Lebih Gamblang Teori Segitiga Cinta di KBRI Brussel

Setelah melepas lelah sedikit dengan ngobrol-ngobrol ringan di kediaman Mas Bachtiar di Bambrugge, tak terasa waktu sudah memasuki pukul 17.30. Segera Cak Nun dan Ibu Novia bersiap-siap untuk kembali ke Brussel. Sembari menuju lokasi, Cak Nun dan Ibu Novia diajak mampir sebentar melihat salah satu ikon dan landmark kota Brussel, yakni Atomium, bangunan yang didirikan pada tahun 1958 dalam rangka pameran dunia di kota tersebut.

Tiba di lokasi, Cak Nun dan Ibu Novia langsung dipersilakan menikmati santap malam bersama masyarakat dan pelajar Indonesia yang berada di sana, cukup menghangatkan suasana malam itu dari udara dingin di luar gedung. Berbagai macam makanan khas Indonesia disuguhkan, dan dimaksudkan untuk memenuhi rasa kangen mereka terhadap masakan-masakan di tanah air.

Dubes RI Belgia Jamaah Maiyah YouTube

Seusai santap malam, semua kembali ke Aula KBRI Brussel. Pak Nanang dari KMPI membuka acara malam itu dengan memperkenalkan Cak Nun dan menginformasikan sedikit tentang Maiyahan yang selama ini dilakukan oleh Cak Nun. Sementara teman-teman di Brussel banyak juga yang mengikuti Maiyahan melalui YouTube. Pak Nanang menyampaikan bahwa yang hadir pada malam ini di luar ekspetasi, sebab ini adalah hari kerja. Biasanya jumlah yang hadir di pengajian lebih sedikit, namun pada malam itu ruangan aula dipenuhi jamaah, tidak hanya dari Brussel saja, tetapi ada yang datang dari Jerman, Perancis, dan Belanda.

Bapak Yuri Thamri, Duta Besar RI di Brussel memberikan sambutan.
Bapak Yuri Thamri, Duta Besar RI di Brussel memberikan sambutan.

Bapak Yuri Thamri, Duta Besar Republik Indonesia di Brussel juga hadir dan memberikan sambutan. Beliau menyampaikan syukur atas hadirnya Cak Nun dan Ibu Novia di Brussel. Beliau menuturkan bahwa beliau adalah salah satu penikmat video Maiyahan di YouTube dan tulisan-tulisan Cak Nun. Pada tahun 1979 ketika menjadi Mahasiswa Fisip UI adalah pertama kalinya beliau membaca tulisan Cak Nun, yang sayangnya beliau lupa judul buku dan tulisan yang dibaca. Berawal dari itulah kemudian beliau sering membaca tulisan-tulisan Cak Nun. Bahkan ketika ada isu-isu yang berkembang, tulisan-tulisan Cak Nun sering beliau jadikan referensi pribadi. Termasuk peristiwa 411 dan 212. Beliau berharap semoga Cak Nun lengkap dengan KiaiKanjeng tahun depan berkenan hadir di Eropa lagi, demi menampilkan wajah Islam yang sesuai  kebenaran dan keindahan Islam yang haq, dimana saat ini Islam seringkali dipojokkan atas isu-isu terorisme yang berkembang di beberapa Negara.

Lepas sambutan Pak Dubes, selanjutnya panitia mempersilakan beberapa teman membawakan Sholawat al-Barzanji untuk mengingat kembali Perjalanan Rasululkah Saw.

Mengawali Maiyahan kali ini, menyambung dengan tema Bulan Maulid Nabi Muhammad SAW, Cak Nun membacakan surat At Taubah ayat 128-129; Laqod jaa akum rasuulun min anfusikum aziizun alaihi maa ‘anittum hariishun ‘alaikum bil mu’ miniina rouufun rohiimun, fain tawallau hasbiyallahu laa ilaaha illa huwa ‘alaihi tawakkaltu wa huwa robbul ‘arsyil ‘adzhiim. Juga disambung dengan ayat; Innallaha wa malaaikatahu yusholluuna ‘ala-n-nabii, ya ayyuhalladziina amanuu shollu ‘alaihi wa sallimuu tasliimaa. Dengan dibacakannya ayat-ayat tersebut, Cak Nun berharap semoga semua yang hadir bisa mendapatkan energi yang baru dari Allah melalui wasilah Rasulullah SAW.

