CakNun.com

“Aku Salah Satu Pantainya Cak Nun”

Pengantar

Judul naskah drama Perahu Retak karya Cak Nun membuat penyanyi Franky Sahilatua terpikat. Perjalanan kemudian mempertemukan keduanya. Terjadilah selanjutnya persahabatan dan kerjasama antara Franky Sahilatua dan Cak Nun yang melahirkan album musik berjudul Perahu Retak pada 1996. Semua lirik ditulis oleh Cak Nun, sedangkan lagu oleh Franky Sahilatua. Tulisan Franky Sahilatua ini diambil dari booklet yang menyertai rilis album Perahu Retak tersebut.

Aku lega sekaligus gembira sekarang ini. Lega, karena lebih dari setengah tahun aku dan Cak Nun menguras waktu, tenaga, pikiran dan perasaan, untuk menggarap album Perahu Retak ini. Gembira? Ya, karena bisa kembali berkarya, yang kali ini berkolaborasi dengan Cak Nun.

“Aku Salah Satu Pantainya Cak Nun”. Tulisan Franky Sahilatua

Di kertas ini, aku tuliskan sedikit tentang proses pertemuan kami. Pada mulanya adalah kata-kata Perahu Retak. Adalah naskah drama Cak Nun di mana kata-kata Perahu Retak itu sebagai judulnya. Aku suka kata-kata itu.

Kami lalu bertemu, berdiskusi, hingga akhirnya menjadi bersahabat. Di sinilah aku menemukan sesuatu yang jauh lebih luas dari yang selama ini pernah aku temui. Andaikan saja Cak Nun itu lautan, maka aku hanya bertemu dengan salah satu pantainya saja. Lautan itu mungkin sudah sering dilayari oleh orang lain. Tetapi dengan melayari lautan Cak Nun, aku merasakan kegairahan tersendiri, yang timbul dari pikiran-pikirannya yang luas, jujur, berani dan mbeling.

Yang terjadi kemudian adalah kerjasama. Cak Nun membuatkan syair Perahu Retak, dan aku bikin lagunya untuk aku nyanyikan. Kerja bareng ini tidak berhenti di satu syair saja. Kami teruskan dan jadilah album Perahu Retak Sembilan syair, sembilan lagu dan sembilan nyanyian.

Baca juga: Proses Kreatif Album “PERAHU RETAK”

Aku lihat cinta dan kasih sayang Cak Nun yang tertuang di syair-syairnya. la berbisik tentang sesuatu yang paling hakiki di hati nurani setiap orang. la bergumam tentang kasih sayang pada sesama manusia. la bicara cinta pada bangsa dan tanah airnya. Ia teriakkan puja-puji pada Tuhan.

Kegembiraan ini juga tidak lepas dengan hadirnya Toto Tewel yang mengerjakan penataan musiknya, lewat kejernihan pikiran. Aku suka cara kerjanya. Teliti dan tak pernah puas. Konsep ‘musik kampung’–dia menyebutnya begitu–yang ditawarkannya untuk dituangkan dalam penataan musik di album Perahu Retak ini pun, aku suka. Sederhana dan tidak terlalu memanfaatkan canggihnya teknologi.

Aku berharap lagu-lagu dalam album Perahu Retak ini bisa menjadi nyanyian hati siapa saja.

Salam.

Lainnya

EMHA

EMHA

Pengantar

Sekelumit fenomena Emha di zaman ORBA yang kerap menjadi langganan pencekalan berhasil ditangkap oleh N.

40 Tahun Dekolonialisasi Cak Nun

40 Tahun Dekolonialisasi Cak Nun

Bila pada tahun 1930-an para cendekiawan mengupayakan dekolonialisasi substantif dan akad politiknya berwujud kemerdekaan 1945, maka tahun 1970-an Cak Nun memulai esai-esai lepasnya dan akad bukunya kemudian terbit pertama kali 1983.

Exit mobile version