Ilmu pada Puasa Ashabul Kahfi

Sore kemarin saya menyimak alunan imam besar masjidil Haram, Syeh Abdul Rahman As-Sudais, pas di juz tengah Al-Qur’an, dan ketemulah dengan surat Al-Kahfi. Sebuah surat yang salah satunya mengingatkan saya pada tadabbur “nyikil kirik”-nya teman-teman KiaiKanjeng.
Tapi saya tidak akan membahas tentang sikil–nya atau bahkan kirik–nya. Bukan, bukan itu yang akan saya bahas.
Pastinya saya lebih tertarik membahas bagaimana Allah mempuasakan sekelompok pemuda (beserta 1 ekor anjingnya itu).
Para pemuda tersebut hidup di masyarakat yang dipimpin oleh raja zalim yang memaksa rakyatnya menyembah selain Allah. Mereka adalah pemuda yang beriman dan menolak kemusyrikan.
“Sesungguhnya mereka adalah para pemuda yang beriman kepada Tuhan mereka dan Kami tambahkan kepada mereka petunjuk.” (QS Al-Kahfi:13)
Karena takut dipaksa meninggalkan iman, mereka memutuskan untuk meninggalkan masyarakat mereka.
“Tuhan kami adalah Tuhan langit dan bumi, kami tidak akan menyeru Tuhan selain Dia.”
Mereka kemudian pergi ke sebuah gua untuk bersembunyi demi menyelamatkan akidah mereka. Kemudian Allah menidurkan mereka. Sangat pulas, sangat lama..
“Maka Kami tutup telinga mereka di dalam gua itu selama beberapa tahun.” (QS Al-Kahfi:11)
Bukan hanya tidurnya yang lama, tetapi puasanya juga sangat lama. Selama (atau sedikit lebih lama) dari tidurnya.
Kisah tujuh pemuda yang tidur (baca: ditidurkan dan sekaligus dipuasakan oleh Allah) selama ratusan tahun, tepatnya 300 tahun (kalender matahari) atau 309 tahun (kalender bulan), merupakan salah satu kisah penting dalam tradisi Islam.
Secara teologis, peristiwa ini dipahami sebagai tanda kekuasaan Allah. Namun, dipandang dari sudut ilmu biologi dan kedokteran modern, kisah ini juga menarik dan sangat layak untuk untuk dianalisis, karena menyentuh aspek fisiologi manusia, metabolisme, dan ketahanan tubuh.
Mari kita urai satu per satu.
Secara biologis, tubuh manusia membutuhkan metabolisme yang terus-menerus untuk keberlangsungan hidupnya. Bila metabolisme sudah berhenti, artinya manusia sudah mati.
Proses metabolisme ini tentu membutuhkan beberapa unsur agar proses ini berlangsung. Ibarat sebuah sepeda motor, maka ia membutuhkan bensin, busi, udara, oli, dan lainnya agar sepeda motor tersebut bisa bekerja dengan baik. Demikian pula pada metabolisme manusia, maka ia membutuhkan air, oksigen, makanan dan juga mikronutrien untuk keberlangsungan metabolisme di dalam tubuhnya.
Secara teoretis, tanpa asupan makanan dan cairan, manusia biasanya hanya dapat bertahan hidup selama beberapa hari hingga minggu. Selain itu, jika seseorang tidak bergerak dalam waktu lama, berbagai komplikasi dapat terjadi seperti atrofi otot, luka tekan (dekubitus), gangguan sirkulasi, kerusakan organ, dan berakhir dengan kematian.
Pertanyaan besarnya adalah: bagaimana ketujuh pemuda dan seekor anjingnya itu bertahan hingga ratusan tahun?
Bagaimana mereka bisa tetap hidup, bagaimana mungkin mereka tidur terus tanpa menderita dekubitus (luka tekan), bagaimana mungkin pakaian mereka tidak terkoyak?
Jawaban teologisnya singkat saja: Mukjizat!
Kisah ini bukan semata-mata tentang fenomena biologis, tetapi juga mengandung pesan spiritual mengenai keteguhan iman, perlindungan ilahi, serta bukti bahwa Allah mampu menjaga kehidupan di luar batas kemampuan manusia!
Lalu bagaimana dengan penjelasan fisiologisnya?
Ada analogi-analogi yang bisa kita terapkan pada fenomena ini.
Pertama, adalah proses tidur panjang untuk bertahan hidup (hibernasi). Beberapa hewan seperti serangga, reptilia, beruang dan tupai dapat menurunkan metabolisme tubuh secara drastis selama musim dingin. Dalam kondisi ini, denyut jantung dan pernapasan melambat, suhu tubuh yang menurun, sehingga kebutuhan energi menjadi sangat kecil.
Kedua, adalah suspended animation, disebut juga mati suri. Dalam penelitian medis modern, terdapat konsep memperlambat metabolisme tubuh secara ekstrem, misalnya melalui hipotermia. Metode ini pernah digunakan pada operasi tertentu untuk memperpanjang waktu toleransi tubuh terhadap kekurangan oksigen.
Ketiga, adalah koma jangka panjang. Pasien dalam kondisi koma dapat bertahan hidup dalam waktu lama, tetapi biasanya membutuhkan dukungan medis intensif seperti nutrisi intravena dan pemantauan organ vital.
Jika kita melihat dari sudut pandang dan dengan kacamata ilmu biologi atau kedokteran modern, ada beberapa hal yang menarik.
Pertama, tubuh mereka tidak rusak sama sekali setelah mengalami tidur panjang. Dalam pandangan medis, tidur panjang bisa mengakibatkan dekubitus (luka tekan) dimana akan terjadi luka di kulit yang bersentuhan langsung dengan dasa/alas tidur. Luka ini terjadi secara spontan.
Makanya, di Rumah Sakit terutama di bangsal intensif, di mana kebanyakan pasien tidak sadar, ada acara untuk memiringkan badan pasien (ke kiri atau ke kanan) untuk waktu tertentu. Hal ini dilakukan untuk menghindari luka tekan (dekubitus). Lalu pada ketujuh pemuda ini siapa yang menjadi perawat untuk membolak-balikkan badan mereka serta seekor anjingnya.
Ternyata jawabannya ada di ayat 18
وَتَحْسَبُهُمْ اَيْقَاظًا وَّهُمْ رُقُوْدٌۖ وَّنُقَلِّبُهُمْ ذَاتَ الْيَمِيْنِ وَذَاتَ الشِّمَالِۖ وَكَلْبُهُمْ بَاسِطٌ ذِرَاعَيْهِ بِالْوَصِيْدِۗ لَوِ اطَّلَعْتَ عَلَيْهِمْ لَوَلَّيْتَ مِنْهُمْ فِرَارًا وَّلَمُلِئْتَ مِنْهُمْ رُعْبًا
Engkau mengira mereka terjaga, padahal mereka tidur. Kami membolak-balikkan mereka ke kanan dan ke kiri, sedangkan anjing mereka membentangkan kedua kaki depannya di muka pintu gua. Seandainya menyaksikan mereka, tentu engkau akan berpaling melarikan (diri) dari mereka dan pasti akan dipenuhi rasa takut terhadap mereka.
Allah Sang Maha Perawat.
Allah Sang Maha Pencegah (dari dekubitus).
(bersambung)