Cak Nun menyampaikan terima kasih, ungkapan syukur, dan kegembiraan karena bisa berkumpul dengan teman-teman di Belgia. Meskipun pada tahun 1984-1985 pernah tinggal di beberapa negara di Eropa, tetapi pada saat itu Beliau tidak sempat singgah di Belgia.

Peta Shalawatan, Beberapa Sebutan, dan Segitiga Cinta

Berawal dari Sholawat Barzanji yang dilantunkan sebelumnya, Cak Nun memberikan landasan untuk merapikan kembali beberapa hal yang mendasar yang masih disalahpahami. Dijelaskan bahwa kalam Allah yang diturunkan sebagai wahyu kepada Rasulullah merupakan Firman Allah, yang kemudian kita kenal sebagai Al Qur’an. Sementara ada kalam Allah yang disampaikan kepada Rasulullah SAW, tetapi redaksi teksnya disusun oleh Rasulullah Saw, dan itu disebut sebagai Hadits Qudsi. Sementara perkataan, perbuatan, dan perilaku Rasulullah Saw itu yang disebut sebagai Hadits.

Sementara Sholawat Barzanji tadi tidak termasuk kedalam 3 kriteria ini, karena Sholawat Barzanji dan sholawat-sholawat lainnya yang kita kenal hari ini merupakan karya manusia biasa yang mencintai Muhammad Saw dalam rangka mengungkapkan rasa cinta kepada Beliau. Sholawat-sholawat itu yang kemudian kerap dilantunkan pada bulan Maulid Nabi seperti saat ini.

“Jadi kita punya hak yang sama untuk bikin syair-syair yang baru”, Cak Nun menegaskan bahwa kalimat-kalimat sholawat merupakan hasil kreativitas manusia. Artinya manusia memiliki kebebasan berkreasi menciptakan syair-syair baru lagi dalam rangka wujud kecintaan kepada Rasulullah Muhammad Saw. Diterangkan, selain Barzanji juga ada Sholawat Burdah Simtud Duror. Begitu banyak jenis sholawatan saat ini membuktikan bahwa Muhammad merupakan satu-satunya nama yang paling banyak disebut oleh manusia. Cak Nun kemudian mengajak Jamaah untuk melantunkan Shalawat Badar yang merupakan karya orang Indonesia.

Dari shalawat, Cak Nun belok sejenak ke ihwal sebutan habib. Habib merupakan panggilan bagi orang-orang yang mencintai Rasulullah Saw. Hanya saja di Indonesia kemudian dikenal bahwa istilah Habib merupakan sebutan bagi mereka yang dianggap atau menganggap dirinya keturunan Nabi Muhammad Saw.

Cak Nun menjelaskan bahwa sebutan Habib itu tidak jauh berbeda dengan sebutan Gus bagi para anak Kiai atau Raden bagi anak para Raja. Sebutan-sebutan itu tidak ada hubungannya dengan kualitas keilmuan seseorang yang dipanggil Habib, Gus atau Den itu tadi. Dalam tradisi Islam di Jawa, yang digunakan sebutan Mbah Yai untuk menghormati seseorang yang ditakdzimi dan dituakan.

Cak Nun sendiri meminta kepada teman-teman di Brussel ini agar tidak menempatkan Cak Nun dalam skema wilayah entah itu Kiai, Habib, Ustadz, Ulama, dan lain sebagainya, sebab Cak Nun ingin merasa lebih dekat dan akrab. Dengan merobohkan tembok itulah Cak Nun bisa merasa lebih dekat dengan Jamaah Maiyah. Tidak ada sekat apapun yang membatasi. Bahkan di Maiyahan Cak Nun sering menyatakan bahwa landasan utama Maiyah adalah segitiga cinta; Allah-Muhammad-Manusia.

