Catatan Sinau Bareng Cak Nun dan Ibu Novia Kolopaking, Korsel 28-30 Januari 2017

Kebanggaan Cak Nun untuk Pekerja Indonesia di Korsel

Sinau Bareng di Hanyang University-Guest House berlangsung penuh makna dan muatan. Kehadiran Cak Nun dan Ibu Novia disambut pagelaran seni Jaranan dan Reog Ponorogo. Hal yang membuat Cak Nun menungkapkan rasa bangga terhadap teman-teman TKI di Korea Selatan. Sesuatu yang menerbitkan optimisme Cak Nun terhadap masa depan bangsa Indonesia. Persembahan Jaranan dan Reog ini menggambarkan dengan jelas: di mana pun berada, mereka tetap percaya diri menjadi dirinya sendiri, yakni diri sebagai orang Indonesia. Sekalipun berada di Korea Selatan, mereka tidak ingin menjadi bukan Orang Indonesia.

Kehadiran Cak Nun dan Ibu Novia disambut pagelaran seni Jaranan dan Reog Ponorogo.
Kehadiran Cak Nun dan Ibu Novia disambut pagelaran seni Jaranan dan Reog Ponorogo. Foto: Gandhie.

“Problem Indonesia yang sebenarnya itu bukan kemiskinan, karena jika ukurannya materi kita sangat kaya raya”, tegas Cak Nun. Lebih jauh Beliau katakan, bahkan secara mental pun Bangsa Indonesia adalah bangsa yang sangat unggul. Terbukti bagaimana di Korea Selatan TKI sangat dihargai dan diidolakan oleh perusahaan-perusahaan di sana karena keuletan, tanggung jawab, dan etos kerja mereka.

Hal ini membawa Cak Nun untuk menunjukkan dan mengingatkan kita semua bahwa masalah utama Bangsa Indonesia adalah ketidakmampuan menjaga martabat diri. Kita tidak bangga menjadi diri kita sendiri.

Selain mengungkapkan kebanggaan kepada teman-teman pekerja Indonesia di Korsel dalam perspektif keunggulan manusia Indonesia, di bagian awal Cak Nun menguraikan posisi penting Rasulullah di dalam kehidupan kita. “Jadi sebenarnya, tidak ada satupun dari kita yang bisa diandalkan dihadapan Allah, kecuali Rasulullah Saw. Maka dari itu Allah memberikan prosedur kepada kita untuk bersholawat kepada Nabi Muhammad Saw sebagai wujud cinta kita kepada Rasulullah Saw,” papar Cak Nun. Ihwal shalawat ini kemudian memunculkan pendalaman dari para jamaah pada segmen dialog.

Kehadiran Ibu Novia adalah kebahagiaan dan warna tersendiri dalam Sinau Bareng ini. Untuk teman-teman di Korsel ini, Ibu Novia mempersembahkan beberapa nomor lagu. Di antaranya lagu “Semau-maumu” KiaiKanjeng dan “Asmara”.

Agar lebih relevan dan akurat dengan kebutuhan teman-teman yang hadir, Cak Nun memanfaatkan bagian terbesar waktu dengan memberikan kesempatan dialog. Dari pertanyaan dan pengemukaan pikiran dari peserta, Cak Nun menyampaikan respons.

Benar saja, berbagai pertanyaan yang bagus dan kontekstual dengan kebutuhan riil sehari-hari mereka baik sebagai pribadi, pekerja di luar negeri, umat Islam, maupun sebagai warga negara Indonesia mengemuka mewarnai Sinau Bareng dan menjadikan suasana hidup oleh nyala semangat menimba ilmu dan mencari jawaban atas pertanyaan diri.

Ibu Novia mempersembahkan lagu “Semau-maumu” KiaiKanjeng dan “Asmara”.
Ibu Novia mempersembahkan lagu “Semau-maumu” KiaiKanjeng dan “Asmara”. Foto: Gnadhie.

