Cahaya Maha Cahaya

Cahaya Maha Cahaya
Doa Terampun-Ampun

Doa Terampun-Ampun

Duh Maha Resi yang mengetahui jumlah kelopak bunga seluruhnya yang telah gugur, yang sedang kembang serta yang baru akan tumbuh, di bumi dan langit
Ampunilah kebodohan kami

Ia Bermain Cinta

Ia Bermain Cinta

ia bermain cinta
bermain cinta, lewat kau ke ia
ia mengalir, berjalan-jalan di kau
ia bertualang, bernyanyi, menangis

Abadi Kerinduan

Abadi Kerinduan

Abadi kerinduan
Kepada yang selalu bukan
Nurani sendiri tak terpegang
Tuhan ngumpet di kebisuan

Minuman Keras Nasibku

Minuman Keras Nasibku

Tumpahlah sudah minuman keras nasibku
Yakni lelehan darah nanah kepada tuhanku si pembisu

Puisi Kekasih Belum Selesai

Puisi Kekasih Belum Selesai

puisi kekasih belum selesai, ia bawa ke perjalanan, di perjalanan ia jumpai ribuan orang menangis, kekasih menadahi laut hujan airmata mereka sambil tertawa terbahak-bahak, kertas puisi kekasih basah lumat, tintanya larut, api kandungannya menguap

Sudah Kubuang-Buang

Sudah Kubuang-Buang

Sudah kubuang-buang tuhan
Agar sampai ke yang tak terucapkan
Namun tak sekali ia sedia tak hadir
Terus mengada mengada bagai darah mengalir

Aku Mabuk Allah

Aku Mabuk Allah

aku mabuk allah
lainnya tak berhak dimabuki
lainnya palsu, lainnya tiada

Tak Lagi

Tak Lagi

Kau tanya aku siapa
Dulu memang aku siapa
Kini tak lagi.

Percakapan

Percakapan

Sedang apa, katakanlah
Mulut menggeremang dalam kalimat tak menentu
Mengutuki kasih, yang tak habis ditunggu

Menertawakan Diri Sendiri

Menertawakan Diri Sendiri

Bermakna lebih dari segala ilmu
Ialah menertawakan diri sendiri
Sesudah kegagahan dipacu
Tahu langkah tak sedalam tangis bayi

Gunung Berapi, Lahar Darah

Gunung Berapi, Lahar Darah

gunung berapi melelehkan lahar darah, membelah padang-padangku, menjebol jembatan dan tembok-tembokku, melumatkan desa dan perkotaanku, merenggut seluruh bangunan yang berdiri kaku

Exit mobile version