Jamaah yang hadir tidak hanya dari Brussel saja, tetapi dari Jerman, Perancis, dan Belanda.
Jamaah yang hadir tidak hanya dari Brussel, tetapi dari Jerman, Perancis, dan Belanda.

Lebih jauh Cak Nun menegaskan bahwa manusia, siapapun itu tidak boleh memposisikan dirinya lebih tinggi dari Rasulullah Muhammad Saw. Dan hanya Allah yang berhak memutuskan mana yang haram mana yang halal. Karena Allah yang punya saham 100% terhadap manusia dan alam semesta. Dan Allah sendiri berlalu adil bukan karena Allah harus adil. Tetapi karena wujud kasih dan sayang-Nya kepada makhkuk-Nya, maka Allah berlaku adil.

Setelah menjelaskan beberapa hal yang mendasar, Cak Nun mengajak teman-teman di Brussel ini untuk memahami skema Segitiga Cinta: Allah-Muhammad-Manusia. Skema inilah yang nemposisikan bahwa hanya Muhammad Saw yang bisa kita andalkan di hadapan Allah. Salah satu caranya adalah dengan kita bersholawat kepada Rasulullah Muhammad Saw.

Menyelami Arti Aizzatin ‘al-Kafirin

Secara perlahan, jamaah diingatkan kembali beda antara Ibadah Mahdhloh dan Ibadah Muamalah. Ibadah Mahdlhoh adalah melakukan semua hal yang diperintahkan Allah, maka harus dilakukan. Sementara Ibadah Muamalah adalah semua hal yang tidak ada larangannya oleh Allah, kita boleh melakukannya. Singkatnya, Ibadah Mahdloh diatur dalam rukun Islam yang lima. Sudah tidak bisa ditawar-tawar lagi. Syahadat sebagai fondasi yang kuat, Sholat wajib 5 waktu, puasa di bulan Ramadhan, menunaikan zakat, dan melaksanakan Ibadah Haji pada bulan dan tempat yang sudah ditentukan.

Muara penjelasan dasar itu berkaitan dengan penjelasan bahwa salah satu penyebab perpecahan Ummat Islam hari ini adalah karena Islam hanya dipahami sebagai lembaga dan institusi. Islam terpecah dalam berbagai golongan, di antaranya adalah Sunni dan Syi’ah, kemudian di Indonesia sendiri ada NU dan Muhammadiyah. Belum lagi perbedaan madzhab-madzhab yang juga mengakibatkan Ummat Islam terpecah belah, karena satu sama lain merasa benar sendiri. Yang dijunjung bukan keluasan hati, bukan kelapangan dada, tetapi perasaan paling unggul dan paling benar.

Untuk semua situasi keummatan itu, jamaah diajak mentadabburi Surat Al Maidah ayat 54, terutama pada kalimat: adzillatin ‘ala-l-mu’ miniin a’izzatin ‘ala-l-kaafirin. Dalam terjemahan bahasa Indonesia, kata a’izzatin dipahami “bersikap keras”. Padahal kata a’izzatin berasal dari kata aziizun yang artinya tidak tegaan dan berat hati. Seperti dalam surat At Taubah di atas, bahwa arti kata aziiz adalah berat hati.

Sebuah contoh diberikan sebagai penggambaran. Ketika kita melihat pencurian, fokus utama kita bukanlah barang yang dicuri. Melainkan pada pelaku pencurian tersebut. Kita harus mampu bersikap a’izzatin terhadap si pencuri. Karena jika fokus kita hanya barang yang dicuri, maka pendekatan kita hanya bersifat materialisme saja. Bahwa si pencuri harus dihukum sesuai aturan yang berlaku, dan itu sudah pasti. Tetapi semangat yang harus dibangun adalah mengadili si pencuri karena kita berat hati dan tidak tega mengapa dia melakukan pencurian.

