Puasa: Menjernihkan Nurani Demokrasi

Harianto
Waktu baca ± 2 menit
Bagikan
  • Share on Facebook
  • Share on X
  • Send via WhatsApp

Partai politik senantiasa membutuhkan rakyat yang tolol.”
— Tan Malaka

Puasa mengajarkan manusia menahan lapar dan dahaga. Namun hakikat puasa bukan sekadar menahan perut, melainkan menahan kerakusan kekuasaan, keserakahan harta, dan kebutaan nurani.

Dalam kehidupan politik kita, aturan kerap dijadikan tameng pembenaran. Sesuatu dianggap sah karena “sesuai ketentuan yang berlaku”, meski rasa keadilan publik terluka. Ketentuan dipatuhi secara formal, tetapi nurani dilanggar secara moral.

Fenomena kembalinya figur publik ke kursi Parlemen—setelah didepak oleh gelombang demonstrasi—melalui celah prosedural memperlihatkan satu kenyataan: jarak antara suara rakyat dan telinga kekuasaan bukan sekadar jauh, melainkan kehilangan empati.

Kekuasaan sejati bukan dominasi, melainkan amanah. Jabatan bukan kehormatan, tetapi beban pertanggungjawaban di hadapan Tuhan dan sejarah.

Ketika parlemen berubah menjadi stempel kepentingan elit dan partai menjadi pabrik kebijakan pesanan sponsor, politik kehilangan ruhnya. Ia tak lagi menjadi sarana kemaslahatan, melainkan transaksi kepentingan.

Namun kita tidak bisa hanya menyalahkan elite. Pertanyaan yang lebih jujur adalah: apakah rakyat juga telah terbiasa memaafkan pengkhianatan, melupakan kezaliman, dan menukar masa depan dengan imbalan sesaat?

Kemiskinan struktural dan ketimpangan pendidikan membuat suara hati mudah dibeli. Selembar uang kecil menjelang pemilu dapat mengalahkan kesadaran politik yang matang. Ini bukan sekadar kesalahan individu, melainkan tanda sistem yang membiarkan kebodohan tetap lestari.

Dalam perspektif spiritual, kebodohan bukan sekadar ketiadaan ilmu, tetapi matinya kesadaran. Ketika kesadaran mati, manusia mudah diperalat. Ketika kesadaran hidup, manusia sulit diperbudak.

Puasa melatih manusia menunda keinginan. Zakat melatih melawan keserakahan. Ibadah malam melatih merendahkan ego. Bacaan wahyu melatih mendengar kebenaran.

Jika latihan ini berhasil, masyarakat akan menjadi sulit dibeli, sulit ditipu, dan sulit ditundukkan oleh manipulasi kekuasaan.

Negeri ini tidak kekurangan pemimpin, tetapi kekurangan kesadaran kolektif.

Perubahan tidak selalu dimulai dari istana. Ia dimulai dari hati manusia yang berani menjaga nurani.[]

Harianto
Redaktur Maiyah. Inisiator Gerbang. Magister Studi Islam UII Yogyakarta, sehari-hari bekerja sebagai Graphic Designer.