Hilangnya Kelembutan

22 Desember 2016 pukul 18.00, aspal masih basah oleh gerimis yang mengguyur seharian. Malam pekat hawa dingin menuju minus di Winter Wetter justru seakan menjelma penyulut semangat langkah para pencari ilmu untuk berbondong-bondong datang ke Masjid Indonesia Frankfurt. Terlebih kali ini mereka akan bertemu dengan seseorang yang spesial.

Indonesisch-moslemische Gemeinde in Frankfurt & Umgebung e.V.
Indonesisch-moslemische Gemeinde in Frankfurt & Umgebung e.V.

Di Jerman, masjid ini dikenal dengan nama Indonesisch-moslemische Gemeinde in Frankfurt & Umgebung e.V. Ia terletak di Strahlenberger Weg 16, Frankfurt Am Main. Lebih dari 70 orang hadir dan itu jauh dari perkiraan panitia yang sebelumnya bersiap untuk sekitar 40-an peserta saja. Menakjubkannya, peserta tak hanya datang dari kota-kota sekitaran Frankfurt, bahkan ada yang rela jauh-jauh dari Berlin, Freiburg, Stuttgart, dan Koln.

Bakda Isya, acara dibuka. Cak Nun terlebih dahulu menyampaikan prolog sebelum jeda makan malam bersama. Beliau melontarkan beberapa poin pemantik dan persetujuan kepada segenap jamaah tentang apa (berikut skala) yang akan dibahas pada pertemuan itu: apakah kedalaman atau keluasan, yang aktual atau umum, masalah besar-besar atau yang kecil.

Usai makan malam, para peserta langsung diberi kesempatan oleh moderator untuk bertanya kepada Cak Nun. Dari sejumlah pertanyaan itulah lalu berbagai hal diungkapkan Cak Nun, di antaranya keresahan Beliau tentang yang terjadi akhir-akhir ini di tanah air. Betapa sekarang banyak Muslim yang malah bersikap keras bahkan sampai mengafirkan Muslim lainnya, yang kebanyakan terjadi di media sosial yang notabene media itu bikinan Barat.

Cak Nun mengajak para jamaah untuk mentadabburi Al-Qur’an surah Al Maidah ayat 54, di mana di situ Allah menggambarkan sifat kaum baru yang Allah mencintainya dan mereka mencintai Allah, salah satunya “Adillatin ‘alal mu’minina a’izzatin ‘alal kafiriin”. Kaum baru itu didatangkan Allah sesudah orang-orang murtad dari agama-Nya.

Romantisme Masa Lalu Optimisme Masa Depan
Romantisme Masa Lalu Optimisme Masa Depan

Terjemahan resmi dari Kementrian Agama Indonesia adalah: “Wahai orang-orang yang beriman! Barangsiapa diantara kamu yang murtad dari agamanya, maka kelak Allah akan mendatangkan suatu kaum, Dia mencintai mereka dan mereka pun mencintai-Nya dan bersikap lemah-lembutlah terhadap orang-orang yang beriman, tetapi bersikap keras terhadap orang-orang kafir, yang berjihad di jalan Allah, dan yang tidak takut kepada celaan orang yang suka mencela. Itulah karunia Allah yang diberikan-Nya kepada siapa yang Dia kehendaki. Dan Allah Mahaluas (pemberianNya), Maha Mengetahui.”

Pemahaman akan “murtad” di situ bukalah keluar dari Islam secara formal eksplisit, melainkan gambaran keadaan di mana kebanyakan umat Islam tak lagi mau menegakkan martabat dan amanah sebagai khalifatullah. Mereka menyerahkan dirinya pada kekuasaan yang hendak menghancurkan kehidupan dengan cara menguasai dunia. Mereka yang ikut penjajah yang menguasai ini akan sejahtera hidupnya, tetapi akan jadi budak penjajah itu. Dari soal ini kemudian diskusi menukik dan kembali kepada keperluan untuk mengingat dan memahami kembali hakikat agama dan hakikat ibadah Mahdhoh dan Muamalah.

Selain itu, seturut dengan tema Sinau Bareng perdana ini yaitu ‘Romantisme Masa Lalu Optimisme Masa Depan’, Cak Nun merangsang segenap jamaah untuk mau meluangkan waktu mempelajari sejarah Indonesia, sejarah Islam, sejarah suku masing-masing baik Jawa, Sunda, Madura dan lain sebagainya dari berbagai sumber dikarenakan kebenaran sejarah itu sendiri bersifat dinamis.

Di penghujung acara Cak Nun mengutip Pesan Kanjeng Nabi Muhammad yang bersabda: “Beruntunglah orang-orang yang hidup bersamaku, namun beruntunglah, beruntunglah, beruntunglah orang yang hidup tidak bersamaku, di waktu yang lain, tapi mengimani Allah dan mengimani Rasulullah.”

“Kalau Anda ini orang Muslim tinggal di Indonesia atau Arab dan meramaikan masjid itu sudah wajar. Tapi kalau di Jerman, di tempat yang Islam tidak menjadi mainstream, jarang terdengar adzan, terus ada teman-teman yang bersama berhimpun meramaikan masjid, maka saya kira keberuntungannya berlipat sampai 9 kali,” ujar Cak Nun penuh keyakinan dan doa.

Berfoto bersama Cak Nun.
Berfoto bersama Cak Nun.

Masjid Indonesia Frankfurt sudah ada sejak dua tahun silam atas usaha masyarakat Muslim Frankfurt atas kehendak baiknya untuk memiliki masjid. Masjid ini berbentuk sebuah kantor. Sewa kantor satu lantainya untuk masjid per bulan kurang lebih € 2300. Donatur tetap hari ini € 1300 per bulan. Sisanya ditutup dari sedekah setiap ada kegiatan, profit unit bisnis masjid (salah satunya warung masjid).

Dengan terlaksananya Sinau Bareng ini, Mas Tito Prabowo, Ketua Masjid Indonesia Frankfurt, mengungkapkan rasa bahagianya, bahwa acara yang berlangsung sejak pukul 18.45 dan selesai pukul 22.00 ini sangat banyak mengilhami dan menyuguhkan perspektif baru paling tidak dalam bagaimana kita memandang, menyikapi, dan mengkomunikasikan. “Bagi kami Cak Nun adalah seorang guru yang ilmunya menyegarkan, khususnya bagi jamaah Masjid Indonesia Frankfurt,” tegasnya. (naf)

search cart twitter facebook gplus whatsapp youtube image