Kebanyakan orang saat ini memahami bahwa sikap keras merupakan sikap yang harus pertama diungkapkan ketika bertemu dengan kedzaliman. Seringkali kita lebih suka meneriaki orang lain dengan sebutan kafir atau sesat ketika pandangan mereka tidak sesuai dengan apa yang kita yakini. Yang kita kedepankan bukan sifat lemah lembut dan kasih sayang, justru sikap keras dan arogan yang kita utamakan. Apakah ketika kita didatangi orang yang tersesat pada saat mencari jalan di sebuah tempat, kemudian kita justru berteriak dan menyebutnya sebagai orang yang bodoh? Tentu tidak. Kita akan menunjukkan rute atau jalur yang benar menuju tujuan yang dimaksud oleh orang tersebut. Begitu juga dalam kehidupan beragama. Seharusnya kita bersikap demikian. Tugas kita hanya mengingatkan, bukan menghukumi. Dalam Islam terdapat prinsip yang gamblang: Innaka lan tahdi man ahbabta, walakinnallaha yahdi man yasyaa.

Cak Nun kemudian menjelaskan bahwa kondisi muslim atau kafir harus terdapat objek yang melengkapinya. Karena muslim atau kafir merupakan kondisi yang tidak bisa berdiri sendiri. Kalau kita muslim terhadap Allah, maka kita kafir terhadap iblis. Begitu juga sebaliknya. Cak Nun kemudian bercerita sedikit tentang pengalaman beliau ketika dilibatkan oleh Mahkamah Konstitusi saat diminta untuk menjadi saksi ahli dalam pembahasan undang-undang penistaan agama.

Rekomendasi yang diberikan Cak Nun saat itu adalah bahwa undang-undang tersebut harus dilengkapi dengan perangkat lainnya yang melengkapi legitimasi keberadaan undang-undang tersebut. Sebab bagi Cak Nun, undang-undang tersebut masih belum lengkap, sementara jika tidak disahkan juga justru akan membuat situasi kehidupan beragama di Indonesia semakin gaduh.

Sebelum memberikan kesempatan untuk bertanya, Cak Nun mengajak semua yang hadir untuk mendalami lagi secara komprehensif istilah-istilah mendasar dalam Islam, seperti muslim, mukmin, kafir, munafik, jihad, ijtihad, mujahadah, dan lain sebagainya. Yang terjadi saat ini, istilah-istilah tersebut hanya dipahami secara sempit. Akibatnya, Islam gagal dipahami oleh Ummat agama lain.

Pada sesi tanya jawab, salah satu pertanyaan yang muncul adalah tentang boleh atau tidaknya mengucapkan Selamat Natal. Dijelaskan oleh Cak Nun, asalkan dengan mengucapkan selamat natal itu tidak mengubah apapun dalam diri kita terhadap Islam, maka tidak masalah. Cak Nun juga mengingatkan agar kita tetap berlemah lembut terhadap orang yang memiliki pendapat bahwa mengucapkan selamat natal itu tidak boleh. Kita harus mampu memahami sikap mereka dan mampu menjelaskan dengan retorika yang bijak.

Cak Nun mengajak semua yang hadir untuk memahami Islam secara substansial dan esensial, tetapi dengan tidak melupakan syariatnya. Jika kita hanya memahami Islam secara syariat, maka orang yang tidak memiliki kemampuan untuk menunaikan Ibadah Haji akan selalu merasa bersalah karena ia tidak mampu berangkat ke Baitullah di Mekkah. Seperti halnya ketika kita kentut saat kita sholat, maka sholat kita menjadi batal dan kita harus berwudhlu lagi untuk mensucikan badan kita. Tetapi ketika kita berwudhlu, bukankah kita tidak membasuh dubur tempat keluarnya kentut kita? Karena secara substansi yang dibersihkan bukanlah fisik badan kita, melainkan martabat kita. Bahwa Allah kemudian mengatur secara syariat adalah dengan cara berwudhlu, yaitu membasuh muka, kepala, tangan dan kaki. Tetapi secara substansial dan esensial, yang kita bersihkan adalah martabat kita. Agar kita berada dalam kondisi bersih dan suci ketika kita menghadap Allah Swt.

