Politik yang Menghilang

Ada sebuah zaman ketika orang percaya politik itu seperti panggung teater.
Lampu dinyalakan, tirai dibuka, dan para tokoh—liberal, sosialis, konservatif—masuk satu per satu dengan kostum ideologi yang jelas. Mereka berdebat, berseteru, lalu sejarah mencatat siapa yang menang dan siapa yang kalah.
Namun panggung itu kini terasa sunyi. Bukan karena para aktor pergi, melainkan karena panggungnya sendiri perlahan lenyap. Pada tahun 1989, tembok di sebuah kota bernama Berlin runtuh. Dunia menyaksikannya seperti menyaksikan adegan terakhir sebuah drama panjang: tirai jatuh, penonton berdiri, dan seorang filsuf Amerika, Francis Fukuyama, menulis sebuah esai yang terkenal—The End of History?
Ia tidak sedang meramalkan kiamat. Ia hanya menduga bahwa sejarah ideologi besar telah selesai: liberalisme menang, dan tidak ada lagi lawan yang berarti. Seolah-olah manusia akhirnya menemukan bentuk politik terakhir, seperti menemukan bentuk roda yang sempurna.
Tapi sejarah, tidak pernah berhenti bergerak. Ia tidak mengenal kata “final.” Dan memang, kemenangan seringkali menyimpan bibit kegelisahan. Liberalisme—yang dulu lahir sebagai pemberontakan terhadap raja dan gereja—perlahan berubah menjadi sesuatu yang lebih sunyi, lebih halus, dan lebih sulit dilawan. Ia tidak lagi berdiri sebagai ideologi yang berdebat di parlemen; ia meresap ke dalam kebiasaan, ke dalam selera, bahkan ke dalam cara kita memahami diri sendiri.
Kita memilih pekerjaan, pasangan, dan identitas seperti memilih barang di etalase. Pasar menjadi bahasa moral. Kebebasan menjadi ukuran nilai manusia. Di titik itu, politik berhenti menjadi pertarungan gagasan. Ia berubah menjadi manajemen pilihan.
Filsuf Prancis, Michel Foucault, menyebut perubahan ini sebagai biopolitik—politik yang tidak lagi mengatur negara, melainkan mengatur kehidupan: tubuh, kebiasaan, kesehatan, bahkan mimpi. Negara tidak lagi memerintah dengan pedang. Ia memerintah dengan statistik.
Di sisi lain, ada kegelisahan yang tumbuh dari pinggiran. Berbicara tentang “periphery against the centre”—pinggiran melawan pusat. Ia melihat globalisasi sebagai arus besar yang meratakan dunia, seperti banjir yang menghapus jejak-jejak desa.
Dalam banjir itu, identitas menjadi rapuh. Bahasa menjadi dekorasi. Tradisi menjadi museum. Maka muncul kembali nasionalisme, konservatisme, bahkan nostalgia terhadap kerajaan dan otoritas. Bukan karena manusia tiba-tiba mencintai masa lalu, tetapi karena mereka takut kehilangan rumah.
Sejarah sering bergerak bukan oleh harapan, melainkan oleh rasa takut. Namun yang paling aneh justru terjadi setelah kemenangan. Ketika semua ideologi lain tampak kalah, politik sendiri ikut menghilang.
Memang politik lahir dari pembedaan antara kawan dan lawan. Tanpa musuh, politik kehilangan bentuknya. Dalam dunia yang mengaku telah mencapai konsensus global, konflik ideologi dianggap usang. Perdebatan diganti dengan prosedur. Moral diganti dengan regulasi. Politik menjadi administrasi. Dan manusia—perlahan—menjadi konsumen.
Di abad ke-21, kita hidup dalam paradoks: politik ada di mana-mana, tetapi hampir tidak terlihat. Ia hadir dalam algoritma media sosial. Dalam harga pangan. Dalam kurikulum sekolah. Dalam pilihan yang tampak pribadi tetapi sebenarnya struktural.
Kita merasa bebas, tetapi bergerak dalam jalur yang sudah digambar sebelumnya. Seperti ikan yang berenang di air, kita tidak menyadari medium yang mengurung kita. Karena itu, sebagian pemikir mencoba membayangkan sesuatu yang baru. Seorang filsuf Rusia, Aleksandr Dugin, menyebutnya Teori Politik Keempat—sebuah upaya untuk melampaui tiga ideologi besar abad modern: liberalisme, komunisme, dan fasisme.
Ia bukan nostalgia, dan bukan pula revolusi klasik. Ia lebih mirip pencarian bahasa baru, ketika bahasa lama tidak lagi cukup. Seperti penyair yang kehabisan kata, manusia modern mencoba menamai kembali dunia.
Tetapi mungkin pertanyaan yang lebih penting bukanlah: ideologi apa yang akan menang? Melainkan: apakah politik masih mungkin? Di zaman ketika keputusan besar ditentukan oleh pasar, teknologi, dan jaringan global, politik sering terasa seperti bayangan—ada bentuknya, tetapi tidak bisa disentuh.
Dan di tengah kebingungan itu, manusia kembali pada pertanyaan paling sederhana: bagaimana hidup bersama? Pertanyaan itu pernah diajukan oleh Aristotle lebih dari dua ribu tahun lalu. Ia menyebut manusia sebagai zoon politikon—makhluk yang hidup dalam polis, dalam kebersamaan.
Barangkali politik tidak pernah benar-benar hilang. Ia hanya berubah tempat. Bukan lagi di istana atau parlemen, melainkan di dapur, di pasar, di ruang kelas, di komunitas kecil yang mencoba bertahan dari arus besar. Di sana, politik kembali menjadi sesuatu yang sederhana: usaha manusia untuk tidak hidup sendirian. Dan mungkin—justru di pinggiran itulah—politik menemukan dirinya kembali.