CakNun.com

Kepala Kampung

Cerpen ini dimuat dalam Majalah Sastra HORISON No. 10 Oktober 1979 Tahun XIV
Cerpen Emha Ainun Nadjib, Kepala Kampung.

Sudah selayaknya kalau orang yang paling kuat seperti aku ini menduduki jabatan sebagai Kepala Kampung. Dan sudah sepatutnya pula kalau para rakyatku dengan senang hati memberikan separo dari kekayaan kampung, misalnya sawah kepadaku. Di dalam memegang kendali pengaturan seluruh peri kehidupan kampung, menjadi kewajibanku untuk pertama-tama memperhatikan kepentingan keluargaku, agar dengan demikian aku terlebih dahulu bisa memperoleh jaminan ketentraman materiil maupun moril sebelum pada akhirnya mengabdikan diri sepenuhnya kepada mereka. Sepanjang kurun kehidupan ummat manunsia, sejarah selalu mencatat berlakunya sebuah nilai luhur yang pokok, yakni bahwa segala gerak mekanisme kebersamaan mustilah bersumber dari satu titik komando. Nilai ini sesungguhnya berpedoman kepada kondisi fitrah dari manunsia itu sendiri, di mana otaklah yang menentukan segala wujud dan arah tindak laku yang dikerjakan oleh anggauta-anggauta tubuh lainnya. Sebuah organinsasi tidak bisa ditentukan titik mulanya oleh dua pihak, seperti halnya kapal tidak dikendalikan oleh dua orang nakhoda. Apalagi oleh ribuan nakhoda, atau ribuan penduduk di kampung. Jadi sessungguhnya memang dibutuhkan satu tongkat komando yang kuat, mengerti dan penuh tanggung jawab seperti yang sepenuhnya kumiliki. Para anggauta kampung lainnya sudah barang tentu diperbolehkan mengajukan usul atau ide-ide, tetapi sepenuhnya akulah yang pada akhirnya menentukan keputusan dan perintah. Sejarah telah lama membenarkan hal ini, baik secara prinsip maupun teknis.

Coba pikir, orang-orang kampung yang sebaya aku, semuanya tidaklah lebih kuat atau pandai dibanding aku. Sehingga usul-usul mereka sering kurang tepat, tergesa-gesa, mencerminkan keterbatasan wawasan mereka, atau bahkan acapkali konyol dan menggelikan. Sedangkan kalau yang mengajukan ide-ide adalah mereka yang tingkat usia dan taraf pengalamannya di bawahku, bisa kau tebak sendiri: pemikiran-pemikiran mereka umumnya masih mentah. Dengan demikian siapapun akan membenarkan kekhawatiranku, bahwa jika anak-anak yang belum matang terlalu diberi kesempatan untuk turut menentukan keputusan-keputusan, kelak hasilnya bisa jadi arnat merugikan. Seperti halnya roti yang belum masak, bisa membikin perut sakit. Sedangkan, sepanjang masa kekuasaanku atas kampung ini, demi apapun aku tak ingin ada satu kali saja terjadi kemunnduran, bahkan kemandegan sajapun tidak bisa. Dan tidak boleh nanti aku malu pada rakyatku.

Perihal anak-anak yang mentah itulah, terus terang, yang akhir-akhir ini membikinku agak repot. Mereka terlalu meminta tempat di otakku. Padahai seribu otak mereka diturnpuk-tumpuk pun tidak mampu menghasilkan sebanding dengan secuil bagian dari pernikiran otakku. Sungguh aku tidak mau mengorbankan penghidupan dan kehidupan sekian banyak rakyatku sekedar untuk memanjakan beberapa butir mereka, anak-anak muda itu. Aku berlindung kepada Allah yang Maha Bijak semoga mereka segera dianugerahi mata yang jernih di otak mereka. Mereka meragukan dan mempertanyakan kebijaksanaan-kebijaksanaanku, umpamanya tentang pembagian kekayaan, seolah-olah mereka lebih berpengalaman daripadaku. Terang saja ini kekonyolan anak kemarin sore. Dan kekonyolan ini kernudian berkembang menjadi menjengkelkan ketika pada akhirnya mereka menempuh cara-cara seperti yang lazimnya kupakai, ialah jalan kekerasan. Semestinya mereka berendah hati. Belajar tekun dulu kepadaku bagaimana menerapkan cara kekerasan demi perjuangan luhur bagi rakyat banyak. Sungguh tidak senonoh. Di satu pihak mereka menentangku, di pihak lain mereka meniru kebijaksanaan strategiku. Akhirnya demi nilai-nilai yang telah beribu abad mampu mernbuktikan keampuhan dan kekekalannya, serta demi sedikit kulenyapkan tikus-tikus kemarin sore itu.

