Lailatul Qadar: Min Haitsu La Yahtasib atau Ujian Kepekaan Hati?

Fahmi Agustian
Waktu baca ± 4 menit
Bagikan
  • Share on Facebook
  • Share on X
  • Send via WhatsApp

Selama ini, kita sering memperlakukan Lailatul Qadar layaknya sebuah “misteri tanggal cantik”. Malam-malam ganjil di sepuluh hari terakhir Ramadlan mendadak menjadi primadona bagi kita—yang terkadang sedang berpura-pura hendak melepas Ramadlan dengan kesedihan. Kita mendadak jadi atlet ibadah, berjaga semalam suntuk dengan tasbih yang menari di jari-jemari, berharap menjadi pemenang “undian spiritual” yang pahalanya setara seribu bulan.

Tidak ada yang salah dengan semangat itu. Namun, pernahkah kita berpikir: apakah Allah memang sesempit kalender masehi atau hijriah? Masuk akalkah dari total dua belas bulan dalam setahun, malam istimewa itu hanya disekat dalam hitungan jari di satu bulan saja?

Lailatul Qadar menjadi sakral karena di malam itulah Al-Qur`an diturunkan. Selama dua puluh tiga tahun masa dakwah Rasulullah Saw, pada malam-malam penuh kemuliaan tersebut, Jibril hadir membawa wahyu—mentransformasikan informasi langit untuk diinstalasikan ke bumi.

Langit yang Selalu Menyapa Bumi

Dalam surat Al-Qadr, kita membaca: “Inna anzalnahu fii lailatil qadr.” Sesungguhnya Kami menurunkannya pada malam kemuliaan.

Kita seringkali memahami bahwa ayat ini hanya dianggap sebagai catatan sejarah tentang peristiwa 14 abad silam. Padahal, Al-Qur`an adalah Kalamullah yang sifatnya abadi. Ia tidak hanya turun sekali lalu selesai menjadi artefak. Secara esensial, peristiwa “Langit menyapa Bumi” ini terjadi setiap saat. Persoalannya bukan pada apakah pesannya turun, tapi apakah ada bumi yang siap menerima pendaratan maknanya.

Dan yang lebih sublim lagi, apakah kita sebagai penduduk bumi yang ahsanu taqwim memiliki kesiapan dan kepekaan hati yang jernih untuk menerima pemaknaan baru dari Al-Qur`an pada setiap ayat yang kita tadabburi?

Jika Malaikat Jibril adalah personifikasi Akal Suci atau pembawa kebenaran yang menggerakkan, maka tugasnya tidak berhenti setelah mushaf Al-Qur`an lengkap. Ia tetap bekerja mengawal integritas pesan Allah agar sampai ke dalam jiwa manusia. Lailatul Qadar adalah momentum ketika frekuensi manusia akhirnya connected dengan frekuensi Ilahi tersebut.

Dalam tulisan “Tidak. Jibril Tidak Pensiun!”, Mbah Nun menegaskan:

Jibril tidak pensiun. Wahyu Allah bukan sebuah dongeng purba. Cahaya Allah tak berhenti memancar. Ilmu Tuhan terus-menerus berseliweran. Muhammad tidak mati. Sungguh tidak mati. Hanya tubuh beliau yang sudah dikuburkan—dan tubuh beliau adalah bagian paling remeh dari eksistensi kepribadiannya yang menyuluhi alam semesta manusia. Wahyu yang beliau terima dari Allah pun terus bekerja. Sudah sempurna, tetapi belum selesai karena ia akan menemukan kelahiran dan kelahirannya kembali di dalam iman dan kesadaran umatnya.

Pernyataan Mbah Nun tersebut semakin menegaskan bahwa Lailatul Qadar adalah malam istimewa yang bisa diakses oleh kita semua sepanjang kita memiliki kesiapan batin. Jibril sangat mungkin menyapa kita, jika memang kita pantas untuk disapa. Ada Misykat dalam hati yang perlu kita jaga kemurniannya, sehingga kita mampu merasakan “yakadu zaituha yudhi’u walau lam tamsashu naar”—cahaya minyaknya saja hampir-hampir menerangi meski api belum menyentuhnya—sebelum akhirnya mencapai Nuurun ’alaa Nuur.

Kesempitan yang Melapangkan

Secara etimologi, Qadr juga bisa dimaknai sebagai “kesempitan”. Konon, saking banyaknya malaikat yang turun ke bumi, suasana menjadi sesak. Namun, secara maknawi, ini adalah sebuah Kesempitan yang Melapangkan. Mbah Nun berulang kali mengingatkan kepada kita, bahwa sela-sela di antara rintik hujan justru lebih luas ruangnya dari rintik hujan itu sendiri.

