CakNun.com

Wali Raja Nusantara

Menderas airmataku
Rindu sedalam kalbu
Mengalir ke ujung waktu
Kau makin hilang dariku

Cinta Ibu Pertiwimu
Kilau permata Tuhanku
Gemuruh samuderaku
Tinggal sepi dan bisu

Kujelajahi Cakrawala
Baka fana silih menjelma
Putra putri Nusantara
Lenyap entah di mana

Ibu Pertiwi bersenandung di awal pementasan, menyayat hati siapapun yang mendengar dan menyaksikan penampilan ibu Sitoresmi Prabuningrat membawakan penghayatan luar biasa, memerankan sosok ‘Ibu Pertiwi’ yang gundah gulana, kecewa dan prihatin atas kondisi ‘anak-anaknya’ bernama Nusantara.

Foto: Adin (Dok. Progress)

Anak-anak Nusantara adalah anak yang dilahirkan oleh sejarah beratus-ratus tahun lamanya. Terjadi banyak konflik, peristiwa, dan kejadian yang menimpa sehingga setelah jatuh mampu bangkit kembali, jatuh lagi dan mampu berdiri sendiri, tidak hancur tergilas sejarah sampai periodik paska kemerdekaan 17 Agustus 1945 hingga detik ini.

Penyeimbang dan penyemangat anak-anak Nusantara bernama ‘Rakyat’ untuk selalu ‘eling lan waspodo’ adalah Pak Rajek yang diperankan tak kalah menarik oleh Pak Eko Winardi, yang mampu memerankan sosok orang tua pengayom masyarakat, tokoh sesepuh yang saat ini mulai berkurang di masyarakat, tempat orang mengadu, berdiskusi, bertukar pikiran. ‘Sesepuh’ yang dipercaya untuk ‘ungguh-ungguh roso’ sehingga bisa menghasilkan keputusan, kesepakatan ataupun hal-hal lain berdasar suara hati nurani rakyat yang sebenarnya, baik yang berhubungan dengan lingkungan sosial bahkan politik.

Pak Rajek seharusnya banyak bermunculan di situasi Nusantara saat ini, seperti mendatangkan Mas Mambang yang diperankan Pak Fatah Ansori. Mas Mambang datang sebagai gerakan edukasi, pendidikan atau literasi politik yang hampir tidak didapatkan oleh rakyat Nusantara menjadi urgensi agar tidak lagi saling menghina, melecehkan, menjatuhkan sesama anak-anak Nusantara sehingga mengembalikan marwah manusia sebagai makhluk ahsani taqwim.

Diperjelas oleh kehadiran sosok Maulana Iradat yang diperankan secara spektakuler oleh Pak Joko Kamto. Hadir sebagai sosok penghuni langit penyambung ‘lidah Tuhan’. Penyambung roso Ibu Pertiwi yang ‘ditinggalkan’ anak-anak Nusantara. Menampung segala keluh kesah Ibu Pertiwi sejak berbagai peristiwa di dunia dari Banujan hingga bapak Adam hingga anak turunnya, salah satunya bangsa unggul dan pemberani bernama Nusantara. Digembleng langsung oleh beberapa peristiwa sejarah kejayaan dan kehancuran kerajaan sampai Republik kesatuan.

Foto: Adin (Dok. Progress)

Bahkan masyarakat Nusantara lewat Wali Anom Kalijogo yang diaktori oleh bapak Margono Wedyopranasworo mampu berpikir dan bertindak untuk Nusantara di masa depan. Banyak peristiwa yang dipersiapkan seolah mengetahui kabar langit karena kekhusyukan dan pengabdian dengan pemilik-NYA. Penyelamatan manusia, warisan, dan kejayaan Nuswantara dengan program ‘sirna ilang kertaning bumi’ yaitu peristiwa tahun saka 1400 yang juga melambangkan dalam sandi sengkalan perhitungan Jawa watak kata-kata dan bilangannya menjadi ‘sirna’ yang berarti hilang dilambangkan angka 0, ‘ilang’ yang sama berarti hilang dengan masih angka O, kemudian ‘kertaning’ berarti dibuat dengan simbolnya angka 4 dan simbol angka 1 sebagai bumi. Mengaburkan segala bentuk kejayaan, warisan Nusantara karena kelak bangsa ini akan dijajah harta benda, kekayaan alam bahkan nyawa oleh sekelompok golongan manusia lain yang berwatak rakus, penghasut, dan tidak berhati nurani.

