Hati Rapuh

Emha Ainun Nadjib
Emha Ainun Nadjib
Waktu baca ± 1 menit
Bagikan
  • Bagikan ke Facebook
  • Bagikan ke X
  • Kirim WhatsApp

Seorang teman berkata kepada saya: “Hati saya ini sangat rapuh”.

“Apa maksudmu?”

“Tiap hari kerjanya mau nangis dan menyalahkan diri sendiri”.

“Cespleng saja, apa maksudmu?”

“Sekedar melihat orang berjualan makanan, memikul angkringan atau mendorong gerobak, saya sudah hendak menangis”.

“Itu namanya gembeng”, kata saya.

“Melihat orang bekerja sebegitu suntuk, seharian, semalaman, untuk mencari seribu dua ribu rupiah untuk anak istri, perasaan saya hancur….”

“Romantik”, kata saya lagi.

“Apalagi kalau menyaksikan persaingan keras, sehingga yang satu laku keras sedangkan lainnya tidak begitu laku — rasanya mau bunuh diri saya….”

“Hatimu memang rapuh”, saya berkomentar terus.

“Itulah yang ingin saya kemukakan kepadamu”, katanya, “Hati saya sangat rapuh. Sedangkan orang-orang kecil yang saya ceritakan itu berhati baja. Mereka tidak bergeming oleh penderitaan, oleh tekanan-tekanan….”

Emha Ainun Nadjib
Emha Ainun Nadjib
Emha Ainun Nadjib (Cak Nun) mengajak kita membuka yang sebelumnya belum pernah dibuka. Memandang, merumuskan dan mengelola dengan prinsip dan formula yang sebelumnya belum pernah ditemukan dan dipergunakan.

Lainnya

Cermin

Emha Ainun Nadjib

Populer

Kebon
Emha Ainun Nadjib
Maiyahan
Gugur Gunung
Kebon
Emha Ainun Nadjib
Puisi
Redaksi
Pemimpin Yang Tuhan
Emha Ainun Nadjib
Daur
Emha Ainun Nadjib