CakNun.com

Puasa dan Regulasi Emosi

dr. Eddy Supriyadi, SpA(K), Ph.D.
Waktu baca ± 2 menit

Hari-hari puasa di bulan Ramadlan semakin hari semakin bertambah ujiannya. Bukan masalah lapar dan haus lagi, tetapi banyak hal di luar itu yang menyadarkan saya bahwa puasa ini benar benar sebuah mekanisme hard reset bagi jiwa-raga yang bernama manusia.

Tulisan ini meneruskan mengungkapkan rahasia puasa yang lain. Kali ini kita akan melihat bagaimana kaitan puasa dengan regulasi emosi.

Orang yang sedang berpuasa itu emosinya bermacam-macam. Tergantung mekanisme pertahanan masing-masing individu.

Contoh sederhana adalah: menahan lapar dan haus adalah bentuk stres ringan (mild physiological stress). Secara umum tubuh akan merespons dengan mengaktivasi sistem stres (kortisol). Aktivasi ini bersifat sementara tetapi dalam kondisi adaptif.

Dalam psikologi stres, ada konsep yang disebut dengan ‘hormesis’ yaitu stres ringan yang justru meningkatkan kapasitas adaptasi. Jika puasa dijalankan secara sehat, maka respons yang ada adalah: Individu belajar mengelola ‘ketidaknyamanan’, yang akan meningkatkan toleransi terhadap frustrasi. Sehingga akhirnya regulasi emosi menjadi lebih stabil. Tetapi di sisi lain kita lihat, kondisi kurang tidur atau dehidrasi berat dapat meningkatkan iritabilitas, sehingga flexibilitas emosi harus sangat dikontrol.

Manfaat berikutnya adalah: puasa meningkatkan kesadaran terhadap sinyal tubuh seperti: lapar, haus, tenaga berkurang, dan kelelahan. Dalam disiplin neurosains, kesadaran terhadap kondisi internal ini disebut interoception, yang melibatkan aktivitas pada bagian otak yang bernama insula cortex.

Orang yang memiliki interoceptive awareness yang baik cenderung: lebih mampu mengenali emosi, lebih sadar terhadap kebutuhan tubuh dan meningkatkan kesadaran diri terhadap perasaan, intuisi, dan pikiran yang terdalam. Puasa memperkuat sensitivitas ini karena individu dipaksa memperhatikan tubuhnya dengan lebih sadar.

Di dalam bahasa biologis, ada istilah ritme sirkadian. Apa itu?

Ritme sirkadian adalah jam biologis internal (24 jam) yang mengatur siklus biologis manusia, yaitu: tidur-bangun, pelepasan hormon, suhu tubuh, dan fungsi fisik dan mental lainnya.

Faktor utama/regulator ritme ini adalah kondisi gelap dan terang di lingkungan kita. Sistem ini memengaruhi hampir semua makhluk hidup untuk beradaptasi dengan siklus terang – gelap (siang – malam). Gangguan pada ritme ini dapat mempengaruhi kesehatan.

Bagaimana pengaruh puasa dengan ritme Sirkadian ini ?

Puasa Ramadlan mengubah pola makan dan tidur. Ini berdampak pada: ritme melatonin, ritme kortisol serta pola metabolik. Jika pengaturan tidur dilakukan dengan baik dan disiplin, maka puasa dapat membantu ritme kebiasaan sehari-hari. Namun jika irama tidur terganggu berat, efek psikologis dapat menurun. Tentu ini kondisi yang tidak kita inginkan. Di sini terlihat bahwa puasa bukan hanya soal tidak makan, tetapi soal pengaturan ritme hidup secara keseluruhan.

Begitulah, banyak hal tentang puasa yang sebenarnya bisa kita eksplorasi keuntungan atau manfaat di balik puasa. Kondisi lapar adalah kondisi kenikmatan. Coba kita renungkan baik-baik secara mendalam.

Cak Nun bernah menyampaikan, “Ngelih iku apik, ning yen kaliren iku ora apik (Lapar itu baik, tapi kelaparan adalah tidak baik).”

Kalau dari tinjauan disiplin psikologi, lapar karena kemiskinan menghasilkan stres traumatik, sedangkan lapar karena ibadah menghasilkan makna spiritual. Sama-sama kondisi lapar tetapi efeknya berbeda.

Beberapa penelitian menunjukkan bahwa keyakinan religius dapat: mengurangi persepsi nyeri, meningkatkan ketahanan psikologis dan menurunkan kecemasan eksistensial (rasa takut atau cemas mendalam yang muncul dari perenungan tentang makna hidup, kematian, kebebasan, dan tujuan keberadaan manusia).

Kondisi ini sering memicu krisis eksistensial, menimbulkan perasaan hampa, tidak bermakna, atau ketakutan akan kefanaan, yang umum terjadi saat transisi hidup atau penyakit serius

Nah, dengan demikian, puasa bermanfaat bukan hanya sebagai intervensi biologis, tetapi juga intervensi psikologis.

R12

Lainnya

Hari-Hari Jakarta Tiga

Hari-Hari Jakarta Tiga

Di akademi militer diajarkan bukan saja bagaimana teknik fight (berkelahi), combat (bertarung), taktik memenangkan battle (pertempuran) tetapi juga dilengkapi pelajaran strategi memenangkan war (perang).

Mustofa W. Hasyim
Mustofa W.H.

Topik