CakNun.com

Menjaga Kemurnian Perlawanan Badar

Mukaddimah Pengajian Padhangmbulan, Sabtu, 3 Januari 2026, Mentoro, Sumobito, Jombang
Achmad Saifullah Syahid
Waktu baca ± 4 menit

Perang Badar kerap dipahami sebagai peristiwa masa lalu—fragmen sejarah yang dikenang, dirujuk, dan dirayakan. Namun pembacaan semacam itu justru mengurung maknanya. Ia menjadikan Badar artefak heroik yang selesai di masa lampau. Padahal, Badar bukan terutama tentang pertempuran, melainkan tentang cara kesadaran bekerja ketika berhadapan dengan dominasi dunia.

Dalam perspektif ini, Perlawanan Badar adalah pola, bukan peristiwa. Ia tidak hidup semata di medan perang, melainkan di ruang yang jauh lebih sunyi: medan orientasi batin, medan cara membaca realitas, dan medan penempatan diri di tengah dominasi arus mayoritas. Badar dimulai sebelum benturan fisik terjadi. Ia lahir ketika seseorang—atau dua, tiga, empat orang yang berkumpul—memilih untuk tidak tunduk pada logika dunia yang menjauhkan manusia dari Allah dan Rasulullah, sekaligus dari kemanusiaannya sendiri.

Ma’a yang menjadi kata dasar Maiyah, tidak dimaknai sebagai gerakan afiliasi otoritatif. Ia adalah upaya sadar untuk senantiasa hadir bersama Allah dan Rasulullah dalam realitas kehidupan yang paling sehari-hari. Pilihan kesadaran ini kerap tampak ganjil, bahkan ditertawakan oleh para afiliator otoritatif yang sibuk menjaga mihrab kesucian mata rantai keilmuan.

Analisis kesadaran Maiyah—yang telah dibangun, selalu dibangun, dan terus dibangun—bekerja persis di wilayah ini. Ia tidak berbicara tentang siapa lawan dan siapa kawan, melainkan tentang bagaimana seseorang bertahan sebagai subjek yang sadar di tengah tekanan zaman. Dalam Perang Badar, kaum Muslim memang minoritas. Namun yang menentukan bukan status minoritas itu sendiri, melainkan keteguhan jiwa untuk tidak larut dalam rasa kecil, takut, atau inferior. Mereka sedikit, tetapi tidak kehilangan kesadaran diri.

Pada titik inilah inti Perlawanan Badar hadir dalam kehidupan kontemporer. Minoritas bukan identitas statistik, melainkan posisi kesadaran. Ia adalah kemampuan untuk tetap jernih ketika arus mayoritas mengaburkan bahkan mengubur makna. Bertahan sebagai diri yang sadar—saat dunia menawarkan jalan pintas berupa deal kepentingan dan kompromi pembagian lahan ekstraksi—menjadi bentuk perlawanan yang paling awal sekaligus paling menentukan.

Badar juga secara radikal menolak logika jumlah. Sejarahnya sendiri telah membantah anggapan bahwa kekuatan selalu lahir dari angka dan dominasi material. Penolakan ini bukan romantisme, melainkan perlawanan cara berpikir. Dunia modern membangun rasionalitasnya di atas kuantifikasi: viralitas, mayoritas, kecepatan, dan elektabilitas. Analisis kesadaran Maiyah berdiri di luar logika tersebut. Ia tidak mencoba bersaing dalam ukuran dunia, melainkan mengganti ukuran itu sendiri dengan koherensi batin melalui rasa bersama Allah dan Rasulullah.

Di sinilah muncul bentuk perlawanan yang sering tidak dikenali sebagai perlawanan. Ia tidak berteriak, tidak menabrak, dan tidak memamerkan diri. Ia hanya menolak mengakui dunia sebagai satu-satunya horizon makna. Dalam penolakan yang sunyi dan konsisten inilah Perlawanan Badar bekerja hari ini.

Dalam Al-Baqarah ayat 249, kemenangan bahkan belum menjadi kenyataan. Musuh belum benar-benar dihadapi, strategi belum diuji, dan hasil belum tampak. Namun justru pada titik inilah seleksi paling menentukan berlangsung. Yang diseleksi bukan kekuatan fisik, bukan keberanian lahiriah, melainkan orientasi batin. Siapa yang tetap bersama Talut, siapa yang tetap berada dalam satu arah kesadaran, dan siapa yang tergoda untuk keluar dari barisan hanya karena haus, lelah, atau merasa berhak menikmat air sungai yang jernih dan segar.

Ujian itu tampak sederhana, bahkan terlihat sangat remeh: larangan minum kecuali seciduk tangan. Tetapi di situlah ketajamannya. Ini bukan soal air, melainkan kemampuan menahan diri dari sesuatu yang tampak wajar, sah, dan menggoda, namun berpotensi menggeser orientasi. Yang diuji bukan siapa yang paling kuat menahan haus, melainkan siapa yang cukup sadar untuk tidak menjadikan kebutuhan sesaat sebagai pusat keputusan hidup. Di sini, iman bekerja tidak sebagai klaim, melainkan sebagai disiplin.

