CakNun.com

Betul dan Benar

Mohon maaf tak sengaja Anda terpaksa ketemu saya lagi.

Mulai sekarang Anda sebaiknya bersikap waspada dalam memperhitungkan saat-saat kapan, jam berapa saja, terdapat kemungkinan kita dipertemukan tanpa sengaja.

Demi Tuhan tak ada maksud saya untuk memergoki atau menjebak Anda. Pertemuan kita ini semata-mata kebetulan saja.

Kebetulan itu asal katanya “betul”. Betul itu sama dengan “benar”. Tapi saya tidak berani mengusulkan kepada Anda agar menyepakati bahwa kebetulan itu juga sama dengan kebenaran — meskipun selama ini masyarakat kita memahami kata “kebetulan” sangat-sangat berbeda dengan makna “kebenaran”.

Tak ada Ulama atau Pendeta yang berkhutbah: “Para Nabi dan Rasul telah membawa kebetulan….”. Pasti mereka katakan: “Membawa kebenaran”.

Tentu Anda yang bisa menjelaskan kepada saya apa beda antara benar dengan betul.

Lainnya

Doa Lokal

Doa Lokal

Tatkala berkeliling menemui berbagai jemaah kaum Muslim di sebuah pulau, panitia yang membawa Kiai Sudrun mengajukan permintaan yang sebenarnya wajar, tapi tidak lazim.

Andai Si Kaya Sudi Menunda Pesta

Andai Si Kaya Sudi Menunda Pesta

Kita diajak untuk mengandaikan “seberapa jauh kaum miskin bisa tertolong apabila orang-orang kaya menunda pesta poranya sampai beberapa waktu tertentu.” Si pengajak seolah merasa ia adalah Siti Aisyah yang mendengarkan wejangan Muhammad saw., “Wahai, cintailah orang-orang miskin dan akrablah dengan mereka, supaya Allah akrab juga denganmu di hari kiamat!”

Ajakan pengandaian ini membawa kita kepada setidaknya tiga dimensi persoalan.

Exit mobile version