CakNun.com
Daur-II109

Jalan-jalan Di Langit

Teman-teman di Patangpuluhan dulu, termasuk Saimon yang muncul hanya sesekali, atau di era Sapron, hingga para akselerator gelandangan seperti Sundusin, Tarmihim, dan Brakodin, sering berbisik-bisik di antara mereka tentang kekhawatiran kalau sampai masyarakat luas di kampung tahu bahwa Mbah Sot sering mengungkap-ungkap ayat-ayat, hadist-hadits, atau khazanah-khazanah Islam lainnya.

Kalau para Ulama, Kiai, Asatidz, dan Habaib mendengar itu, bisa-bisa komunitas Patangpuluhan akan dirasakan orang sebagai semacam Sekte atau aliran sesat. Sebab cetho welo-welo Markesot bukan seorang Ulama. Ustadz pun bukan. Bersekolah Madrasah pun tidak pernah. Lha kok malah berlagak seolah-olah ia seorang Mufassir. Bahkan ada sejumlah teman wartawan nyeletuk di antara mereka: “Markesot itu sekarang agak jelas profesinya”. “Apa?”, tanya lainnya. “Musafir”.

Maksudnya adalah Mufassir. Orang yang menafsirkan Al-Qur`an. Kosakata Mufassir kurang dikenal oleh umum, termasuk oleh kaum jurnalis yang lebih banyak menyerap kosakata-kosakata yang berasal dari Bahasa Barat. Sehingga Markesot yang banyak mengungkap ayat-ayat Qur`an disebut Musafir. “Kita jaga jangan sampai orang banyak mendengar”, kata Tarmihim, “nanti Cak Sot dan kita semua akan tampak di mata orang kampung sebagai golongan Kemislam-islam, atau kami-Islamen alias sok Islam, kalau Bahasa Jawa Timur koyok Islam-Islamo… atau ponakane Islam…”

Apalagi kemudian Markesot mencoba menguraikan pemetaan dan simulasi berbagai jalan yang dipakai oleh Allah dan sehari-hari disebut-sebut rutin oleh setiap Muslim: Sabil, Syari’, Thariq, dan Shirath. “Kita harus rajin latihan caranya berjalan, mengembangkan wawasan tentang berbagai macam jalan, serta membiasakan cara berjalan yang benar”, kata Markesot, “sebab nanti di Langit banyak sekali jalanan, sampai-sampai Allah bersumpah dengan itu”. [1] (Adz-Dzariyat: 7).

Lainnya

Amenangi Zaman Jahiliah

Amenangi Zaman Jahiliah

Belum pernah ada penjelasan terinci mengenai keadaan edan bagaimana yang berlangsung di masa Ronggowarsito, satu setengah abad yang lalu.

Tafakkur Anak Ratu

Tafakkur Anak Ratu

O, jadi karena saya memenuhi permintaan silaturahmi dan tabayyun dengan Bambang Tri Hatmojo, maka saya disebut “antek Cendana”. Andaikan sudah ada medsos ketika itu, foto saya berjalan dengan Mas Bambang dan duduk berdampingan dengan Bu Halimah, insyaallah akan disebar dan diupayakan untuk viral.

Exit mobile version