Menemukan Siapa Diri Kita dalam Shalat dan Puasa

dr. Eddy Supriyadi, SpA(K), Ph.D.
Waktu baca ± 3 menit
Bagikan
  • Share on Facebook
  • Share on X
  • Send via WhatsApp

Apa yang membedakan antara puasa dengan tidak puasa?

Pertanyaan ini bisa menciptakan puluhan, ratusan, bahkan ribuan jawaban. Tergantung dari sisi mana kita meninjaunya. Sisi biologis, psikologis, agama, perilaku, ekonomi, budaya, politik, dan ratusan sisi lainnya.

Demikian pula tinjauan terhadap shalat. Gerakan shalat, aspek psikologis yang dipengaruhinya, aspek sosial, aspek budaya dan lain-lain aspek sebagaimana tinjauan terhadap puasa.

Akan asyik lagi kalau kita meninjau apa pengaruh (gerakan) shalat terhadap fungsi beberapa organ tubuh manusia, terutama pada saat puasa.

Gerakan fisik dalam ibadah shalat seperti berdiri, rukuk, sujud, dan duduk tidak sekadar gerakan tanpa maksud. Gerakan-gerakan ini tidak hanya memiliki makna spiritual, tetapi juga membawa manfaat fisiologis bagi tubuh dan otak.

Gerakan shalat secara rinci (seperti 13 rukun shalat) tidak dijelaskan satu per satu di dalam Al-Qur’an, namun prinsip utamanya, terutama ruku’ dan sujud, diperintahkan secara jelas. Dasar gerakan meliputi berdiri [HR. Bukhari 1117], ruku’ (QS. Al-Baqarah: 43), sujud [HR. Bukhari & Muslim], dan tertib (urutan). Pelaksanaan rincinya merujuk pada Sunnah Rasulullah SAW.

Saat puasa, tubuh berada dalam kondisi hemat energi, sehingga perubahan posisi tubuh dalam shalat dapat membantu menjaga kestabilan aliran darah, pernapasan, dan sistem saraf. Hal ini menjadikan shalat sebagai aktivitas yang mendukung keseimbangan mental dan fisik.

Otak

Dalam shalat, tubuh bergerak dari berdiri ke rukuk, lalu sujud dan duduk. Perubahan posisi ini menciptakan efek seperti pompa alami pada pembuluh darah. Pada waktu takbiratul ihram, tubuh dalam kondisi tegak, mengangkat tangan sejajar telinga kemudian melipat tangan di dada. Gerakan ini memperlancar aliran darah dan getah bening. Tubuh tegak, memperkuat otot punggung, bahu dan lengan.

Posisi berdiri dalam shalat mengaktifkan otot postural dan menjaga sirkulasi darah tetap lancar. Saat puasa, tubuh cenderung ingin menghemat energi dan mudah merasa mengantuk jika terlalu lama duduk. Berdiri membantu meningkatkan kewaspadaan otak tanpa menguras tenaga secara berlebihan

Rukuk akan menjaga kesempurnaan posisi dan fungsi tulang belakang. Lewat gerakan ini, kelenturan otot-otot punggung, tangan, paha, lutut dan betis, serta otot dasar panggul berposisi untuk kesempurnaan rukuk. Sehingga organ di dalam ruang panggul akan merasakan efeknya. Kemih akan terlatih bekerja optimal.

Saat sujud, posisi kepala lebih rendah dari jantung sehingga aliran darah ke otak meningkat sementara. Gerakan dan posisi ini membantu suplai oksigen dan nutrisi tetap baik, terutama ketika tubuh sedang berpuasa dan tekanan darah cenderung lebih rendah. Posisi sujud memberikan tekanan ringan pada area dahi dan wajah yang dapat menstimulasi saraf tertentu.

Kombinasi posisi kepala yang rendah dan napas yang tenang membantu tubuh masuk ke kondisi relaksasi mendalam. Beberapa teori neurologi menyebutkan bahwa kondisi ini dapat menurunkan aktivitas pusat stres di otak dan meningkatkan rasa tenang.

Pernapasan

Gerakan shalat yang perlahan dan berirama membantu menyelaraskan napas serta mengaktifkan sistem saraf parasimpatis yang menenangkan. Detak jantung menjadi lebih stabil, napas lebih dalam, dan hormon stres berkurang. Kondisi ini mendukung fokus mental dan kestabilan emosi selama berpuasa.

WS Rendra (alm.) penyair besar Indonesia yang dijuluki Sang Burung Merak, pernah bergumam kepada Cak Nun bahwa di dalam gerakan shalat dia menemukan situasi meditasi yang paling ampuh yang ditemui, bahkan gerakan ini lebih ampuh dari gerakan-gerakan dalam Yoga.

Mengapa Efeknya Lebih Terasa Saat Puasa?

Saat puasa, gula darah lebih stabil dan tubuh menjadi lebih sensitif terhadap perubahan sirkulasi. Gerakan shalat bertindak seperti olahraga ringan yang menjaga aliran darah tanpa membuat tubuh lelah. Karena itu banyak orang merasa shalat justru menyegarkan dan membantu menjaga kejernihan pikiran selama puasa.

Lalu, apakah shalat dan puasa berhubungan?

Mungkin jawabannya bukan pada hukum fikih semata, tetapi pada pengalaman spiritual. Shalat mengingatkan kita siapa kita di hadapan Allah, sedangkan puasa mengingatkan kita siapa kita di hadapan diri sendiri.

Shalat menarik kita ke atas menuju kepada kesadaran Ilahi. Puasa membawa kita ke dalam, menuju kesadaran batin.

Tanpa shalat, puasa bisa menjadi sekadar latihan fisik. Hanya bermakna menahan lapar dan haus. Tanpa puasa, shalat kadang menjadi rutinitas tanpa kedalaman, padahal di dalamnya terkandung makan ruhaniyyah yang sangat dalam. Keduanya seperti dua sisi dari satu perjalanan: satu menata hubungan vertikal, yang lain membersihkan ruang internal.

Gerakan fisik dalam shalat membantu kestabilan otak melalui peningkatan sirkulasi darah, penyelarasan napas, dan keseimbangan sistem saraf. Dalam kondisi puasa, manfaat ini terasa lebih kuat karena tubuh sedang beradaptasi dengan perubahan energi. Dengan demikian, shalat bukan hanya ibadah spiritual, tetapi juga aktivitas yang secara fisiologis mendukung kesehatan mental dan keseimbangan tubuh.

R61447H