Merespons pertanyaan-pertanyaan lainnya, Cak Nun melandasi dengan paparan Solusi Segitiga. Digambarkan bahwa dunia dan seisinya ini meruoakan satu bulatan yang berada di dalam segitiga. Segitiga itulah yang kemudian di Maiyah dikenal sebagai Segitiga Cinta; Allah yang berada di titik puncak, kemudian ada Rasulullah Saw dan manusia. Ketiganya akan berdialektika satu sama lain, terus-menerus. Rasulullah Saw merupakan syarat utama bagi manusia untuk menghadap kepada Allah. Hanya Rasulullah Saw yang bisa kita andalkan ketika kita menghadap Allah. Dunia dan seisinya dengan segala persoalan yang sangat kompleks ini tidak bisa diperbaiki oleh ilmu yang berada di dalam bulatan dunia itu sendiri. Hanya dengan solusi segitiga itulah seluruh persoalan di dunia ini beres. Bulatan dunia membutuhkan dialektika segitiga cinta untuk membereskan semua persoalannya.

Subjek Viral dan Momentum yang Menjadi Trigger

Dari landasan ini, Cak Nun mengajak semua untuk menemukan subjek utama dari setiap peristiwa yang dialami. Berdetaknya jantung, mengalirnya darah, berhembusnya angin, gugurnya dedaunan, semua itu subjek utamanya adalah Allah. Begitu juga dengan fenomena-fenomena yang menjadi viral akhir-akhir ini. Dulu ada Mukidi, kemudian isu Al Maidah ayat 51 yang kemudian pada 2 Desember 2016 menggerakkan jutaan massa ke Jakarta, lalu yang terakhir adalah fenomena Telolet yang juga sangat viral.

Berfoto bersama dengan Duta Besar RI dan jamaah.
Berfoto bersama dengan Duta Besar RI dan jamaah.

Pertanyaannya adalah siapa subjek utama yang menjadikan fenomena tersebut menjadi sangat viral. Allah. Andaikan besok ada penelitian isu baru yang bisa menjadi viral, belum tentu akan mampu benar-benar menjadi viral seperti Telolet akhir-akhir ini. Andaikata nanti ada viral yang lain, maka harus dipahami bahwa yang menjadi subjek utama viral tersebut adalah Allah. Karena hanya Allah yang mampu menentukan momentumnya, bukan manusia.

Viral yang dimaksud bukan hanya soal menjadi trending topic di media sosial. Melainkan viral yang mampu menjadi trigger, seperti kasus Al Maidah ayat 51 di Pulau Seribu. Fenomena tersebut harus bisa dipahami bahwa yang paling mampu menciptakan trigger adalah Allah, bukan manusia. Jika kita berbicara medan perang, maka Ayat Al Maidah 51 adalah medan perang yang sangat sempit, terlebih ada medan perang lain berupa Reklamasi, Sumber Waras, Penggusuran, ucapan dan perilaku yang kasar, dan lain sebagainya yang seharusnya bisa menjadi trigger lebih kuat untuk gerakan massa. Tetapi justru Al Maidah ayat 51 yang mampu menjadi trigger hingga lahirlah gerakan massa yang melibatkan jutaan orang itu di Jakarta beberapa waktu lalu.

Cak Nun bahkan melemparkan sebuah pertanyaan yang cukup krusial; Jokowi menjadi presiden, siapa subjeknya? Lebih luas lagi, Cak Nun menjelaskan bahwa proses pengobatan yang dilakukan oleh dokter terhadap pasiennya terdapat kadar prosentase terlibatnya Allah dalam peristiwa itu. Hanya saja kita tidak mampu mengetahui berapa besar prosentasenya. Begitu juga dengan apa yang terjadi di Indonesia. Peristiwa apapun ada keterlibatan Allah di dalamnya dan kita tidak bisa mengetahui secara pasti berapa besar prosentase keterlibatan Allah itu.

