Manusia Haram

Kita sering lupa siapa kita.
Manusia bukanlah penghuni pertama,
Kita adalah si bungsu yang datang paling akhir.
Bermula dari Nur Muhammad,
Lalu langit, gunung, dan samudra digelar,
Tumbuhan bersemi, hewan melata,
Barulah kita diserukan ada.
Semua di luar sana—pohon, angin, tanah—
Adalah kakak-kakak kita,
Saudara satu pencipta.
Hidup bukan soal “aku” semata.
Ada Segitiga Cinta yang Mbah Nun ajarkan:
Antara Allah, Rasulullah, dan Makhluk-Nya.
Sinyal cintamu tak boleh putus salah satu.
Mencintai Tuhan, berarti menyayangi ciptaan.
Mustahil mengaku cinta Sang Pencipta,
Tapi merusak karya seni-Nya.
Lalu, seberapa pantas kita disebut “saudara”?
Mbah Nun menyodorkan cermin,
Lima takaran nilai kehadiran.
Coba lihat bayanganmu, di mana posisimu?
Level 1: Manusia Wajib (The Anchor)
Ini adalah top tier, level tertinggi.
Adanya dia, masalah reda.
Hadirnya adalah solusi, ketiadaannya adalah petaka.
Dialah tiang penyangga, support system semesta.
Tanpa dia, sistem crash, arah hilang.
Dia adalah kebutuhan mutlak.
Level 2: Manusia Sunnah (The Mood Booster)
Dia adalah bumbu penyedap kehidupan.
Saat dia datang, “Vibes-nya langsung asik.”
Kehadirannya membawa tawa dan nyaman.
Jika dia absen? Dunia tidak kiamat,
Tapi rasanya ada yang hambar.
Dia dirindukan, tapi belum sevital napas.
Level 3: Manusia Mubah (The NPC)
Wujuduhu ka ’adamihi.
Ada dan tiadanya, sama saja.
Dia datang, tak menambah genap.
Dia pulang, tak mengurangi ganjil.
Sosok “netral” yang sekadar lewat.
Tidak merepotkan, tapi nol kontribusi.
Hanya background character dalam panggung kehidupan.
Level 4: Manusia Makruh (The Vibe Killer)
Ini zona merah.
Saat dia muncul, batin orang berkata:
“Duh, kenapa harus dia sih?”
Hadirnya bikin canggung, suasananya ruwet.
Tapi saat dia pamit: “Alhamdulillah, akhirnya pergi.”
Absennya dia justru melegakan dada.
Level 5: Manusia Haram (The Destroyer)
Level terendah, si toxic sejati.
Keberadaannya adalah ancaman.
Dia perusak tatanan, pencuri kebahagiaan.
Pengacau hukum dan konstitusi.
Jika dia ada, orang terluka.
Jika dia hilang, semesta berpesta.
Hidupnya adalah definisi dari musibah bagi sesama.
Sekarang, mari jujur pada sunyi.
Di mata teman tongkrongan, rekan kerja, atau keluarga…
Kita ini siapa?
Jangan-jangan kita merasa Wajib, merasa paling penting,
Padahal diam-diam mereka bersyukur saat kita tak ada.
Eh, ternyata kita Haram bagi mereka
Hidup adalah daur waktu untuk naik kelas.
Jadilah Sunnah yang menyejukkan.
Atau bercita-citalah jadi Wajib;
Yang tanpanya, dunia terasa kurang utuh.
