CakNun.com

Lautan Jilbab (1/3)

Bagian Satu

Puisi panjang LAUTAN JILBAB ini pertama kali dibacakan oleh penyairnya, EMHA AINUN NADJIB, dalam acara Ramadhan in Campus UGM tahun 1986. Kemudian ditampilkan di berbagai kalangan masyarakat di Jakarta, Bandung, Malang, Surabaya, Ujung pandang, dll, selama 1987 hingga tahun ini. Kelompok Shalahuddin Yogya memanggungkannya, tidak sebagai lakon sebagaimana lazimnya repertoar pentas teater, melainkan mengupayakan dramatisasi puisi tersebut dengan tidak hanya mengandalkan kekuatan oral.

FORMAT LAKON

Penyutradaraan, tentu saja, bebas.

Tetapi naskah ini ditulis dengan mengandaikan:

  1. Prinsi pemanggungan semi teater rakyat, di mana panggung-1 berjarak dengan penonton dan panggung-2 bersambung dengan penonton, yang — diandaikan — duduk lesehan.
  2. Jadi bentuk kwalitatifnya ialah semacam drama di atas drama. Panggung-1 memuat dramanya, panggung-2 “penontonnya”, yang terdiri atas para pemain itu sendiri.
  3. Takaran kwalitatifnya: panggung-1 mewakili keagungan ideal, panggung-2 mewakili situasi keseharian.

Dari pengandaian ini tetap bisa terbuka kemungkinan merubah, menggeser atau mengembangkannya.

PARA TOKOH

PENYAIR, DUA MALAIKAT, DUA LELAKI, BAPAK, PARA JILBAB, QARI, QARI’AH, DLL.

NASKAH

DI PANGGUNG-1, LAMPU REMANG.

MUSIK AGUNG, KHUSYU.

SEJUMLAH WANITA JILBAB MUNCUL DARI BERBAGAI ARAH, TERMASUK DARI PENONTON DAN DARI SEBELAH PANGGUNG-1. SELURUHNYA MEMBENTUK SUATU KOMPOSISI DI PANGGUNG-1, DAN TATKALA SUSUNAN ITU SEMPURNA, MUSIK MENCAPAI KULMINASINYA.

PARA JILBAB DALAM POSISI DUDUK TAHIYYAT, MUSIK FADE OUT. DISAMBUNG OLEH DZIKIR PARA JILBAB.

DITIMPA OLEH SUARA QARI DAN QARI’AH.

QARI DAN QARI’AH :
Alyauma akmaltu lakum diinakum wa atmamtu’alaikum ni’matii wa radliitu lakum-us islaama diinaa.

SUARA DZIKIR MENGERAS, LANTAS PELAN LAGI, SAYUP HAMPIR SIRNA. GERAK PENONTON.

PENYAIR :
Di padang Mahsyar
Di padang penantian
Di depan pintu gerbang janji keabadian
Aku menyaksikan
Beribu-ribu jilbab
Berjuta-juta julbab
Tidak! Aku menyaksikan bermilyar-milyar jilbab

KOOR PARA JILBAB :
Hari ini telah kusempurnakan agamamu
Hari ini telah kulengkapkan nikmatku atasmu
Hari ini telah kurelakan islam agama pelukanmu

PENYAIR :
Lautan jilbab
Samudera putih
Samudera cinta kasih
Gelombang pengembaraan sejarah yang amat panjang
Yang perih lukanya tak terkirakan.
Di padang Mahsyar
Seribu galaksi
Hamparan jiwa suci
Bersujud
Memanggil-manggil tuhannya
Bersujud
Menyeru belaian kasihnya
Bersujud
Putih, putih, putih
Bersujud

QARI’AH :
Yaa ayyatuhan-nafsu muthmainnah. Irji’ii ilaa rabbiki raadliyatan-mardliyyah. Fadhulli fii’ibaadii wadhulii jannatii.

KOOR PARA JILBAB :
Wahai jiwa hening
Kembalilah kepada Tuhanmu
Dengan rela dan direlakan
Masuklah ke pihakku
Masuklah sorgaku

MUSIK MENGGEREMANG PERLAHAN, MENGIRINGI PARA JILBAB BERDIRI, UNDUR PERLAHAN KE WILAYAH PANGGUNG-2, SEMENTARA TERDENGAR KEMBALI SUARA PENYAIR.

PENYAIR :
Lautan jilbab
Samudera putih
Samudera cinta kasih
Bersujud, bersujud
Bersama rembulan yang terjaga
Bersama matahari yang senantiasa terbit
Tanpa pernah lagi tenggelam
Bersama bintang-gemintang
Yang menari-nari gembira
Menanti lambaian tangan Allah Rabbinya
Di padang Mahsyar
Di padang Mahsyar….

Lainnya

Pohon Bailora

Pohon Bailora

Banyak sekali ekspresi masyarakat, terutama tokoh-tokoh kelas menengahnya, yang kemlinthi, gembagus, seneng pamer; “Saya merakyat! Kami peduli! Kami mengabdi rakyat!” dan banyak sekali umuk-umuk pekok seperti itu.

Syukur Aku Manusia (Grobogan)

Syukur Aku Manusia (Grobogan)

Syukur itu gandengannya dengan Dzikir.
Dzikir itu gandengannya dengan Taqwa.
Kalian senantiasa waspada untuk selalu ingat.

Exit mobile version