Doa Terampun-Ampun
Duh Maha Resi yang mengetahui jumlah kelopak bunga seluruhnya yang telah gugur, yang sedang kembang serta yang baru akan tumbuh, di bumi dan langit
Ampunilah kebodohan kami
Duh Maha Resi yang mengetahui jumlah kelopak bunga seluruhnya yang telah gugur, yang sedang kembang serta yang baru akan tumbuh, di bumi dan langit
Ampunilah kebodohan kami
ia bermain cinta
bermain cinta, lewat kau ke ia
ia mengalir, berjalan-jalan di kau
ia bertualang, bernyanyi, menangis
Abadi kerinduan
Kepada yang selalu bukan
Nurani sendiri tak terpegang
Tuhan ngumpet di kebisuan
Tumpahlah sudah minuman keras nasibku
Yakni lelehan darah nanah kepada tuhanku si pembisu
puisi kekasih belum selesai, ia bawa ke perjalanan, di perjalanan ia jumpai ribuan orang menangis, kekasih menadahi laut hujan airmata mereka sambil tertawa terbahak-bahak, kertas puisi kekasih basah lumat, tintanya larut, api kandungannya menguap
Sudah kubuang-buang tuhan
Agar sampai ke yang tak terucapkan
Namun tak sekali ia sedia tak hadir
Terus mengada mengada bagai darah mengalir
aku mabuk allah
lainnya tak berhak dimabuki
lainnya palsu, lainnya tiada
Kau tanya aku siapa
Dulu memang aku siapa
Kini tak lagi.
Sedang apa, katakanlah
Mulut menggeremang dalam kalimat tak menentu
Mengutuki kasih, yang tak habis ditunggu
Bermakna lebih dari segala ilmu
Ialah menertawakan diri sendiri
Sesudah kegagahan dipacu
Tahu langkah tak sedalam tangis bayi
tuhan kukuhkan pundaknya, kawanku memanggul dunia ini seluruhnya, apa tak retak ia
gunung berapi melelehkan lahar darah, membelah padang-padangku, menjebol jembatan dan tembok-tembokku, melumatkan desa dan perkotaanku, merenggut seluruh bangunan yang berdiri kaku