Tidak Pernah Berbuka

Harianto
Waktu baca ± 2 menit
Bagikan
  • Share on Facebook
  • Share on X
  • Send via WhatsApp

Sejak imsak, kita diperintahkan menahan diri. Bukan hanya menahan lapar dan dahaga, tetapi menahan dorongan nafsu yang bersemayam dalam diri manusia. Puasa dimulai sebelum fajar, seakan memberi pesan bahwa pengendalian diri harus dimulai bahkan sebelum aktivitas kehidupan benar-benar berjalan.

Menjelang maghrib, kita menanti waktu berbuka. Syariat memberi kelonggaran: kita diperbolehkan makan, minum, dan pada malam hari dihalalkan hubungan suami istri. Tubuh diberi haknya kembali, sebagai bentuk keseimbangan antara ibadah dan kemanusiaan. Islam tidak menginginkan manusia tersiksa, melainkan manusia yang sadar.

Namun di balik kelonggaran itu, ada pelajaran yang sering luput dari perhatian: yang benar-benar “berbuka” hanyalah lapar dan dahaga. Selain itu, puasa tidak pernah diperintahkan untuk berhenti.

Amarah tidak memiliki waktu berbuka.
Ghibah tidak dihalalkan setelah adzan maghrib.
Iri hati tidak menjadi boleh setelah minum pertama.
Kesombongan tidak pernah mendapatkan dispensasi syariat.

Jika siang hari kita menahan lisan dari menyakiti, maka malam hari pun ia tetap harus dijaga. Jika siang hari kita menahan emosi, maka setelah berbuka pun kita tetap diminta menjadi manusia yang teduh. Jika siang hari kita berusaha membersihkan hati, maka malam hari adalah waktu melanjutkan kejernihan itu.

Dengan kesadaran ini, puasa menjadi latihan karakter, bukan sekadar ibadah waktu terbatas. Ramadhan mendidik kita bahwa pengendalian diri bukan proyek harian yang dimulai saat imsak dan selesai saat maghrib, melainkan perjalanan seumur hidup.

Di sinilah letak kedalaman makna puasa: kita berbuka dari lapar, tetapi tidak pernah berbuka dari akhlak. Kita berbuka dari dahaga, tetapi tidak pernah berbuka dari kejujuran. Kita berbuka dari rasa haus, tetapi tidak pernah berbuka dari kasih sayang kepada sesama.

Maka, ketika tangan kita mengangkat gelas saat adzan maghrib berkumandang, biarlah yang kita akhiri hanyalah haus tubuh. Sementara kesadaran jiwa tetap berpuasa — menjaga lisan, merawat hati, dan menundukkan ego — sepanjang waktu.

Sebab tujuan puasa bukan sekadar menahan diri sementara, tetapi melahirkan manusia yang sepanjang hidupnya mampu menjaga dirinya.[]

Harianto
Redaktur Maiyah. Inisiator Gerbang. Magister Studi Islam UII Yogyakarta, sehari-hari bekerja sebagai Graphic Designer.

Lainnya

Topik