Maiyah menemukan relevansinya persis pada ruang ini. Ia tidak menunggu kemenangan untuk setia. Ia tidak menunggu keadaan ideal untuk hadir bersama Allah dan Rasulullah. Ia juga tidak menunggu dunia menjadi ramah, adil, atau masuk akal. Kebersamaan dijalani justru ketika kondisi belum selesai, ketika hasil belum jelas, dan ketika rasa lelah mulai menggerogoti orientasi.

Dalam logika dunia kesetiaan sering dikaitkan dengan hasil. Jika berhasil, maka dianggap menang. Jika menang, maka dinilai sah. Namun Al-Baqarah 249 membalik logika itu. Kesetiaan diuji sebelum kemenangan, bahkan tanpa jaminan kemenangan. Yang bertahan bukan mereka yang yakin akan menang, melainkan mereka yang memilih tetap bersama meski belum tahu akhir cerita.

Di sinilah Maiyah berdiri sebagai latihan kesadaran yang konkret. Ia tidak mengajarkan optimisme kosong, tidak menjanjikan keberhasilan instan, dan tidak memobilisasi emosi kolektif untuk meraih kursi. Ia melatih kemampuan untuk tetap hadir, tetap setia, dan tetap jernih di tengah situasi turbulensi. Kebersamaan dengan Allah dan Rasulullah dijaga bukan karena dunia mendukung, tetapi karena orientasi itu sendiri diyakini sebagai kebenaran.

Maka, Al-Baqarah 249 bukan sekadar rujukan historis, melainkan cermin yang terus memantulkan pertanyaan ke dalam diri: apakah kesetiaan kita bergantung pada hasil, atau pada orientasi nilai? Apakah kebersamaan kita bertahan hanya saat air melimpah, atau justru teruji saat haus datang? Di sanalah Perlawanan Badar bekerja. Di sanalah Maiyah menemukan pijakan terdalamnya—tidak terutama sebagai janji kemenangan, melainkan bentuk keteguhan untuk tetap bersama Allah dan Rasulullah—apa pun yang terjadi.

Perlawanan Badar juga tidak menjanjikan kemenangan dunia. Ia tidak menawarkan kepastian hasil, popularitas, atau legitimasi sosial, politik, dan ekonomi. Dalam banyak keadaan, ia justru beriringan dengan kesunyian, keterasingan, dan ketidakpopuleran. Analisis kesadaran Maiyah jujur terhadap kenyataan ini. Perlawanan Badar tidak mengatakan bahwa Maiyah pasti menang, menjadi besar, atau dominan, kendati itu semua kembali dan terserah Allah. Ia hanya menegaskan satu hal: setia kepada Allah dan Rasulullah. Soal panen, itu berada dalam wilayah min haitsu laa yahtasib, kehendak Allah sepenuhnya.

Justru di sinilah kemurnian Badar terjaga. Bertindak tanpa jaminan dunia, namun tetap berdiri pada jalur yang diyakini benar menjadi ciri perlawanan sejati. Dunia mungkin tidak mengakui, statistik mungkin tidak berpihak, tetapi kesadaran tetap utuh. Keutuhan inilah bentuk kemenangan paling awal.

Frasa bi idznillah (Al-Baqarah: 249) menutup seluruh lingkaran ini. Dalam kesadaran ini, pusat kuasa dipindahkan dari dunia kembali kepada Allah, dari angka kuantitatif menuju kesetiaan kepada Rasulullah, dari pengakuan publik menuju kejujuran batin. Ketika pusat kuasa bergeser, seluruh cara hidup ikut berubah. Yang sebelumnya tampak lemah menjadi kokoh. Yang sebelumnya dianggap tidak relevan justru terbukti tahan lama.

Dengan demikian, jelas mengapa sintesis ini disebut Perlawanan Badar. Ia beroperasi di medan kesadaran, bukan di wilayah wacana pikiran. Ia memihak minoritas tanpa glorifikasi. Ia menolak logika dominasi dunia bukan dengan amarah atau mengamuk, melainkan melalui penolakan sikap dan cara berpikir yang tenang. Ia menuntut disiplin batin, bukan militansi simbolik. Dan ia setia tanpa kepastian kemenangan lahiriah.

Perlawanan Badar hari ini tidak lagi berdiri di padang pasir dengan pedang terhunus. Ia telah turun dalam medan kehidupan sehari-hari—melalui cara kita bekerja, berbicara, menilai, dan menahan diri. Di sanalah perlawanan itu berlangsung: sunyi, sering merasa sendiri, dan kerap tidak terlihat, namun nyata dalam kesadaran yang utuh dan teguh.

Jombang, 30 Desember 2025

Lainnya

Exit mobile version