kita menyebutnya Nasab. Namun, nasab sebenarnya hanyalah sebuah “arsip biologis” atau peta potensi yang bersifat statis. Ia seperti tanah yang subur; tanpa ada tangan yang mencangkul, tanpa ada keringat yang menetes untuk menanam, ia hanya akan menjadi lahan tidur yang tak menghasilkan apa pun.

Tidak ada satupun manusia di dunia ini yang bisa memilih akan lahir dari rahim perempuan yang mana? Nasab kita Adalah sesuatu yang sifatnya given. Saat kita lahir, kita menerima siapapun itu Ayah dan Ibu kita. Nasab memberikan kita titik awal, namun Nasib adalah kedaulatan yang harus kita jemput.

Modernitas sering memuja narasi self-made man, sebagai sosok yang sukses semata karena otot dan otaknya sendiri. Padahal, jika kita mengambil amsal dari pertandingan sepakbola, kita akan menemukan kebenaran yang berbeda. Seorang striker yang mencetak gol kemenangan di menit terakhir tidak pernah bekerja sendirian.

Nasib gol itu dirajut oleh visi seorang playmaker, ketangguhan bek yang mematahkan serangan lawan, hingga kesigapan kiper yang menjaga gawang tetap suci. Bahkan di balik layar, ada peran sunyi dari seorang kit man yang menyiapkan sepatu, ahli gizi yang menghitung kalori, hingga fisioterapi yang merawat otot-otot yang lelah.

Begitu jugalah nasib sebuah bangsa. Ia bukan monumen yang dibangun oleh satu orang superman, melainkan sebuah kesebelasan raksasa di mana setiap posisi, dari presiden hingga kuli pasar, memiliki urgensi yang setara. Kita sering kali hanya merayakan pencetak gol, namun lupa bahwa tanpa pelatih lemparan ke dalam atau asisten pelatih, kemenangan itu mungkin tak pernah ada. Privilege atau nasab yang baik hanyalah fasilitas latihan yang sedikit lebih mewah, namun kemenangan tetap ditentukan oleh bagaimana seluruh elemen tim mengaktivasi perannya masing-masing. Potensi seorang pemain sepakbola harus diasah, layaknya pisau tajam yang kualitas ketajamannya dihasilkan dari asahan yang berulang dan teratur. Ketajaman pisau harus diaktivasi.

Penderitaan manusia modern sering kali bersumber dari penyakit perbandingan. Kita merasa inferior karena tidak memiliki nasab yang berkilau, atau merasa superior karena memegang jabatan yang tinggi. Dalam sebuah tulisan DAUR I – Apa Yang Perlu Direnungi Dari Nasib, Mbah Nun mengingatkan kepada kita:

Kepiting tidak merenungi nasibnya yang tak bisa terbang. Burung elang tidak menyesali nasibnya kok tidak dijadikan ayam yang disantapnya. Panas tidak mencemburui dingin. Bumi tidak dengki kepada langit. Malaikat tidak meratapi eksistensinya yang tanpa nafsu, meskipun juga tidak perlu kasihan kepada manusia yang kebanyakan di antara mereka hancur lebur hidupnya oleh nafsu.

Bahkan yang kaya tidak ada alasan untuk menyimpulkan ia lebih sukses dibanding yang miskin. Sebab hidup di dunia tidak ada kaitannya dengan pencapaian dunia. Yang berkarier memuncak dengan jabatan, pangkat, kemasyhuran dan harta benda, tidak perlu bodoh untuk menganggap yang lain yang tidak mencapai itu semua berada di bawahnya, di belakangnya atau di tempat lain yang marginal.

Jika kesalehan hanya dipentaskan untuk mengejar status sosial, maka ia telah kehilangan ruhnya. Jika kekayaan dianggap sebagai puncak keberhasilan hidup, maka ia telah merosot derajatnya menjadi sekadar tumpukan benda mati. Yang perlu direnungi bukanlah posisi kita di atas atau di bawah orang lain, melainkan sejauh mana kita mengolah “perangkat” yang Tuhan titipkan kepada kita.

