Ironi Peradaban Modern: Ketika Peraturan Kehilangan Kebijaksanaan

Hidup ini bukan soal benar atau salah menurut aturan, tapi soal tepat atau tidak tepat menurut kebijaksanaan.” —Mbah Nun.
Nasihat itu terasa semakin relevan di tengah peradaban modern yang kian percaya pada sistem, prosedur, dan regulasi. Kita hidup di zaman ketika kepatuhan sering dipuja lebih tinggi daripada kepekaan, dan ketertiban dianggap selesai hanya dengan mematuhi teks. Dari sinilah ironi itu bermula: peraturan tumbuh subur, sementara kebijaksanaan perlahan mengering.
Peradaban modern sering membanggakan diri sebagai puncak rasionalitas manusia. Segalanya diatur: dari cara berpakaian, berbicara, bekerja, hingga cara berpikir. Peraturan disusun rapi, berlapis-lapis, tertulis, dan mengikat. Namun justru di situlah ironi muncul: semakin lengkap peraturan dibuat, semakin sering kebijaksanaan menghilang dari praktik kehidupan.
Peraturan pada dasarnya lahir dari niat baik: menjaga ketertiban, keadilan, dan kepastian. Ia bekerja dengan logika umum dan ukuran seragam. Masalahnya, hidup tidak pernah sepenuhnya seragam. Realitas manusia penuh nuansa, konteks, dan keunikan. Ketika peraturan dipaksakan tanpa kepekaan pada situasi konkret, ia berubah dari alat keadilan menjadi sumber ketidakadilan baru.
Kita menjumpai ironi ini dalam perilaku sehari-hari. Seorang petugas menolak membantu warga karena berkas kurang satu lembar, meski ia tahu persoalannya bisa diselesaikan dengan penjelasan sederhana. Seorang guru menghukum murid karena terlambat tanpa pernah bertanya alasan di balik keterlambatan itu. Seorang pegawai melaksanakan perintah yang jelas merugikan orang lain sambil berkata, “Saya hanya menjalankan aturan.” Dalam semua contoh itu, peraturan ditaati, tetapi kebijaksanaan absen.
Di ruang publik yang lebih luas, kita menyaksikan orang menegur dengan keras kesalahan kecil, namun diam terhadap ketidakadilan besar. Warga sibuk mengawasi hal-hal sepele—parkir sedikit keluar garis, pakaian yang dianggap tidak pantas—sementara korupsi, manipulasi, dan penyalahgunaan kekuasaan dibiarkan berlalu karena “sudah sesuai prosedur.”
Peradaban modern melatih manusia menjadi penjaga aturan, tetapi tidak selalu menjadi penjaga akal sehat.
Di sinilah kebijaksanaan seharusnya berperan. Kebijaksanaan bukan penolakan terhadap aturan, melainkan kemampuan membaca maksud di balik aturan. Ia menimbang manusia sebelum pasal, nurani sebelum prosedur. Namun peradaban modern justru sering mencurigai kebijaksanaan. Ia dianggap subjektif, berbahaya, dan tidak profesional. Akibatnya, manusia yang bijak sering dikalahkan oleh sistem yang patuh tetapi miskin empati.
Kita bahkan mulai mengagungkan kepatuhan mekanis. Orang yang taat aturan dipuji meski tindakannya melukai orang lain, sementara mereka yang mencoba bersikap bijak dicurigai melanggar sistem. Dalam kehidupan sehari-hari, hal ini tampak ketika seseorang menutup mata terhadap penderitaan di depannya hanya karena “itu bukan tugas saya,” atau ketika empati dikalahkan oleh target, angka, dan laporan.
Peradaban modern tampaknya lupa bahwa aturan adalah sarana, bukan tujuan. Ketika peraturan dipertuhankan, manusia direduksi menjadi angka, berkas, dan kategori. Kebijaksanaan yang seharusnya menjadi jiwa peraturan justru tersingkir, dianggap pengganggu stabilitas sistem. Padahal hidup tidak pernah sepenuhnya bisa diatur dengan rumus; ia menuntut kebeningan hati dan keberanian mengambil tanggung jawab moral.
Ironi terbesar peradaban modern bukanlah kekurangan aturan, melainkan kelangkaan orang-orang bijak yang berani melampaui teks tanpa merusak makna. Kita hidup di zaman di mana melanggar nurani demi aturan dianggap profesional, sementara melanggar aturan demi nurani dicap subversif. Di titik inilah peradaban perlu bercermin: apakah kita sedang membangun keteraturan, atau sekadar merapikan ketidakpedulian?
Peradaban yang matang bukan yang paling banyak aturannya, tetapi yang mampu menempatkan aturan di bawah kebijaksanaan. Sebab pada akhirnya, peraturan tanpa kebijaksanaan hanyalah mesin tanpa jiwa, sementara kebijaksanaan—meski berjalan dalam keterbatasan aturan—masih mampu menjaga kemanusiaan.
Di tengah tumpukan aturan dan prosedur yang mengikat hidup manusia, Mbah Nun pernah berpesan,
“Jangan sampai kita kalah oleh buatan kita sendiri. Aturan itu kita yang membuat, nurani itu Tuhan yang memberi.”
Barangkali tugas peradaban hari ini bukan lagi menambah aturan, melainkan menumbuhkan kembali kebijaksanaan. Sebab tanpa kebijaksanaan, peraturan hanya akan menjadi alat kekuasaan yang dingin. Dan tanpa keberanian untuk mendengarkan nurani, manusia modern berisiko menjadi makhluk paling tertib—namun paling jauh dari kemanusiaannya sendiri.