Puasa dan Nikmat Shalat

dr. Eddy Supriyadi, SpA(K), Ph.D.
Waktu baca ± 3 menit
Bagikan
  • Share on Facebook
  • Share on X
  • Send via WhatsApp

Semalam saya tidur selepas Maghrib. Berbuka puasa cukup dengan segelas teh saja. Alasan tidur awal sederhana saja: Capek! Hehe…

Ba’da Ashar kemarin saya pergi untuk cukur rambut. Sebentar saja sebenarnya. Tetapi, saya tergoda untuk klinong-klinong sore hari. Mumpung matahari lagi bersembunyi di balik awan tebal. 

Setelah saya cek jas hujan tidak ketinggalan, saya beranikan diri dan memantapkan hati untuk motoran sore hari. 

Saya susur selokan Mataram ke arah barat mulai dari tempat saya cukur rambut. Hampir sepanjang pinggir selokan muncul warung-warung baru yang menyediakan makanan buat berbuka puasa. 

Paling hebat adalah sepanjang selokan Mataram antara jalan Palagan sampai jalan Magelang. Pedagang dadakan ini muncul sporadis dan memenuhi hampir separo jalan, sehingga arus lalu lintas agak tersendat. 

Saya susur terus ke arah barat sampai akhirnya saya harus mengeluarkan jas hujan. Karena tetiba hujan turun disertai angin. Saya parkir sepeda motor persis di bawah jalan tol yang belum jadi, dan memakai jas hujan. Pelan-pelan naik  motor sampai akhirnya saya putuskan untuk putar balik. Dan kehujanan sepanjang jalan. Jalan pelan dengan sepenuh kewaspadaan agar tidak menabrak atau tertabrak. Jalan licin dan mulai gelap menuntut tubuh tetap harus waspada dan fokus. 

Sampai di rumah tepat lima menit sebelum adzan Maghrib berkumandang. Saya siapkan perangkat berbuka saya berupa secangkir teh, kemudian shalat Maghrib dan ngglethak. Alangkah nikmatnya. Saya terlelap dan baru terbangun ketika jam setengah satu. Agak kaget sih. Tapi saya buka mata perlahan dan beranjak ambil wudhu, shalat Isya dan lanjut Tarawih.

Nah, di sini saya merasakan perbedaan sangat nyata, ketika saya bandingkan dengan shalat Isya’ dan Tarawih beberapa malam sebelumnya dengan malam ini.

Malam ini begitu tenang, nikmat, dalam kesunyian berbicara dengan Sang Pencipta. Sebuah rasa yang tak bisa saya tulis di sini saking nikmatnya. Apa sih yang menyebabkan adanya perbedaan ini?

Malam ini saya berbuka dengan secangkir teh dan kemudian menjalankan shalat malam ketika perut benar-benar kosong. Sedangkan hari-hari kemarin saya lakukan shalat Tarawih persis sesudah shalat Isya.

Ternyata memang sangat signifikan perbedaannya. Bagaimana tinjauan biologisnya? 

Saat berbuka dengan porsi kecil sesuai sunnah Nabi, seperti kurma dan air, gula darah naik secara perlahan sehingga tubuh belum masuk ke mode pencernaan berat. Sangat baik kalau dilanjutkan dengan shalat Maghrib. Kondisi ini membuat shalat maghrib terasa ringan dan fokus tetap terjaga. 

Sebaliknya, jika langsung makan besar, insulin meningkat dan aliran darah lebih banyak menuju sistem pencernaan, yang dapat menyebabkan kantuk sehingga akan mengakibatkan berkurangnya kekhusyukan dalam shalat, karena perut penuh, kadar glukosa naik tajam menjadikan kita malas serta mengantuk.

Shalat Tarawih

Sholat tarawih dipengaruhi oleh pola makan setelah berbuka. Jika makan secukupnya, energi tetap stabil dan gerakan panjang terasa lebih ringan. Namun, jika makan terlalu banyak, tubuh cenderung masuk ke mode istirahat sehingga mudah mengantuk saat berdiri lama. 

Secara biologis, insulin yang tinggi dan efek relaksasi pencernaan dapat mengurangi fokus mental selama Tarawih. Di sini sebenarnya terletak tantangan dan esensi puasa. Tidak sekadar menggeser pola makan, tetapi juga mengatur volume dan jenis makanannya. Makanan yang ringan di perut akan memberi efek energi yang stabil. Otak masih waspada serta gerakan shalat masih terasa ringan. 

Jika kita mengkonsumsi makanan berat, perut yang kenyang mudah bikin mengantuk dan tubuh tidak fokus/menurun karena tubuh sangat ingin istirahat. Pada saat yang sama kondisi ini mengakibatkan insulin dan dopamin meningkat hingga tubuh mudah terdistraksi.

Dimensi Spiritual antara Shalat dan Puasa

Dalam pandangan ulama, puasa membantu melemahkan dorongan fisik dan meningkatkan kesadaran batin, sementara shalat mengarahkan kesadaran tersebut kepada Allah. Puasa mempersiapkan keadaan jiwa, dan shalat menyalurkan keadaan itu menjadi ibadah yang terarah. 

Dalam QS. Al-Baqarah ayat 45, Allah berfirman: “Wasta’inu bissobri wassholah“, yang artinya: “Jadikanlah sabar dan shalat sebagai penolongmu. Dan sesungguhnya (shalat) itu sungguh berat, kecuali bagi orang-orang yang khusyuk”. Ayat ini memerintahkan kita untuk meminta pertolongan kepada Allah melalui kesabaran dan shalat saat menghadapi kesulitan. Sebagian berpendapat bahwa ‘sabar’ di sini diartikan sebagai ‘puasa’.

Keseimbangan antara keduanya membantu seseorang mencapai kekhusyukan yang lebih dalam. Sepanjang hari, hubungan puasa dan shalat terlihat dalam perubahan metabolisme tubuh, fokus mental, dan kondisi spiritual. 

Subuh cenderung menjadi waktu paling fokus, siang hari menjadi latihan kesabaran, Maghrib adalah fase transisi energi, dan Tarawih sangat dipengaruhi oleh pola makan setelah berbuka. Menjaga porsi makan yang seimbang membantu tubuh tetap ringan sehingga ibadah shalat dapat dilakukan dengan lebih khusyuk.

R51447H