Ada yang bertanya bagaimana menyikapi orang-orang yang melarang Sholawatan dengan versi-versi modern karena dianggap menyerupai nyanyian-nyanyian di gereja, sehingga dianggap melakukan tindakan “menyerupai kaum lain” (tasyabbuh) sebagaimana dilarang dalam sebuah hadits Nabi. Ada pertanyaan bagaimana hukumnya menjama’ sholat jika dilakukan oleh para pekerja di Korea Selatan karena memang waktu istirahat yang diberikan oleh majikan di pabrik tidak sesuai dengan waktu-waktu sholat, sehingga tidak mungkin melakukan sholat sesuai dengan waktu yang ditentukan.

Pertanyaan lainnya, bagaimana memilih ulama saat ini ketika banyak sekali ulama sekarang saling bersebrangan satu sama lain, saling merasa benar sendiri, sehingga ummat merasa kebingungan mana ulama yang benar-benar harus diikuti dan diteladani.

Pentingnya Memahami Konsep Dasar Ibadah Mahdloh dan Ibadah Muamalah

Menjawab pertanyaan-pertanyaan rekan-rekan ini, Cak Nun memberangkatkan uraiannya dengan memaparkan pengertian kategori Ibadah Mahdloh dan Ibadah Mu’amalah. Hal yang sangat sering Beliau terangkan dalam berbagai kesempatan, dan tampaknya memang masih terus banyak perlu dijelaskan, agar dua konsep dasar ini benar-benar bisa dipahami agar di dalam menjalankan agama orang mengerti posisi dan proporsi segala sesuatu.

Aturan dasar yang berlaku adalah, jika Ibadah Mahdhloh: jangan lakukan apapun kecuali  yang diperintahkan. Sedangkan jika Ibadah Mu’amalah adalah: lakukan apa saja kecuali yang dilarang.

Adapun terhadap pertanyaan apakah boleh menjamak sholat karena terbentur waktu bekerja di mana waktu istirahat yang diberikan tidak memungkinkan untuk melaksanakan sholat sesuai waktunya, Cak Nun mengajak teman-teman memasuki semesta kedaulatan ittiba’ (muttabi’/mengikuti dengan mengetahui) dalam menjalankan ibadah. Cak Nun menjelaskan bahwa menjama’ sholat ada berbagai versi pendapat dari beberapa ulama, silakan pilih sesuai keyakinan diri masing-masing. Karena setiap versi tersebut merupakan hasil ijtihad dari setiap ulama itu sendiri yang sudah dipertimbangkan berdasarkan dalil-dalil yang ada.

Cak Nun memanfaatkan bagian terbesar waktu dengan memberikan kesempatan dialog.
Cak Nun memanfaatkan bagian terbesar waktu dengan memberikan kesempatan dialog.

Lantas, bagaimana dengan ketika kita bingung memilih Ulama mana yang harus diikuti saat ini? Cak Nun secara gamblang memberikan panduan: yang harus diutamakan adalah mencari apa yang benar, bukan siapa yang benar. Sehingga kita tidak terpaku pada sosok ulama, melainkan pada apa yang disampaikan. Jika ingin diperluas lagi, kita lihat bagaimana perilaku ulama tersebut sehari-hari, apakah memberikan teladan dan maslahat bagi orang lain atau tidak. Jika memang hidupnya memberikan maslahat yang baik bagi orang lain, maka ia layak untuk kita teladani dan kita ikuti.

Menyelami Hakikat Shalawat

Sementara itu, menjawab pertanyaan tentang sholawatan yang dianggap menyerupai tradisi kaum lain, Cak Nun menjelaskan bahwa kita harus kembali ke aturan Ibadah Muamalah; lakukan saja semuanya kecuali yang dilarang. Dalam hal shalawatan, yang diperintahkan oleh Allah hanyalah bersholawat kepada Nabi Muhammad Saw, tidak diatur bagaimana tata cara kita bersholawat, apakah harus dengan lagu, apakah tidak boleh dengan alat musik dan lain sebagainya, Allah tidak mengatur hal tersebut.

