Lempari Aku
lempari aku dengan batu api
agar meleleh tubuh deritaku ini
lempari aku dengan gumpalan cahaya supaya tahu aku tiada
lempari aku dengan batu api
agar meleleh tubuh deritaku ini
lempari aku dengan gumpalan cahaya supaya tahu aku tiada
terima sajalah, junjunganku
hamba yang bodoh dan dungu
sebab jika pintu tak kau buka
hendak cari tuhan ke mana
tuhan sayang ajari aku tidur
seperti dulu menemuimu di rahim ibu sesudah lahir menjadi anak kehidupan sesudah didera tatakrama, pendidikan, politik
kau pandang aku batu
kau gempur dengan peluru
padahal aku angin
dengan seribu kali mati
akan terus kukejar namamu yang sejati
kau bilang kau tuhan kau allah
tapi aku tak sekhilaf anak-anak sekolah
mati hidup satu kekasihku
takkan kubikin ia cemburu
kurahasiakan dari anak istri
kulindungi dari politik dan kiai
Ketika kutanyakan apa maksudnya, ia menjawab — Apa yang aneh? Mustahil aku ada, sebab jika demikian maka kemutlakan Allah menjadi terkurangi.
sayang, kenapa harus membelah diri
kalau sampai begini sakit
untuk menyatu kembali
Apakah yang paling banyak harus kupersembahkan kepada orang lain, dan apakah yang paling sedikit boleh kuminta darinya?
Allah mengumandangkan bait-bait cintaNya yang pedih kepada hamba-hambaNya yang berilmu yang menempati singgasana dan memimpin dunia
atas padi yang engkau tumbuhkan dari sawah ladang bumimu, kupanjatkan syukur dan kunyanyikan lagu gembira sebagaimana padi itu sendiri berterima kasih kepadamu dan bersukaria
Menderas di darah
Aku yang lain, yang allah
Menderas, mengalir kepadaku
Seperti aliran sungaiku ke lautnya