Dikisahkan dalam peristiwa kejayaan Nusantara bahkan ada istilah ‘Sabdapalon Nayagenggong nagih janji’ yang dalam pementasan ‘WaliRaja RajaWali’ diperankan juga oleh tokoh fenomenal Eyang Sabdo oleh Pak Nevi Budianto punggawa gamelan KiaiKanjeng, yang mampu mengiringi dengan baik pementasan WaliRaja RajaWali sampai akhir selama lebih kurang hampir 2 jam, serta Eyang Noyo oleh Pak Puji Widodo. Yang sekitar 500 tahun berikutnya mereka akan muncul menagih terhadap anak cucu Nusantara dengan membawa kehancuran–kehancuran. Dan kalau melihat hitungannya masa saat ini adalah ‘penagihan janji’.

Kanjeng Maulana Iradat membimbing langsung anak cucu Ibu Pertiwi bernama Nusantara sehingga tegar hidupnya, selalu merasa gembira walau teraniaya oleh pemimpin, pemangku, bahkan sesamanya. Bukan tidak lain karena segala peristiwa yang terjadi adalah keterlibatan ‘Ya’juj dan Ma’juj’ di masa silam sampai nanti menjelang zaman akhir, sehingga peristiwa sejarah Nusantara adalah sebagian kecil dari sekenario besar akhir zaman. Di mana manusia Nusantara memang ditakdirkan menjadi bibit unggul sejarah yang kemudian dikerdilkan oleh peristiwa-peristiwa yang menimpa, sampai ke zaman ‘burung Garuda’ Republik Kesatuan Indonesia.

Mitologi Garuda adalah penyerupaan Rajawali, burung predator atau pemangsa dalam rantai ekosistem makanan. Yang dibutuhkan anak – anak Nusantara bukan Rajawali yang memangsa ‘rakyat’ nya berupa pitik, ular, ikan, ayam dan sebangsanya sebagai santapan sehari – hari, tapi Wali Raja yang dari awal masa silam dibentuk dari anak cucu Nusantara menjadi ‘Satrio pinandito sinisihan wahyu’ seorang kesatria pemberani, begawan, negarawan bukan sekedar politisi melainkan juga harus dekat dengan Tuhan, manunggal dengan hatinya rakyat dan dicintai Tuhan.

Foto: Adin (Dok. Progress)

Pemberian Judul dalam naskah ‘WaliRaja RajaWali’ oleh Mbah Nun serta penyutradaraan pementasan drama oleh Pak Jujuk menjadi menarik bagi saya, terkhusus Rajawali sebagai simbol suatu identitas. Mbah Nun mampu mengajak kita semua berpikir ulang tentang segala sesuatu menyangkut semua itu.

Hingga setelah pementasan saya teringat dengan suatu bacaan naskah serat Centini yang mengisahkan tentang Raja Namrud yang saat itu menguasai dunia. Sampai menyematkan dirinya sebagai Tuhan dan ingin menantang Tuhannya Nabi Ibrahim As. Saat melabrak ke Langit, raja Namrud mengendarai ‘Rajawali Raksasa’. 1 Rajawali untuk dia tunggangi, 3 lainnya untuk orang pinilihnya. Panahnya dilesatkan membabi buta ke angkasa, bumi, dan laut. Mengenai burung-burung lainnya di angkasa. Daging tercabik-cabik dan darah bagaikan gerimis. Raja Namrud dan bala pasukannya bersorak-sorai dan mengklaim kalau Tuhan telah kalah perang dengannya. Buktinya adalah daging-daging berhamburan dan darah bagai gerimis. Tuhan dianggap telah terkena panahnya.

Adakah penguasa sedang mengendarai Rajawali?

Adakah penguasa bukan hanya menantang rakyatnya? Atau malah sedang menantang Tuhannya?

Walahua’lam….

14 Agustus 2022

Lainnya

Teknokrasi Cinta Semesta

Teknokrasi Cinta Semesta

Pada beberapa hal, dalam sebuah periode pemerintahan dapat diilustrasikan layaknya sebuah pertunjukan wayang.

Exit mobile version