Maka, bagaimana cara kita bersholawat merupakan hasil kreativtas kita masing-masing. Yang perlu diperhatikan adalah kapan kita sholawatan. Bukan soal apakah sholawatan itu ada waktu-waktu tertentu yang diharuskan, melainkan berdasarkan pertimbangan budaya dan estetika, harus kita pikirkan kapan seharusnya kita sholawatan dan kapan sebaiknya kita tidak sholawatan. Dan pertimbangan ruang dan waktu ini juga berlaku pada hal-hal yang lain dalam Islam, sebagaimana Allah menentukan waktu-waktu sholat dan jumlah rakaat dalam setiap sholat wajib lima waktu.

Cak Nun menjelaskan bahwa sholawat yang kita lakukan kepada Rasulullah Saw merupakan wujud bukti kecintaan kita kepada Rasulullah Saw, begitu juga Allah dan para Malaikat bersholawat kepada Rasulullah Saw. Kita harus menyadari bahwa hal ini merupakan wujud kecintaan Allah dan Malaikat kepada Rasulullah Saw. Dan kita tidak berhak mengatur dan menentukan bagaimana cara Allah dan Malaikat bersholawat. Apalagi jika kita telisik lebih jauh, kata Sholawat itu sendiri berasal dari kata yang sama dengan Sholat.

Dalam Al-Qur’an dijelaskan bahwa perintah bersholawat kepada Rasulullah Saw menggunakan kata Yusholluna. Innallaha wa malaaikatahu yusholluuna ‘alannabi, ya ayyuhalladziina amaanu sholluu ‘alaihi wa sallimuu tasliimaa. Kata Yusholluna merupakan kata yang sama dan satu makna dengan kata Yusholli. Tetapi jangan kemudian dimaknai bahwa Allah melakukan Sholat kepada Nabi Muhammad Saw seperti kita melakukan Sholat kepada Allah Swt. Tentu berbeda.

Sinau Bareng di Hanyang University-Guest House.
Sinau Bareng di Hanyang University-Guest House.

Cak Nun memberi perumpamaan ketika seorang anak mencintai orangtuanya dan orangtuanya juga mencintai anaknya, peristiwanya sama tetapi bagaimana masing-masing menunjukkan cintanya itu tidak sama perilakunya. Ketika sang anak mencintai orangtuanya kemudian mencium tangan orangtuanya, tidak lantas kemudian orangtuanya mengungkapkan cintanya juga dengan cara mencium tangan anaknya. Ada nuansa juga ruang dan waktu yang berbeda pada setiap wujud cinta yang diungkapkan.

Keutuhan dan Keniscayaan antara Bertuhan dan Beragama

Kemudian ada yang bertanya, apakah mungkin manusia bertuhan tanpa beragama? Untuk pertanyaan ini, Cak Nun menyuguhkan sebuah ilustrasi:  apakah mungkin manusia mengenal Allah tanpa agama? Al-Qur’an, juga Rasulullah Saw merupakan “perangkat” yang memperkenalkan Allah kepada manusia. Adanya Al Qur’an dan Rasul merupakan satu kelengkapan yang menjadikan sebuah Agama menjadi satu perangkat yang menjembatani hubungan antara manusia dengan Allah. Sehingga sangat tidak mungkin manusia bertuhan tanpa beragama. Karena, yang terjadi kemudian jika manusia bertuhan tanpa beragama, manusia akan seenaknya sendiri memberi nama kepada Tuhan itu sendiri, begitu juga kepada Malaikat.

Tanpa adanya Agama, maka manusia tidak akan mengenal Malaikat-Malaikat Allah. Adanya agama memudahkan manusia untuk mengenal Malaikat-Malaikat yang bekerja untuk kehidupan. Adanya agama memudahkan manusia untuk turut serta mengelola alam semesta agar menjadi rahmat bagi semua makhluk hidup.

