CakNun.com
Daur-II153

Syarrod-Dawab

“Tidak”, suara Seger lagi, “Saya sama sekali tidak punya kelengkapan ilmu untuk mengatakan bahwa Generasi Millennial, apalagi generasi-generasi sebelumnya, adalah Syarrod-Dawab, seburuk-buruk makhluk di hadapan Allah. Yang saya maksudkan hanyalah rasa syukur kepada Allah bahwa Jitul, Junit, Toling dan saya dicampakkan Allah ke dalam Gua Markesot…”

Junit tertawa. “Mbah Sot bilang bahwa alam semesta beserta seluruh isinya, yang seolah-olah tak terbatas besar dan luasnya, kalah oleh setetes hidayah Allah. Sementara Seger mengatakan bahwa kita ini dicampakkan oleh Allah ke dalam Gua Markesot. Lucu juga kalau dicampakkan ternyata artinya adalah diberi petunjuk”

“Itu problem kata”, Jitul merespon, “tidak ada satu kata yang pernah benar-benar sanggup mewakili sesuatu yang diungkapkan dengan kata itu. Apalagi kalau sesuatu itu makna. Apalagi kalau makna itu tidak tunggal, tidak linier, tidak datar, tidak berdiri sendiri, tapi berangkai-rangkai. Masalahnya Generasi Millenial ini mengenali kehidupan terutama melalui kata. Kita semua menuhankan kata, menabikan Buku, mendewakan media, mengagamakan Medsos dan Medmas”

Terdengar suara Pakde Sundusin membacakan [1] (Al-Ahzab: 45): “Hai Nabi, sesungguhnya Kami mengutusmu untuk jadi saksi, dan pembawa kabar gembira dan pemberi peringatan

Seger menyahut: “Itu ayat yang juga sering saya tulis di pojok-pojok halaman catatan-catatan saya. Karena kita dibesarkan dan dididik oleh cuaca budaya informasi yang bukannya menggembirakan dan memberi peringatan. Yang kita baca sehari-hari adalah berita-berita tentang keburukan dan kedhaliman, yang sifatnya memprovokasi dan menyorong pembacanya ke dalam kesesatan”

A bad news is a good news”, Toling menegaskan, “itulah ideologi primer yang kita anut beramai-ramai di abad ini”.

Lainnya

Sesosok Makhluk Bernama Novi Budianto

Sesosok Makhluk Bernama
Novi Budianto

Minimal “Madhep Mantep” ini adalah “Pameran Salah Satu Level Penampakan” sesosok makhluk yang kita mengenalnya sebagai Novi Budianto.

Manusia Pasca Ibrahim

Manusia Pasca Ibrahim

Kata orang arif, kebanyakan kaum muslimin dewasa ini maqam ilmu hidupnya ‘masih Hindu’, ada juga gejala ‘sudah Budha’ atau bahkan ‘sudah Kristen’, namun kondisi rata-ratanya adalah ‘belum Islam’.

Exit mobile version