Namun ada juga satu hal lain yang sejarah telah memperingatkannya. Ialah bahwa kebodohan itu jauh lebih mudah ditelorkan daripada kepintaran. Sebagai Kepala Kampung aku scndiri cukup seret berjuang menularkan kepintaranku kepada seluruh kalangan rakyatku, dengan cara meyakinkan otak mereka atas segala bunyi suaraku, tetapi kedunguan tikus-tikus itu dengan gampang menjalar dan menjalar. Sekarang penularan itu terus juga berlangsung. Di gardu-gardu, pos-pos kurnpulan atau bahkan di tengah pembicaraan dengan tetangga, sudah mulai banyak kasak kusuk yang amat mengandung kebodohan. Demi Allah aku cemas. Tidak hanya karena gejala itu bisa mengharnbat jalannya pernbangunan yang kukibar-kibarkan di alam jiwa hidup rakyatku. Tetapi juga bisa merupakan benih kebobrokan bagi masa datang. Bayangkan kalau tikus-tikus ingusan ini dibiarkan terus ditindas oleh kebodohannya sendiri, maka siapa gerangan besok pagi yang mernegang kendali kehidupan kampung ini.

Kesadaranku meningkat. Tekadku makin bulat. Dan tanggung jawabku sebagai pemimpin rakyat kini benar-benar tidak bisa dibendung oleh siapapun. Aku menambah jumlah sembahyangku dan di mana-mana tak pernah henti memohon tambahan kekuatan agar mampu menghadapi dan memenangkan kenyataan yang menggelisahkan ini. Seperti Nabi Muhamrnad ketika berkunjung ke Taif, beliau dilempari batu hingga luka-luka, namun beliau berdoa: Tuhan, ampunilah mereka, sebab mereka tidak mengerti apa yang mereka kerjakan.

Dernikian juga aku. Aku berdoa bagi kesadaran mereka. Tetapi kusesuaikan nilai itu dengan keadaan yang ada. Aku harus kreatip. Harus marnpu memegang suatu nilai dan menemukan wujud penalarannya dalam kenyataan yang kuhadapi.

Apalagi jelas keadaan ketika Nabi berkunjung itu sangat jauh berbeda dengan keadaan kampungku ini. Di sini lebih mengandung bahaya-bahaya. Karenanya aku harus sigap. Aku melakukan ijtihad. Justru demi keselamatan perjuangan dan pencegahan kerugian masyarakat masa mendatang, maka tikus-tikus itu tidak bisa lain kecuali harus disingkirkan. Lebih bertanggung jawab lagi kalau dilenyapkan sama sekali. Merupakan hukum, yang amat universil sekaligus manusiawi, bahwa seorang Kepala Kampung memiliki hak penuh buat berpikir, memutuskan, kemudian melaksanakan. Atau jangan sebut sebagai hak, kalau itu mudah menelorkan kecurigaan. Sebutlah tanggung jawab. Seorang Kepala Karnpung tak boleh setengah-setengah dalam menggenggam tanggung jawabnya kepada rakyat. Segala sesuatunya harus dibangun secara mulus. Maka setiap kotoran harus dihilangkan. Jangan takut, sesungguhnya Tuhan bersama kita, kata Nabi. Dan Nabi adalah contoh orang yang tidak pernah setengah-setengah. Dan segala yang kini kurencanakan, yakni pembasmian tikus-tikus itu, tiada lain ialah mencontoh perbuatan luhur dan perkasa Nabi.

Menurut sementara Pamongku, tikus-tikus mentah sedang merencanakan serangkaian acara menentangku. Secara terang-terangan. Para Pamongku berduyun-duyun mendatangiku, memberi laporan secara seksama. Wajah mereka memancarkan tekad yang bercahahya dan penuh tenaga. Aku terharu. Mereka adalah orang-orang yang taat dan penuh pengabdian. (Pernah kukemukakan kepada mereka, tekad pengabdian mereka itu sendiri sudah merupakan ibadah sembahyang yang tiada taranya).

“Mereka hendak melakukan pembakaran-pembakaran!“ ujar salah seorang dari mereka. Mereka berdesak-desakan di hadapanku. Wajahnya cemas.

“Tenang, tenanglah kalian,” kataku. Wajah mereka memberikan dorongan lain. Pengabdian mereka harus dibela dari rongrongan para tikus. “Coba laporkan lebih jelas!“

Lainnya

Satu Truk Pasir

Satu Truk Pasir

Aku tak kuat lagi! Anak-anakmu ini, lihat, anak-anakmu ini! Mereka butuh nasi dan masa depan, tak butuh pasir dan mimpi.

Stempel

Stempel

Ini tamu istimewa.

Sebenarnya kemudian aku agak merasa berdosa ketika secara tak sengaja terbersit niat untuk tak usah menemuinya.

Exit mobile version