Pemimpin Sejati, Malati, dan Disegani

Ada satu pertanyaan menggelitik dan mungkin tak kita bayangkan: Bagaimana jika ingin pulang ke Indonesia sementara keadaan Indonesia saat ini sedang tidak menentu. Lagi-lagi, jawaban Cak Nun adalah jawaban yang mendasar menyangkut nilai hidup manusia, jauh dari jawaban teknis kalkulasi ekonomi belaka. Menurut Cak Nun, yang paling penting adalah bagaimana kita secara pribadi menjaga martabat kita masing-masing. Cak Nun melihat sisi yang membanggakan pada diri mereka, yakni mereka sebagai TKI berjuang mencari nafkah dengan bekerja di Luar Negeri dengan semangat menjaga martabat dirinya dan keluarganya agar tetap utuh, serta agar keadaan ekonomi keluarganya tetap stabil. Semangat inilah yang harus terus dijaga, sehingga tidak mudah terseret arus mainstream di Indonesia saat ini.

Melengkapi pembahasan tentang politik Indonesia, Cak Nun bercerita apa yang dialaminya hari-hari terakhir sebelum berangkat ke Korea Selatan. Intinya, Cak Nun tetap mengambil keputusan-keputusan yang berpatokan pada menjaga martabat agar tidak terseret dalam arus politik di Indonesia saat ini. Teman-teman ini pun menunjukkan ekspresi mendukung langkah Cak Nun.

Sinau Bareng Cak Nun di Hanyang University-Guest House.
Cak Nun semakin yakin bahwa anak-anak Indonesia yang berada di luar negeri ini masih menjaga martabat dirinya dan keluarganya.

Dari respon teman-teman TKI di Korea Selatan ini, Cak Nun semakin yakin bahwa anak-anak Indonesia yang berada di luar negeri ini masih menjaga martabat dirinya dan keluarganya. Cak Nun mengungkapkan bahwa selama ini Maiyahan berkeliling kemana-mana selalu bertemu dengan anak-anak muda yang sangat tangguh mentalnya, sangat terampil, menguasai IT, memiliki kedisiplinan yang tinggi dalam dirinya.

“Seluruh problem Indonesia tidak bisa diselesaikan kecuali Allah mendatangkan pemimpin yang sejati untuk Indonesia”, simpul Cak Nun memberikan pemahaman. Maka, Cak Nun menyarankan kepada TKI yang hendak pulang ke Indonesia, harus dihitung benar dan direncanakan dengan baik apa yang akan dilakukan di Indonesia kelak misalnya dengan rencana merintis usaha yang baru.

Cak Nun menjelaskan bahwa sistem dan undang-undang yang ada, bahkan dengan bentuk Negara yang dianut oleh Indonesia saat ini sangat tidak mendukung terwujudnya perubahan di Indonesia. UUD 1945 sendiri sudah diamandemen pada tahun 2002, dan hari ini ada 167 peraturan pemerintah yang bertentangan dengan UUD 1945. Sangat tidak efisien waktu yang dibutuhkan untuk mengembalikan ke UUD 1945. Ada serangkaian rapat di DPR yang tentu tidak hanya menghabiskan tenaga, tetapi juga dana yang sangat banyak. Maka, Presiden yang dibutuhkan oleh Indonesia adalah seorang Pemimpin yang sudah tidak patheken terhadap dunia. Indonesia membutuhkan Pemimpin yang malati. Pemimpin yang ditakuti dan disegani oleh rakyatnya. Seperti ungkapan Rasulullah Saw pada saat menjelang Perang Badar: In lam takun ‘alayya ghodobun falaa ubaalii/Asalkan Allah tidak marah kepadaku, maka aku tidak peduli (dengan dunia).

Setelah teman-teman yang hadir, yang ada di dalam gedung maupun di luar gedung, tuntas menyimak paparan dari Cak Nun walaupun pasti belum ingin pungkas, mengikuti semua sajian seni dan muatan ilmu, acara segera dipuncaki dengan penampilan Grup Setio Laras dengan membawakan Tombo Ati bersama Cak Nun. [fa/hm/gd]⁠⁠⁠⁠

Kehadiran Cak Nun dan Ibu Novia disambut pagelaran seni Jaranan dan Reog Ponorogo. Hal yang membuat Cak Nun menungkapkan rasa bangga terhadap...

Bagikan

search cart twitter facebook gplus whatsapp youtube image