Menelusuri Gang-Gang Sekitar Frankfurt Hauptbahnhof

Setelah istirahat sejenak, Cak Nun dan Ibu Novia mengisi waktu luang sebelum acara di Indonesische Moschee Frankfurt (Masjid Indonesia Frankfurt) dengan menyusuri jalan Kaiserstrasse. Siang itu dingin cukup berkabut disertai gerimis tipis. Di tengah suhu 1 derajat Cak Nun dan Ibu Novia memasuki salah satu stasiun paling ramai dan sibuk di Eropa, yaitu Frankfurt Hauptbahnhof.

Menyusuri jalan Kaiserstrasse
Menyusuri jalan Kaiserstrasse

Kemudian keluar berjalan melewati jajaran pertokoan. Setelah dirasa cukup berkeliling, Ibu Novia mengusulkan memasuki sebuah Supermarket. Selain membeli beberapa barang kecil, juga tak lain bertujuan untuk menghangatkan tubuh setelah kedinginan di luar. Setelah puas melihat-lihat dan berjalan, Cak Nun dan Ibu Novia kembali ke penginapan.

Beberapa menit kemudian Mbak Rani datang dan akhirnya turut bergabung mengobrol di lobi penginapan bersama Cak Nun, Ibu Novia, dan teman-teman panitia. Mbak Rani adalah Putri dari almarhum Pak Dhe Nuri sesepuh KiaiKanjeng. Ia menyempatkan diri datang dari Kota Freiburg setelah menempuh 4 jam perjalanan menuju Frankfurt untuk menemui Cak Nun dan Ibu Novia. Ia berada di sini dalam rangka melaksanakan penelitian program Wintersemester di Universitat Freiburg. Penelitian yang berfokus pada kehidupan pengungsi dari Suriah, Afghanistan, Irak, dan Iran yang mengungsi di Freiburg, Jerman.

Ihwal pengungsi ini, akhir tahun 2015 silam, pada bulan Desember tepatnya, sempat viral sebuah video paduan suara anak-anak Kanada yang menyanyikan Tholaal Badru untuk menyambut pengungsi dari Suriah. Perdana Menteri Kanada mengatakan Welcome Home pada pengungsi dari Suriah. Dan yang terjadi di Indonesia malah beberapa oknum Muslim nyinyir menanggapi video tersebut. Cak Nun berpendapat bahwa kebanyakan Muslim Indonesia itu keras atau bahkan kejam kepada golongan Islam lainnya dan menyikapi lembut pada persoalan yang di luar Islam.

Waktu makan siang pun tiba, rombongan berjalan menuju Kaiserstrasse, dan berhenti di sebuah rumah makan Thailand di Jantung kota Frankfurt. Setelah memesan dan menyantap makan siang, Aditya dan teman-teman panitia melontarkan beberapa hal atau pertanyaan terkait Syariat Islam kepada Cak Nun. Terjadilah obrolan seputar Syariat Allah, Syariat Islam, Agama, Hukum Teknologi, dan lain sebagainya. Bahwa pohon tumbuh dan terjadi pergantian musim itu semua merupakan syariat Allah. Dan manusia hidup tidak bisa lepas atau melawan syariat dari-Nya.

Ngopi, sekedar menghangatkan diri.
Ngeteh, sekedar menghangatkan diri.

Dalam obrolan lain di meja makan tersebut Cak Nun menyebutkan bahwa yang terjadi hari ini adalah mayoritas orang-orang Muslim mempersempit pemahamannya terhadap Al-Qur`an dan Hadist. Mereka dengan mudah mengafir-ngafirkan saudaranya sesama Muslim dan ironisnya dalam mengafirkan orang lain itu menggunakan social media yang juga bukan milik Muslim.

Lepas dari obrolan itu, Cak Nun dan Ibu Novia kembali ke penginapan, dan bersiap-siap untuk menuju ke Indonesische Moschee Frankfurt untuk mengikuti acara pertama dalam rangkaian sepekan di Eropa ini. Pada acara ini Cak Nun dan Ibu Novia akan bertemu dangan para pekerja dan mahasiswa Indonesia di Jerman. (gd)

Cak Nun dan Ibu Novia mengisi waktu luang sebelum acara di Indonesische Moschee Frankfurt (Masjid Indonesia Frankfurt) dengan menyusuri jalan Kaiserstrasse.
search cart twitter facebook gplus youtube image