Catatan Sinau Bareng Cak Nun dan Ibu Novia Kolopaking, Korsel 28-30 Januari 2017

Bandara Seoul dan Gerombolan Penjemput

Sesudah akhir Desember 2016 lalu menyambangi para pelajar Indonesia di Jerman, Belgia, dan Belanda selama satu pekan, kali ini pada akhir bulan Januari ini sesudah rangkaian acara di Polinema Malang dan Kantor Bea Cukai Surabaya, Cak Nun dan Ibu Novia Kolopaking kembali meninggalkan tanah air menuju Korea Selatan untuk menemui para pekerja Indonesia di sana.

Di sana, teman-teman Paguyuban se-Jawa Timur akan menggelar Sinau Bareng bersama Cak Nun dan Ibu Novia Kolopaking di Hanyang University Guest House di Wangsimni-ro, Sageun-dong, Seongdong-Gu, Seoul Minggu 29 Januari 2017 pukul 10.00 waktu Korsel. Mereka menyebut acara ini Ngopi (Ngopeni Ati lan Ngopeni Pikiran) Bareng Cak Nun dan Ibu Novia Kolopaking.

Tiba di Seoul disambut banyak penjemput. Foto: Gandhie.
Tiba di Seoul disambut banyak penjemput di bandara Incheon. Foto: Gandhie.

Sabtu pagi 28 Januari 2017 pukul 09.00 waktu setempat Pesawat Garuda Indonesia yang membawa Cak Nun dan Ibu Novia Kolopaking penerbangan sekitar 6,5 jam dari Jakarta telah mendarat di Incheon International Airport Seoul Korsel. Puluhan orang telah menanti dan menunggu kedatangan beliau berdua. Ini adalah penjemputan terbanyak dari tamu-tamu yang biasanya datang ke Korea. Bahkan tak sedikit teman-teman yang akan terbang kembali ke Indonesia menyempatkan turun menunggu Cak Nun terlebih dahulu untuk menyapa dan berjabat tangan.

Suhu dingin -5 derajat celsius menyambut kedatangan Cak Nun dan Ibu Novia. Walaupun dingin, selain mereka sudah terbiasa dan toh ini lebih mending dari hari-hari sebelumnya yang -12 ke atas, rasa rindu akan kehadiran Bapak dan Ibu mereka sendiri membuat hari itu penuh kegembiraan tersendiri. Memang Cak Nun dan Ibu Novia adalah orang tua bagi mereka. Sudah beberapa kali kedua beliau datang ke Korea. Seperti sering beliau ceritakan, kedatangannya ke Korea ini, sebagaimana di beberapa negara lain juga, bukanlah sebagai ustadz atau kiai, melainkan lebih sebagai orang tua mereka, yang siap cangkruk dan datang ke kos mereka tanpa harus dijemput.

Transit di Masjid Mujahidin. Foto: Gandhie.
Transit di Masjid Mujahidin. Foto: Gandhie.

Dari Bandara, dengan perjalanan sekitar 30 menit, Cak Nun dan Bu Via diajak transit ke Masjid Mujahidin. Ini adalah masjid hasil sewa patungan oleh teman-teman pekerja Indonesia di sekitar Incheon. Di masjid inilah, Cak Nun dan Bu Via bersilaturahmi sejenak dengan teman-teman pekerja Indonesia di sini. Terlihat sekali mereka bahagia dengan kedatangan Cak Nun. Mereka satu per satu berjabat tangan dengan Cak Nun.

Oh ya, saat tiba di Bandara tadi, salah seorang yang turut menjemput adalah Mr. Lee yang datang dari Busan dan langsung balik lagi ke Busan. Mr. Lee ini adalah orang Korea yang sudah cinta berat sama pekerja-pekerja Indonesia. Karena kualitas kerja mereka yang bagus tentunya. Sahabat karibnya adalah Silok, orang Indonesia yang dipercaya sama dia untuk menghandle tugas-tugas di perusahaannya dan bahkan menjalin kerjasama bisnis dengannya. Saat Silok mau pulang ke Indonesia beberapa waktu, dia ngganduli dan sangat kehilangan. Mas Silok sendiri pernah hadir di Mocopat Syafaat. Pun Mr. Lee pernah silaturahmi ke Kadipiro. Mr. Lee adalah satu potret interaksi hati antara orang Korea dan Indonesia.

Dari Masjid Mujahidin, teman-teman mengajak Cak Nun dan Bu Via untuk berjalan-jalan menuju Pasar Namdaemun sekitar satu jam perjalanan. Kendatipun lebih banyak orang dan pedagang yang libur hari kemarin. Kemudian dari pasar ini, rombongan kembali ke penginapan Cak Nun dan Bu Via yaitu di Hivice Tourist Hotel.

Malam harinya, sekitar pukul 21.00, Cak Nun diajak ke sekretariat Indonesian Community Center (ICC) di Ansan, Gyeonggi-do. Teman-teman ICC menggelar tumpuengan atau syukuran sebagai ungkapan rasa senang dan bersyukur Cak Nun dan Bu Via telah datang ke Korea. Cak Nun diminta memotong nasi tumpeng yang telah disiapkan, untuk kemudian bersama-sama makan bersama.

Tumpengan di sekretariat Indonesian Community Center (ICC) di Ansan, Gyeonggi-do. Foto: Gandhie
Tumpengan di sekretariat Indonesian Community Center (ICC) di Ansan, Gyeonggi-do. Foto: Gandhie

ICC adalah induk yang mewadahi paguyuban-paguyuban pekerja Indonesia di Korsel. Banyak dari mereka yang berasal dari Jawa Tengah, Jawa Timur, dan daerah-daerah lain di Indonesia. “Pertama-tama, terima kasih Mbah Nun sudah bisa hadir di Korea…. Semoga ini semua dapat mempersatukan dan mempererat lagi persaudaraan antar masing-masing paguyuban,” ujar Diko ketua ICC.

Yang hadir dalam tumpengan ICC tersebut mayoritas berasal dari Ansan, Inchoen, Hwasong, Choenan, Baran, dan Osan. Selain berinteraksi dan beraktivitas melalui Paguyuban, ada satu lagi wadah interaksi mereka, yaitu pengajian.

Dan di antara mereka para pekerja Indonesia di Korsel ini ada yang kemudian melingkar dan menamakan diri Tongil Qoryah. Merekalah para jamaah Maiyah atau Jannatul Maiyah yang terdiri atas para pekerja Indonesia di Korea. Mereka adalah satu di antara tiga puluhan simpul Jamaah Maiyah. Mereka adalah salah satu simpul internasional Jannatul Maiyah. Malam hari, usai pertemuan di sekretariat ICC, Cak Nun kembali ke penginapan dan shalawatan bersama-sama teman-teman Tongil Qoryah. Esok pagi, (Minggu, 29 Januari 2017) Cak Nun dan Bu Via segera bergerak menuju Hanyang University Guest House untuk Sinau Bareng. (gd/hm)

search cart twitter facebook gplus whatsapp telegram youtube image