Puasa dan Integritas Internal

Profesi dokter menuntut belajar sepanjang masa. Belajar apa saja. Maka jangan heran kalau waktu kuliah dulu saya mendapat banyak mata kuliah yang sekilas tidak berhubungan dengan ilmu kedokteran. Namun ternyata pada kenyataan di lapangan, ilmu-ilmu tersebut sangat dibutuhkan dan berhubungan dengan dunia kedokteran dan kesehatan.
Misalnya ilmu ekonomi kesehatan, sosiologi, budaya, dan juga ilmu psikologi. Itulah kenapa saya akhir-akhir ini methentheng di depan komputer untuk belajar tentang istilah-istilah populer yang berhubungan dengan disiplin ilmu ini. Termasuk juga menggali apa manfaat serta hubungannya dengan ibadah puasa, seperti yang saya sajikan di dua tulisan sebelum ini.
Nah, ini adalah ulasan yang ketiga tentang manfaat puasa yang berhubungan dengan dunia psikologi, yaitu puasa sebagai latihan integritas internal. Apa maksudnya?
Kita ketahui bersama bahwa dalam melakukan ibadah puasa Ramadhan ini kita jalani tanpa pengawasan eksternal, tanpa diawasi oleh orang lain. Murni kejujuran kita yang dipertaruhkan. Dari perspektif psikologi moral, apa yang kita lakukan ini ini melatih apa yang disebut dengan self-integrity, internal locus of control dan moral consistency.
Self-integrity (integritas diri) mencerminkan kesesuaian antara nilai-nilai dan tindakan. Ini adalah pencapaian yang berharga pada kehidupan personal dan profesional. Untuk mencapainya, kita perlu memahami nilai-nilai langsung, menjaga konsistensi tindakan, mengendalikan diri, serta selalu berupaya menjadi individu yang lebih baik.
Internal locus of control adalah keyakinan individu bahwa mereka memiliki kendali penuh atas hidup, nasib, dan hasil dari tindakan mereka sendiri, baik sukses maupun gagal. Orang dengan kontrol internal percaya bahwa usaha, kemampuan, dan keputusan pribadi (‘bukan nasib atau keberuntungan’) adalah faktor utama yang menentukan apa yang terjadi pada mereka.
Moral consistency (konsistensi moral) adalah prinsip kesesuaian dan keberlanjutan yang teguh antara ucapan, tindakan, dan nilai-nilai etika yang dianut seseorang secara terus-menerus. Ini berarti bertindak sesuai prinsip moral yang sama tanpa kontradiksi dalam berbagai situasi, menghindari standar ganda, dan selaras antara keyakinan dan perilaku sehari-hari.
Jadi, berpuasa melatih kita tentang integritas internal. Otak kita belajar bahwa kontrol diri bukan karena takut hukuman sosial, tetapi karena nilai internal. Latihan (baca: puasa) ini memiliki dampak jangka panjang pada pembentukan karakter.
Terhadap penyakit penyakit yang berhubungan dengan saraf, baik itu sel maupun jaringannya, apakah puasa juga bisa menyembuhkan?
Tidaklah pas mengatakan bahwa puasa adalah terapi neurologis yang berlaku secara universal. Kita lihat bahwa penelitian-penelitian pada intermitten fasting menunjukkan hasil: perbaikan sensitivitas insulin pada sebagian populasi, peningkatan faktor neurotropik seperti BDNF (pada model hewan) dan didapatinya proses adaptasi metabolik yang berpotensi melindungi neuron.
Perlu diingat pula bahwa proses di atas juga sangat dipengaruhi oleh: durasi dan pola tidur, nutrisi serta kondisi umum individu. Artinya, puasa adalah modulasi sistem, bukan obat instan.
Dari perspektif psikologi-neurosains yang sudah kita bicarakan, termasuk dalam tulisan sebelumnya, bahwa rahasia terbesar puasa Ramadlan adalah:
Puasa adalah latihan sistematis terhadap kontrol diri, regulasi emosi, dan kesadaran diri selama satu bulan penuh.
Puasa bukan hanya sekadar ibadah ritual yang kita lakukan setahun sekali selama sebulan penuh. Namun puasa adalah program neurobehavioral tahunan. Puasa tidak otomatis menyembuhkan penyakit neurologis atau psikologis. Tetapi sebagai latihan neuropsikologis tahunan, ia memiliki potensi besar dalam pembentukan karakter dan ketahanan mental.
Jadi apakah ini sebagai bentuk cinta Allah kepada hamba-Nya atau wujud tanggung jawab sang Khalik terhadap makhluk ciptaan-Nya?
R13
