Penyairpun Bukan
Penyairpun bukan
Aku hanya tukang
Mengembarai hutan
Menggergaji kayu
Penyairpun bukan
Aku hanya tukang
Mengembarai hutan
Menggergaji kayu
Satu matahari hanya menyinari satu mili, tetapi jauh dari atas tempayan itu memancar cahaya yang lain, yang tak kutahu sumbernya tapi kupercaya pasti berasal dari lampu kecil di atas istanaNya
betapa lebat hutan, o betapa lebat hutan
menjelang keabadian
Aku berenang di lautan darah
Yang terbuat dari Tuhan dan sejarah
Gelombang rindu dendam
Suara tangis terlalu panjang
Sekelompok orang, lelaki perempuan, tua muda, bahkan beberapa kanak-kanak di antara mereka, duduk di pojok pasar
Kudaku bersayap terbang ke tuhan
Sayap kanannya cinta
Yang kiri kepahitan
Sakitku ringkik kuda, kudaku merajuk meronta, kudaku mengangkat kaki sematahari, kudaku sakit meringkik, meringkik-ringkik
Hari pertama cahaya maha cahaya
Cahaya maha cahaya tak bisa dikisahkan
Bisa, mungkin. Tapi kita ini dungu
Ilmu kita tingkat serdadu
Tidur hanya bisa padaMu
Ketika larut badan tak mengada
Sudah khatam segala tangis rindu
Tinggal jiwa kusut dan sebuah lagu
Kekasih, beribu tahun meringkus ruang, mengembarai waktu, menguntiti ilmu, bersujud gemetar, memanggang diri di sepenuh rahasia
Pengembara yang telah mengarungi berpuluh-puluh abad rahasia kehidupan, berkisah kepadaku bahwa bagi perjalanan manusia disediakan tiga kendaraan cinta.
segala tak enak dikerjakan
kecuali hening sembahyang
diri sedang tak dunia
diri sedang tak bercanda