CakNun.com

Pemimpin-58

Kalau memproses pemilihan pemimpin mesinnya adalah untung rugi materiil-pragmatis dan goal-nya adalah kalah menang kekuasaan, maka  berarti yang dipemilukan bukan Pemimpin, melainkan Penguasa.

Kendali sejarah ada di tangan Konglomerat Ekonomi yang nikah dengan Konglomerat Politik.

Yang berlaku dalam proses pemilihan adalah hukum pasar.

Maka yang disebut Negara menjadi batal. Yang namanya Pancasila, Bhinneka Tunggal Ika dan Nasionalisme, itu mubadzir.

Rakyat silakan memenuhi etika untuk datang ke lokasi pemilihan, tetapi di dalam bilik coblosan: mereka toh berdaulat dan terjamin rahasianya.

Lainnya

Pemimpin-36

Pemimpin-36

Apa yang pernah kau perbuat untuk rakyat dalam hidupmu sehingga kini kau jadi Pemimpin tertinggi?

Pengabdian apa yang kau kerjakan untuk rakyat?

Pengorbanan seberapa yang kau persembahkan?

Pelayanan bagaimana yang kau setiakan?

Kasih sayang seluas apa dan pengayoman setinggi apa yang kau dekapkan?

Tanpa pamrih semenderita apa yang telah kau buktikan!

Berapa lama kau persembahkan itu? Berapa tahun? Berapa puluh tahun?

Mana fakta shidiqmu, mana bukti amanahmu, mana hamparan tablighmu, mana lubuk dan ufuk fathonahmu?

Negara dan rakyat macam apa yang mengangkatmu jadi Pemimpin?

Pemimpin-15

Pemimpin-15

Siapa itu biangnya kok nilai-nilai dijadikan benda, branding dan slogan kosong. 

Kata sifat dan kata kerja dikata-bendakan. Radikal, fundamental, moderat dan macam-macam lagi dilembagakan, diterminologikan, didikotomikan sehingga menjadi hulu ledak permusuhan.

Idiom Islam, Khilafah, Syariah, Pancasila, NKRI harga mati dibenderakan, dimedsos-medsoskan, dilebay-lebaykan, didramatisir–sehingga menjadi mesiu kebencian.

Siapa itu para perusak nilai dan manusia, demi kerakusan politik dan keserakahan materialisme.

Exit mobile version