MAIYAH BUKAN PRESTASI

Delapan dari Sepuluh

Emha Ainun Nadjib
Emha Ainun Nadjib
Waktu baca ± 1 menit
Bagikan
  • Bagikan ke Facebook
  • Bagikan ke X
  • Kirim WhatsApp

Di tengah panas terik dan puncak kehausan, seteguk air itu dahsyat, nikmat, ajaib, bahkan serasa “mukjizat”. Bukan karena setetes air itu sebanding mutunya dengan segelas Es Teler, melainkan karena kadar rasa syukur orang yang sedang sangat haus.

Andaikan Maiyah itu semacam seteguk air: ia bukanlah karya, bukan prestasi, bukan sukses, bukan keberhasilan dan kejayaan siapapun saja. Tak ada selain Allah yang mampu menyelenggarakan keajaiban. Karena keajaiban itu juga diperuntukkan hanya bagi yang Allah memperkenankannya, sehingga mengalami keajaiban itu.

Batu besar menggunduk di jalanan Maiyah hari ini adalah keinginan dan “semacam nafsu” agar Allah mengeksekusikan keajaiban yang lebih besar dan kasatmata kepada Indonesia dan Dunia, dalam wujud dan takaran seperti yang didambakan oleh hati para pejalan Maiyah. Ingin Allah lebih segera “menagih hutang”, “merampas kembali segala yang dirampok”, “membangkitkan kembali semua yang dirobohkan”, “mengangkat yang dilemahkan menjadi pemimpin, dan menjadikannya pewaris kekuatan-Nya”.

Maiyah menemani hamba-hambaNya di ribuan titik. Memohon pembengkakan jumlah Al-Muhtadin dan Al-Mutahabbina Fillah. Bershadaqah ikhtiar menghimpun mereka ke dalam Cinta Segitiga dengan Allah dan Rasulullah. Tetapi Maiyah tidak memasuki pagar Demokrasi, karena sabda Rasulullah saw: “Wahai Abdurrahman, jangan minta jadi pemimpin. Kalau kamu jadi pemimpin karena permintaan atau keinginanmu, maka semua urusan menjadi urusanmu sendiri, Allah tidak mau tahu. Tapi kalau kamu jadi pemimpin bukan atas permintannmu atau keinginanmu, Allah akan membantumu.”

Para pelaku Maiyah merdeka untuk tidak mampu bertahan berada di luar pagar. Mereka memiliki hak asasi untuk memasuki Demokrasi, mencalonkan diri menjadi pemimpin, memamerkan kebaikan dan kehebatannya di baliho-baliho sepanjang jalan. Minimal menjadi relawan catnya, garisnya, font-nya, kayu framing-nya, atau logam penyangganya. Syukur nanti katut jadi Menteri, Dirjen, Sekjen, Dirut, Komisaris, Rektor, Dekan, Duta Dialog Peradaban, sekurang-kurangnya kesrèmpèt proyek.

Para pelaku Maiyah lainnya bertahan dalam sunyi: “Qulillahumma Malikal mulki tu`til mulka man tasya`...”. “Kulla ma nadaita ya Hu, qala ya ‘abdi ana-Llah”.

Emha Ainun Nadjib
Emha Ainun Nadjib
Emha Ainun Nadjib (Cak Nun) mengajak kita membuka yang sebelumnya belum pernah dibuka. Memandang, merumuskan dan mengelola dengan prinsip dan formula yang sebelumnya belum pernah ditemukan dan dipergunakan.

Lainnya

Tetes

Emha Ainun Nadjib

Populer

Mocopat Syafaat
helmi mustofa
Daur
Emha Ainun Nadjib
Kebon
Emha Ainun Nadjib
Daur
Emha Ainun Nadjib
Cahaya Maha Cahaya
Emha Ainun Nadjib