Secara hakikat, Tuhan adalah “Produsen Takdir” yang menjalankan pekerjaan-Nya atas angin, embun, hingga galaksi. Namun bagi manusia, Tuhan menitipkan wilayah prerogatif untuk ikut memproduksi nasibnya sendiri melalui proses “Aktivasi”. Sebagaimana kaidah Laa yughoyyiru maa biqoumin hatta yughoyyiru maa bianfusihim, Tuhan tidak akan mengubah keadaan suatu kaum sebelum mereka mengubah apa yang ada pada diri mereka sendiri. Ayat ini sangat tegas bahwa manusia sejatinya memiliki sedikit hak prerogatif untuk melakukan aktivasi pada nasibnya sendiri.

Aktivasi nasib bukan berarti semua orang harus menjadi nomor satu secara duniawi. Aktivasi adalah soal utilitas dan kompatibilitas. Apakah harta yang kita miliki telah diolah menjadi manfaat? Apakah kecerdasan kita telah digunakan untuk memecahkan kebuntuan sosial? Ataukah kita hanya menjadi pemilik nama besar yang hampa karya? Bahkan mungkin, shalat khusyu dan akhlak baik kita gunakan hanya untuk citra keduniaan?

Seringkali kita mengkerdilkan peran kita di tempat kita berpijak. Kita terkadang merasa inferior saat berhadapan dengan orang lain yang kita pandang lebih sukses dari kita. Kita seperti lebih terlatih untuk terus berendah diri, selalu meyakini bahwa pencapaian orang lain lebih baik dari apa yang kita capai. Kita semakin tidak menyadari bahwa pada setiap perjalanan manusia pasti memiliki check point-nya masing-masing.

Namun, sekeras apa pun aktivasi yang kita lakukan, manusia tetaplah makhluk yang terbatas. Di sinilah pentingnya Rida. Rida adalah menerima apa pun ketetapan akhir dari Tuhan setelah seluruh peluh kita teteskan. Rida bukan berarti menyerah, melainkan sebuah sikap mental yang menyadari bahwa sekuat apa pun strategi kesebelasan kita di lapangan, skor akhir tetaplah hak prerogatif Sang Pemilik Waktu.

Privilege yang kita terima, entah itu kemudahan akses atau fasilitas ilahi lainnya, sebenarnya adalah beban tanggung jawab yang dibayar di muka. Semakin besar kemudahannya, semakin besar pula tagihan kontribusi yang diminta oleh sejarah.

Seseorang yang dianugerahi kepandaian ilmu, ada tanggung jawab besar yang juga diemban. Dengan ilmu itu, ia bertanggung jawab untuk menghadirkan manfaat bagi orang-orang di sekitarnya. Begitu juga dengan orang alim, yang memiliki kesadaran kesalehan yang tinggi, yang mampu memahami kalam ilahi, ia bertanggung jawab untuk memahamkan apa yang ia pelajari untuk menjadi makna dan manfaat bagi orang lain.

Pada akhirnya, tidak peduli apakah kita seorang striker yang disorot lampu stadion atau seorang fisioterapi yang bekerja di ruang pemulihan cedera, yang paling menentukan adalah bagaimana kita mengolah jarak antara diri kita dengan Sang Pencipta. Tak peduli seberapa mentereng nasab yang kita sandang, dunia hanya akan mencatat apa yang kita aktivasi menjadi karya nyata. Sebab, nasab mungkin memberi kita identitas, namun hanya nasib yang dijemput dengan peluh yang akan memberi kita makna yang abadi.

Nasab mungkin memberi kita titik berangkat, namun hanya keringat aktivasi dan keikhlasan dalam peran kolektif yang akan mengantarkan kita pada garis finis yang hakiki. Karena manusia tidak akan berjalan sendirian. You’ll Never Walk Alone! #YNWA

Lainnya

Refleksi Pandemi Buat Negeri

Refleksi Pandemi Buat Negeri

Bicara tentang Covid-19, rasanya sudah tidak ada lagi orang yang hidup di masa sekarang yang tidak mengenalnya.

dr. Ade Hashman, Sp. An.
Ade Hashman

Topik