Puasa dan Sakit

Namanya Huda. “Guru” saya yang berasal dari daerah Batang, Jawa tengah. Ia masuk ke ruangan dengan senyum-senyum. Badannya yang tegap, tinggi, tidak menggambarkan sedang menderita sakit serius, yaitu kanker darah, ‘Leukemia’.
“Kowe mrene arep ngopo, Le?, jatah mondok po?” (Kamu ke sini mau ngapain, mau rawat inap?)” tanya saya.
“Mboten, Pak. (Nggak, Pak),” jawabnya.
“Lha ngopo? (Lha ngapain?)”.
“Kontrol tho, Pak,” sambil senyum memandang ibunya yang duduk di sampingnya.
“Ooo rak gitu…, ayuk berbaring, tak periksa..!” kata saya sambil mempersilakan Huda menuju ke bed periksa.
Keakraban hangat semacam ini memang tercipta agar jangan ada ‘jarak’ antar dokter dengan pasien, yang esensinya adalah guru dengan murid. Saya adalah muridnya.
Sambil memeriksa saya tanyakan juga apa keluhan yang dirasakan setelah kemoterapi yang dijalani minggu kemarin. “Moten wonten keluhan, Pak (Tidak ada keluhan, Pak),” jawab Huda.
Lalu saya berbisik di dekat telinganya, “Wis mangan durung? (Sudah makan?)” tanya saya.
“Kulo poso, Dok, boleh tho? (Saya puasa, boleh kan?),” tanya dia.
Serta merta saya acungi jempol dan saya bilang, “Boleh… tentu boleh, Cah Bagus!”
Kami lalu ngobrol tentang menu sahur dan berbuka yang disuka. Tentang minuman, tentang makanan, tentang sambal dan tentang gorengan. Tentang sakitnya sendiri kami tidak membahas banyak. Karena Huda sudah masuk fase rumatan, yang hampir tak pernah mondok untuk kemo yang berat.
Bagaimana tinjauan Al-Qur`an tentang penyakit, dan hubungannya dengan puasa?
Al-Qur`an tidak menyebut penyakit kanker secara spesifik, tetapi prinsip umumnya sangat relevan. Kanker sering termasuk kategori penyakit katastropik, membutuhkan terapi yang intensif termasuk kemoterapi dan radioterapi.
Dalam konteks ini, ulama kontemporer biasanya mengqiyaskan kanker pada kategori sakit berat yang disebut dalam QS. Al-Baqarah. Para ulama menafsirkan “sakit” dalam dua kategori besar:
Sakit ringan dan sakit berat atau berisiko. Dikatakan sakit ringan jika puasa tidak memperparah kondisi, dan sebagian ulama membolehkan tetap berpuasa.
Dikatakan berat bila puasa mengakibatkan memperlambat penyembuhan, memperparah penyakit, atau menimbulkan bahaya serius, dan dalam kondisi ini tidak berpuasa justru menjadi pilihan yang dianjurkan. Imam An-Nawawi menjelaskan bahwa jika dokter terpercaya menyatakan puasa berbahaya, maka rukhsah berlaku.
Dalam kasus Huda, yang fisiknya sangat tegap, usianya sudah masuk akil baligh, sakitnya sudah melalui masa-masa berat dan kritis, maka pilihan untuk berpuasa merupakan pilihan yang baik. Para ulama juga bersepakat untuk membolehkan berpuasa.
Prinsip umum Al-Qur`an: Ibadah wajib termasuk puasa tidak dimaksudkan untuk menyulitkan hamba-Nya.
Sebagaimana firman Allah yang terdapat dalam QS. Al-Baqarah: 184–185, “…Barang siapa di antara kalian sakit atau dalam perjalanan, maka (boleh mengganti) pada hari yang lain…”. Dalam lanjutan ayat yang sama Allah menegaskan:
“Allah menghendaki kemudahan bagimu dan tidak menghendaki kesulitan bagimu.”
Para mufassir seperti Ibn Katsir, Al-Qurtubi, dan Fakhruddin ar-Razi menjelaskan bahwa ayat ini menunjukkan prinsip besar syariat bahwa rukhsah (keringanan) diberikan ketika ibadah berpotensi membahayakan kesehatan. Artinya, dalam Islam puasa bukan tujuan yang harus dipaksakan jika bertentangan dengan keselamatan jiwa.
Apakah puasa justru akan malah menyembuhkan penyakit? Ini adalah masalah yang menggelitik dan menantang untuk dicari jawabnya.
Kami bertiga—Huda, ibunya dan saya—lalu ngobrol tentang rencana penjadwalan pengobatan berikutnya, agar pas lebaran bisa pulang ke rumah, mudik ke Batang! Peristiwa sosiologis yang berbau teologis ini yang selalu ditunggu-tunggu setiap pengelana di akhir bulan Ramadhan, untuk mudik!
“Di daerah saya, Dok, karena pesisir, makanan khasnya ya… yang serba ikan ikan, udang dll.,” kata ibu Huda.
Huda sendiri kemudian menimpali dan cerita tentang tradisi lebaran di sana yang sangat gayeng, yaitu lomba pacu perahu.
“Lho kayak balapan Formula 1 itu, Le?” tanya saya.
”Bukan, Dok, perahunya pakai dayung, dan hadiahnya banyak itu, sampai puluhan juta rupiah lhoo!” kata Huda.
“Trus kamu mau ikut mendayung?” tanya saya.
Huda menyeringai dan menjabat tangan saya sambil pamitan.
“Sehat-sehat ya, Le!”
R9
