CakNun.com

Bulan Cahaya Petunjuk

dr. Eddy Supriyadi, SpA(K), Ph.D.
Waktu baca ± 3 menit

Pertemuan dengan Yai redaktur senior (RS) kemarin malam sebenarnya untuk berdiskusi tentang bulan Ramadlan.

“Arti Ramadlan apa Yai?” tanya saya dalam percakapan WA.

“Waittttt,” jawab beliau.

“Asiknya diuraikan sambil ndeprok bersama wkwkwk,” lanjutnya. Kode keras untuk segera merealisasikan rencana ngopi ba’da tarawih.

Demikianlah, maka ba’da tarawih, saya meluncur menyusur jalan kampung di daerah Mancasan, hanya dengan menggunakan rompi (yang ternyata tak sepenuhnya menahan hawa dingin Jogja).

Ini pertama kali saya ngluyur malam di bulan Ramadlan ini. Ternyata jam ba’da tarawih jalanan masih juga penuh, ramai dan riuh. Sampai saya heran ketika saya mendapati sebuah toko pakaian yang nampaknya baru buka, penuh sesak parkir kendaraan dan pengunjung.

Saya sedang memilih pilihan minum dan makanan ketika Yai redaktur senior datang. Sebagaimana biasanya, wajahnya bersinar dan teduh, mencerminkan jiwanya yang tenteram dan bijaksana.

“Halo gaess,” sapa khasnya sambil menjabat tangan saya. Kemudian beliau memilih menu kesukaan beliau. Kami lalu berbincang-bincang seputar perkembangan buku yang akan beliau terbitkan. Yaaah ngobrol-ngobrol ringan seputar perang Iran yang dikeroyok AS-Israel. Sesekali beliau menampakkan geramnya menyoal keanggotaan BOP. Tapi asik. Dinamis.

Pertemuan ini sebenarnya berawal dari texting beliau tempo hari. Saya meminta saran dan ide beliau untuk topik yang akan datang.  Beliaupun merespons dengan jawaban yang lumayan panjang.

Kira2 ada nggak hubungan mengapa Allah menurunkan Al-Quran di bulan Ramadhan (meskipun saat turun itu belum ada syariat puasa seperti yang kita laksanakan)? Apakah itu isyarat bahwa di bulan Ramadhan Allah juga membancarkan hidayah/petunjuk/ide kepada hamba-Nya? Termasuk apa makna bahwa Al-Qur’an diturunkan di bulan Ramadhan, di bulan puasa?

Itulah texting beliau. Saya merasa bahwa ujian dari beliau semakin hari semakin berat. Saya yakin ini cara Yai menchallenge saya, untuk meng-upgrade ilmu saya. Mulailah saya berselancar mencari literatur.

شَهْرُ رَمَضَانَ الَّذِيْٓ اُنْزِلَ فِيْهِ الْقُرْاٰنُ هُدًى لِّلنَّاسِ وَبَيِّنٰتٍ وَ بَيِّنٰتٍ مِّنَ الْهُدٰى وَا لْفُرْقَانِ  

Bulan Ramadlan adalah (bulan) yang di dalamnya diturunkan Alquran, sebagai petunjuk bagi manusia dan penjelasan-penjelasan mengenai petunjuk itu pembeda (antara yang benar dan yang batil). (QS. Al-Baqarah: 185)

Ayat ini menunjukkan hubungan langsung antara bulan Ramadlan – Al-Qur`an – hidayah (petunjuk). Artinya bulan Ramadhan bukan sekadar bulan puasa, tetapi bulan di mana manusia diarahkan kembali kepada petunjuk Tuhan.

“Tapi kan waktu Al-Qur`an diturunkan pertama kali, belum ada perintah puasa kan?”

Sistem kalender di Arab sebelum Islam berbasis 12 bulan qamariyah, namun disesuaikan dengan musim melalui metode interkalasi (penambahan bulan ke-13/nasi’). Tahun tidak dinomori secara berurutan, melainkan dinamai berdasarkan peristiwa penting yang terjadi. Misalnya lahir Nabi pada tahun gajah (tahun di mana Ka’bah diserbu oleh Abrahah dengan pasukan Gajah).

Demikian diskusi kami sambil ngemil makanan yang sudah tersedia. Di sela-sela makan Yai redaktur senior bilang bahwa yang banyak dikatakan, dulu bulan Ramadhan emang bulan yg disakralkan oleh orang-orang Arab pra Islam. Gampangnya mereka menjadi lebih spiritual. Tidak boleh ada perang. Nggak boleh ada pertikaian. Menep. Tentu bagi mereka yang memang punya kebiasaan tafakkur.

“Termasuk yang menepi 40 hari di gua Hira?” timpal saya penasaran.

“Demikianlah gaess.”

“Intinya, emang dari dulu Ramadlan itu bulan rohani,” jawab Yai.

“Kalau arti harfiahnya banyak. Salah satunya, ramadhan itu saat yang banget berat/panas,” lanjutnya. Masyarakat Arab Jahiliyah terkadang melakukan tahannuts (berdiam diri/ibadah) atau berpuasa sebagai bagian dari ritual khusus pada bulan Ramadlan tersebut.

Karena bulan Ramadlan adalah bulan yang memang terpilih di kalangan Arab, yang merupakan bulan rohani, maka besar kemungkinan Allah memilih bulan ini sebagai bulan pertama kali turunnya Al-Qur`an.

Kira-kira demikian komentar Yai redaktur senior atas kesimpulan saya.

Karena secara tradisi, bulan Ramadhan adalah bulan kontemplasi yang kemudian dipilih Allah untuk nuzulul quran, maka kemudian Islam menyempurnakannya dengan turunnya kewajiban berpuasa di bulan itu. Bulan kontemplasi sekaligus penghormatan (bulan rohani).

“Barangkali begitu rutenya,” kata Yai. Singkat dan sekaligus menarik suatu hikmah.

Turunnya Al-Qur`an di bulan Ramadlan (Nuzulul Qur`an) adalah sebuah isyarat kuat bahwa Allah memancarkan hidayah, petunjuk, dan inspirasi (ide) kebaikan kepada hamba-Nya. Bulan Ramadlan disimbolkan sebagai bulan petunjuk (syahrul huda) dan pembeda antara hak dan batil, di mana suasana spiritual memudahkan hati menerima cahaya kebenaran.

Setidaknya saya berusaha menangkap cahaya itu yang dibiaskan melalui Yai redaktur senior dalam pertemuan ini.

Saya seruput kopi saya. Kali ini saya merasakan semakin enak dan lezat!

R21

Lainnya

Jalan Baru Ekonomi Kerakyatan

Jalan Baru Ekonomi Kerakyatan

Rakyat kecil kebagian remah kemakmuran berupa upah buruh murah, dan negara kebagian remah kemakmuran berupa pajak.

Nahdlatul Muhammadiyyin
NM

Topik