Dunia yang tadinya terasa sesak oleh kerumitan hidup, tiba-tiba menjadi lapang luar biasa ketika satu titik cahaya makna masuk ke dalam hati. Momen “terangnya hati” saat berhasil membedah satu ayat saja hingga mengubah cara kita memandang kemanusiaan, itulah Lailatul Qadar personal kita. Di sana, Al-Qur`an bukan lagi sekadar teks, tapi menjadi Nur (Cahaya) yang menembus kegelapan jiwa.

Tanazzalu-l-malaaikatu wa-r-ruuhu fiihaa bi-idzni robbihim min kulli amrin. Terbayang dalam akal pikiran kita, bahwa di malam yang istimewa itu, Malaikat Jibril turun membawa izin Allah untuk mengatur segala urusan. Sungguh semakin tidak masuk akal jika peristiwa agung ini “dipenjara” hanya di sepuluh hari terakhir bulan tertentu saja. Seolah-olah kita sedang mengkerdilkan kekuasaan Allah yang dengan kun fayakun-Nya mampu menghampiri hamba-Nya kapan pun Ia kehendaki.

Jika Allah tidak terbatas oleh ruang dan waktu, maka Lailatul Qadar sebenarnya adalah “frekuensi” yang terus dipancarkan-Nya sepanjang tahun. Persoalannya bukan pada “kapan” Jibril turun, melainkan pada “siapa” yang hatinya sedang terjaga untuk menangkap frekuensi tersebut. Jangan-jangan, selama ini pintu langit selalu terbuka, namun kitalah yang terlalu sibuk mengunci pintu hati sendiri.

Kesaksian Para Penjaga Makna

Gagasan bahwa Lailatul Qadar melampaui sekat tanggal bukanlah hal baru. Para ulama terdahulu telah mengisyaratkan bahwa malam ini adalah tentang pencarian yang kontinu.

Ibnu Mas’ud, misalnya, mengisyaratkan bahwa Lailatul Qadar adalah hadiah bagi mereka yang istiqamah sepanjang tahun. Konsistensi menjadi kata kunci utama. Begitu pula Imam Abu Hanifah yang melihat malam mulia ini bisa hadir kapan saja, berpindah-pindah melintasi batas bulan. Semangatnya adalah bahwa pengabdian kita merupakan sebuah perjuangan maraton sepanjang hidup, bukan sekadar sprint jarak pendek.

Bahkan Imam Syafi’i pun menegaskan sifat dinamisnya malam ini sebagai rahasia yang terus bergerak agar manusia selalu terjaga. Beliau menekankan bahwa Lailatul Qadar adalah misteri; kita tidak akan pernah mampu menerka kepada siapa ia akan diturunkan. Min haitsu laa yahtasib.

Tentu, kita tidak sedang membantah hadis-hadis yang menunjuk sepuluh malam terakhir Ramadhan sebagai waktu utama. Hadis-hadis tersebut adalah “puncak gunung” atau peluang terbesar. Namun, menyebut adanya puncak bukan berarti meniadakan keberadaan kaki gunung. Sepuluh malam terakhir adalah kurikulum kolektif agar kita memiliki titik fokus, namun ia bukan satu-satunya waktu di mana Allah membuka pintu-Nya.

Mengetuk Pintu Langit dengan Sunyi

Membatasi Lailatul Qadar hanya pada malam ganjil sebenarnya adalah bentuk “penjara” yang kita buat sendiri. Ramadhan adalah masa untuk merapikan “antena” hati agar bersih dari gangguan ego. Namun, Allah tentu tidak pernah menutup “kantor” wahyu dan ilham-Nya di bulan-bulan lain.

Lailatul Qadar bisa menyapa siapa saja, kapan saja—di saat ego kita nol, dan Akal Suci membimbing kita pada kesejatian. Maka, jangan hanya menunggu malam ganjil, tapi siapkanlah “wadah” hati agar selalu layak menerima makna. Ketuklah pintu langit dengan kunci tadabbur yang rendah hati. Jangan sampai kita sibuk menghitung tanggal di dinding, tapi lupa merapikan ganjil-genapnya niat di dalam diri.

Sebab pada akhirnya, Lailatul Qadar adalah sebuah undangan sunyi. Ia adalah cahaya yang justru paling benderang dalam kegelapan yang melahirkan cahaya di palung jiwa. Langit tidak pernah berhenti menyapa bumi. Ia hanya sedang menunggu, kapan engkau benar-benar siap untuk terbangun dan menjawab sapaan-Nya.