Puasa dan Shalat

Ramadlan hari ini menjadi sesuatu yang istimewa karena redaktur senior menulis text ke saya pagi-pagi, “Gimana kalau ditulis hubungannya shalat dengan puasa. Shalat kan ibadah gerak, maka perlu dibicarakan tentang hubungan keduanya”. Demikian kira-kira isi text dari redaktur yang sedang sibuk ngurusin takjil untuk jamaah musholla di kompleks rumahnya.
Saya berbangga hati karena mendapat amanah dari redaktur yang juga Yai. Seperti seorang santri yang mendapat perintah dari Yainya. Saya harus bilang ‘Siaaaaap!’ dan tidak bisa bilang ‘tidak’ atau alasan lainnya.
Maka, saya mulai membongkar tulisan, referensi, dan isi otak serta ‘lebih menghayati’ gerakan shalat Dzuhur tadi. Sambil bergumam, “Maturnuwun wak Yai…. karena PR ini saya jadi lebih pintar, setidaknya menulis saya jadi lancar.”
Mari kita mulai.
Puasa mempengaruhi kondisi tubuh dan otak, sebagaimana sudah saya ungkapkan dalam tulisan sebelum ini. Baik secara biologis yang menyangkut pengaturan cairan, hormonal maupun aspek psiko-religius. Sementara shalat mengarahkan kondisi tersebut menjadi ibadah yang lebih sadar dan khusyuk. Mari kita coba telaah hubungan keduanya dari segmen ke segmen berikutnya. Mulai waktu subuh, siang hari, sesudah berbuka, dan tarawih.
Shalat Subuh – Puasa
Setelah sahur, tubuh masih memiliki energi yang stabil karena kadar gula darah dan cairan tubuh masih cukup. Hormon alami seperti kortisol berada pada fase bangun pagi, sehingga fokus cenderung lebih baik.
Jika sahur dilakukan secara ringan dan seimbang, gerakan sholat terasa lebih ringan dan kesadaran spiritual meningkat sejak awal hari. Makan sahur secukupnya. Hal ini sejalan dengan anjuran sahur yang membawa keberkahan, baik secara fisik maupun rohani. Bukan hanya masalah nutrisi, tetapi juga menyangkut masalah kesiapan dan fokus untuk ibadah.
“Makan sahurlah kalian, karena pada sahur ada keberkahan.” (HR. Bukhari & Muslim)
Shalat Siang Hari (Duha, Dzuhur dan Ashar)
Pada pagi hingga siang hari, pada saat kita beraktivitas sebagaimana biasanya, tubuh mulai mengalami penurunan energi karena tidak ada asupan makanan dan minuman. Kadar glukosa darah menurun dan tubuh perlahan menggunakan energi dari lemak, sementara dehidrasi ringan bisa mulai terasa. Tubuh terasa lemah, layu, mulut kering dan sedikit kencing.
Gerakan sholat mungkin terasa lebih berat, namun justru pada fase ini shalat menjadi latihan kesabaran dan pengendalian emosi. Shalat dhuha khususnya diyakini dapat meningkatkan ketenangan psikologis melalui peningkatan hormon endorfin. Seperti dijelaskan oleh Dr. Ebrahim Kazim bahwa ibadah shalat dapat memicu keluarnya enkefalin dan endorfin yang memberikan rasa tenang.
Ada penelitian yang dilakukan di Semarang yang menghubungkan kondisi tenang ini dengan hipertensi yang diderita penghuni panti sosial lansia di Semarang. Hasilnya menegaskan bahwa shalat dhuha bisa menjadi salah satu penanganan nonfarmakologi untuk hipertensi.
“Puasa itu perisai…” (HR. Bukhari).
Artinya, shalat di siang hari memperkuat kontrol diri saat energi menurun. Puasa berfungsi sebagai perisai, dan sholat membantu menjaga stabilitas batin ketika energi fisik menurun.
Shalat Dzuhur berfungsi sebagai ajang optimalisasi pengendalian diri. Pada saat inilah ACTH (Adrenocorticotropic Hormone) yaitu hormon yang diproduksi oleh kelenjar hipofisis anterior di otak, yang berfungsi merangsang korteks adrenal untuk memproduksi kortisol, hormon utama pengelola stres. ACTH berperan penting dalam mengatur metabolisme, meningkatkan glukosa darah, dan penekanan peradangan.
Kadar ACTH diatur oleh hipotalamus dan berfluktuasi sepanjang hari, biasanya tertinggi di pagi–siang hari muncul dalam tubuh. Kondisi ini diikuti oleh optimalnya kadar hormon lainnya seperti Serotonin, Preopioid Melanocortin (POMC), Enkefalin, serta Endorfin. (Hormon-hormon yang mengatur kondisi jiwa/mood manusia). Sebaliknya, Dopamin dan Norepinefrin menurun kadarnya. Penurunan kadar hormon ini juga akan diperkuat oleh gerakan Shalat Dzuhur yang rileks dan pelan-pelan karena efek biologis puasa.
Pada saat ini sebenarnya adalah saat yang tepat untuk digunakan mengerjakan sesuatu yang bersifat analisis dan logika. Karena pada saat inilah otak dan sistem kecerdasan sedikit sekali dipengaruhi oleh nafsu. Sehingga produk analisisnya akan sangat tajam. Ditambah dengan kondisi puasa pada saat ini dimana otak sudah mulai men–switch energi yang digunakan dari glukosa beralih ke keton.
Demikian juga pada saat sholat Ashar. Kadar hormon yang mendukung kecerdasan masih tinggi, sementara hormon yang mengontrol sabar dan ikhlas (serotonin, endorfin, dan aksitosin) juga masih mendominasi. Waktu Ashar inilah sebaiknya potensi manusia untuk berbuat baik diwujudkan.
Shalat dan Puasa memiliki pengaruh positif yang signifikan terhadap peningkatan hormon kebahagiaan tersebut yang berperan dalam meningkatkan suasana hati, mengurangi stres, kecemasan, dan depresi.
(bersambung)
R41447H