Puasa dan Kanker

dr. Eddy Supriyadi, SpA(K), Ph.D.
Waktu baca ± 3 menit
Bagikan
  • Share on Facebook
  • Share on X
  • Send via WhatsApp

Pembicaraan dengan Huda, bocah dari daerah Batang, Jawa Tengah, kemarin masih menyisakan PR bagi saya. Apakah puasa bisa menyembuhkan? Terutama untuk penyakit kanker.

Kalau ditinjau dari patofisiologi kanker, kanker adalah sebuah ‘anomali’ dari sel. Kenapa anomali? Pada sel normal, antara lahir dan pertumbuhan sel dengan kematian sel yang terprogram berlangsung seimbang. Pada kanker hal ini tidak terjadi.

Sel kanker tumbuh tak terkendali. Ibarat mobil yang jalan dengan gas pol, tetapi rem blong, dan sel kanker rakus terhadap makanan yang dibawa aliran darah ke tubuh. Maka, yang harus dilakukan oleh tubuh secara internal adalah menyetop pertumbuhan tak terkendali ini, sehingga bisa memutus pertumbuhan yang tak terkendali ini.

Sebuah pekerjaan dan proses yang tentu tidak mudah dilakukan.

Berbicara tentang makhluk manusia, tubuh manusia dirancang untuk bertahan di setiap situasi yang ada. Ada manusia yang hidupnya di kutub, maka tubuhnya dirancang untuk bertahan di lingkungan yang sesuai dengan lingkungannya itu. Demikian pula sebaliknya bagi mereka yang hidup di gurun pasir.

Baik manusia di lingkungan dingin, panas, kering maupun basah, ada satu prinsip yang sama yaitu: kemampuan adaptasi! baik adaptasi terhadap suhu, kelembaban, maupun adaptasi terhadap lapar. Untuk urusan perut ini, pada saat makan, tubuh akan menyimpan cadangan nutrisi yang dibutuhkan untuk bertahan hidup.

Pada waktu sahur, tubuh akan menyimpan cadangan nutrisi hingga waktu maghrib atau berbuka. Untuk beraktivitas sehari-hari tubuh juga akan menggunakan kalori seperti biasanya namun pada saat berpuasa asupan makan dan minum berkurang. Maka terjadilah negative balance di tubuh. Efeknya adalah penurunan berat badan.

Tetapi, kondisi ini justru adalah salah satu manfaat puasa untuk penderita kanker. Ya, sel kanker bisa tumbuh dengan cepat bergantung dari asupan makanan. Jadi pada waktu puasa sel kanker ikut terkena imbasnya. Penurunan berat badan hanya salah satu manfaat dari puasa.

Penelitian yang dilakukan pada hewan coba baru-baru ini menunjukkan hasil adanya penurunan risiko untuk kanker atau penurunan tingkat pertumbuhan kanker. Ini manfaat puasa untuk penderita kanker yang menakjubkan. Dengan berpuasa, maka itu sama dengan memerangi sel kanker agar tidak tumbuh.

Penelitian-penelitian yang dilakukan ini menunjukkan adanya banyak manfaat puasa untuk penderita kanker. Pada saat berpuasa, terjadi beberapa hal yaitu: penurunan produksi glukosa darah, hal lain adalah sel punca dipicu untuk meregenerasi sistem kekebalan tubuh dan meningkatnya produksi sel-sel pembunuh tumor. Selain itu, obesitas yang merupakan resiko pemicu kanker juga sangat dikurangi (asal puasanya bener).

Artinya, berpuasa dapat menurunkan obesitas yang berimbas mencegah terjadinya kanker. Tetapi berapa persen yang puasanya bener? Puasa yang tidak sekedar menggeser jam makan, tetapi benar-benar berpuasa sebagaimana Rasul berpuasa.

Ada sebuah artikel menarik yang ditulis oleh dr. Andri dan dr. Indra Wijaya Sp.PD-KHOM dari RSUP dr. Hasan Sadikin Bandung yang mendapatkan beberapa penelitian tentang puasa, yaitu bahwa puasa memiliki efek yang baik pada pasien kanker.

Efek puasa pada kanker berupa adanya perubahan genetik, perubahan pada beberapa metabolisme dalam tubuh seperti terdapatnya perubahan pada Insulin Growth Factor-1 (IGF-1) dan enzim lain yang dapat meningkatkan efektivitas kemoterapi. Di lain pihak, puasa juga bisa mengurangi efek samping obat dan mengurangi masalah resistensi terhadap obat.

Selain itu juga didapatkan bahwa puasa berdampak terhadap pembaharuan sel punca dan sistem kekebalan tubuh, dan meningkatkan sensitivitas sel terhadap radioterapi sehingga meningkatkan efektivitas radioterapi. Ini merupakan sebahagian dari manfaat puasa bagi penderia kanker. Hal ini sangat bermanfaat bagi penderita kanker yang membutuhkan terapi sinar (radioterapi).

Di lain hal, puasa juga bisa menjadi berbahaya, misalnya di mana ada kondisi yang bernama TLS (tumor lysys Syndrome). TLS adalah kondisi di mana sel kanker hancur sangat cepat, sehingga produk hancurnya sel tumor menjadi sampah beracun bagi organ organ vital, seperti, ginjal, jantung dan otak.

Kondisi ini merupakan suatu kondisi kegawatdaruratan pada pasien kanker, dan dalam penanganannya pasien harus mengkonsumsi cairan yang banyak. Selain itu pasien yang menggunakan obat-obatan yang dapat mengganggu ginjal ataupun obat-obatan yang mengakibatkan diare dan muntah sehingga pasien rentan mengalami dehidrasi. Kondisi-kondisi tertentu seperti ini yang harus menjadi perhatian kita bersama ya dokternya, ya pasiennya, dan keluarganya juga.

Namun penderita kanker yang stabil dan tidak sedang mengalami komplikasi apapun, seperti Huda, anak dari mBatang, maka masih memungkinkan untuk ikut menjalani ibadah puasa.

Manfaat lain juga ditunjukkan melalui penelitian bahwa berpuasa selama beberapa bulan (9-12 jam sehari) telah menurunkan faktor risiko kanker. Sebuah penelitian lain di tahun 2016 menunjukkan bahwa kombinasi puasa dan kemoterapi bisa memperlambat perkembangan kanker payudara dan kanker kulit. Selain itu, puasa juga membuat sel kanker sensitif terhadap kemoterapi sekaligus melindungi sel normal, dan mendukung produksi sel induk.

Jadi, Huda…, tetaplah berpuasa hingga nanti kamu bertemu dengan Hari Raya Kemenangan. Kemenangan melawan egomu, dan yang penting adalah,

Kemenangan melawan penyakitmu.

Dengan izin Allah!

R10