Cak Nun juga menjelaskan bahwa Islam dengan Ummat Islam itu berbeda, apalagi dengan Ormas Islam, lebih jauh lagi jaraknya. Hari ini Islamphobia berkembang di mana-mana. Ummat Islam diserang dan dipecah belah hampir di semua negara. Tetapi Islam tidak bisa dihancurkan begitu saja. Justru yang terjadi adalah Islam menjadi lebih kuat. Gelombang muallaf meningkat drastis di negara-negara nonmuslim.

Melengkapi penjelasan bahwa subjek utama dalam kehidupan manusia ini adalah Allah, Cak Nun kembali bercerita kisah sakit perutnya Nabi Musa. Dari kisah itu sangat jelas bahwa subjek utama sembuhnya sakit adalah Allah. Bahwa wasilah sembuhnya melalui daun, obat, air, atau apapun saja itu merupakan hak prerogatif Allah. Seperti halnya dalam proses reproduksi manusia. Tugas manusia hanya kawin, bersetubuh antara suami dan istri yang sah. Yang memiliki hak untuk membuat tumbuhnya jabang bayi di dalam perut sang istri adalah Allah. Begitu pula dengan petani yang menanam padi, tugas yang harus dilakukan adalah membajak sawah, menanam padi kemudian merawatnya. Yang memutuskan panen atau tidak adalah Allah.

Segitiga Cinta sebagai Solusi

Menjawab pertanyaan tentang partai politik seperti apa yang cocok di Indonesia, apakah harus berlandaskan Islam atau tidak, Cak Nun menjelaskan bahwa mau menggunakan “Islam” atau tidak, asalkan solusi segitiga tadi diterapkan maka bisa menjadi solusi terbaik untuk Indonesia. Karena yang terjadi hari ini, partai politik yang menyebut diri berlandaskan Islam saja tidak sungguh-sungguh melibatkan Allah dalam setiap langkahnya, apalagi yang tidak berlandaskan Islam. Karena kembali lagi, Islam bukanlah institusi. Islam adalah energi. Meskipun tidak menggunakan embel-embel Islam, asalkan energi yang terbangun dalam akal pikiran adalah Islam, maka output-nya akan menghasilkan kebaikan bagi sesama manusia.

Cak Nun bercerita satu peristiwa di Indonesia bahwa anak SD hari ini sudah berani menyerbu SD lain dengan senjata tajam. Kasus terakhir yang terjadi di Yogyakarta adalah terbunuhnya siswa SMA Muhammadiyah 1 oleh siswa SMA Bopkri. Yang terbangun kemudian adalah kesan terjadi konflik antara Islam dan Kristen Protestan. Padahal sebenarnya persoalannya adalah persoalan mental dan sistem nilai yang sudah sangat rusak dan sangat kompleks. Bagi Cak Nun hanya solusi segitiga itulah yang menjadi solusi terbaik untuk persoalan di Indonesia saat ini.

Tak terasa waktu menunjukan pukul 22:00, Cak Nun memungkasi pertemuan ini dengan doa bersama. Jamaah terlihat mantap dan senang dengan apa yang disampaikan oleh Cak Nun. Sesuatu yang menjadi bekal mereka menghadapi situasi-situasi yang berkembang saat ini, terutama mereka sebagai orang yang berada di perantauan di negara orang. Apa yang disampaikan oleh Cak Nun menjadi spirit pula bagi mereka untuk tidak lupa akan tanah air Indonesia. (gd/fhm/hm)

Skema Segitiga Cinta: Allah-Muhammad-Manusia. Skema inilah yang nemposisikan bahwa hanya Muhammad Saw yang bisa kita andalkan di hadapan Allah.

Bagikan

search cart twitter facebook gplus whatsapp telegram youtube image