Dari Brussel ke Amsterdam Terkenang Masa Menggelandang

Pagi 23 Desember 2016, Cak Nun dan Ibu Novia sudah bersiap untuk kembali melanjutkan perjalanan ke Amsterdam sekitar 220 km dari Brussel. Tidak seperti di kota sebelumnya, acara berikutnya di Amsterdam dan Den Haag diselenggarakan pada siang hari.

Usai sarapan Cak Nun dan Ibu Novia sudah dijemput oleh Mas Syafiih dan Mas Zaenal. Keduanya adalah orang Indonesia yang membuka usaha rumah makan di Belanda. Tahun 2008 silam, Mas Syafiih juga turut menyertai perjalanan Cak Nun dan KiaiKanjeng ketika keliling Belanda.

Melihat-lihat kota tuan Ghent.
Melihat-lihat kota tuan Ghent.

Setengah jam perjalanan keluar dari highway melalui exit E17, ternyata Cak Nun dan Ibu Novia kemudian diajak melihat-lihat kota tua, Ghent. Sebuah kota yang terletak di wilayah Flemish, Belgia. Kota ini memiliki sejarah yang kaya dengan arsitektur Abad Pertengahan yang menakjubkan dan masih terawat.

Setelah melihat-lihat kota Ghent, perjalanan dilanjutkan kembali. Sambil menikmati perjalanan, Cak Nun mengingat-ingat bagaimana dulu Beliau bisa menggelandang hingga di Negeri Kincir Angin dan beberapa negara Eropa lainnya. Cak Nun terheran-heran sendiri apabila mengingat pengalaman itu: bagaimana bisa bertahan hidup di sana, dari hari ke hari, melalui musim dingin. Ketika tahun 1984 saat itu, saat musim dingin, cuaca masih sangat dingin, dan tidak seperti pada tahun-tahun belakangan ini.

Terkenang masa menggelandang di Eropa.
Terkenang masa menggelandang di Eropa.

Cak Nun menceritakan bagaimana Beliau tinggal bersama seorang teman penyair asal Amerika Serikat yang menjadi imigran gelap di Belanda. Selama dua bulan Cak Nun, yang tak memegang uang sepeser pun, menempati satu petak flat yang tak berpenghuni. Di sana memang jika ada sebuah rumah yang ditelantarkan atau ruang kosong yang tak ditempati lebih dari dua bulan, setiap orang berhak menempatinya.

Tetapi tinggal di rumah tanpa pemanas saat musim salju bukan hal yang mudah. Untuk mengisi kamar yang ditinggalinya, biasanya Cak Nun menunggu setiap senin malam orang-orang Belanda buang barang. Kasur, selimut, mesin ketik, teve hitam putih, kompor fungsi separuh, meja, kursi, dan sebagainya diangkut dari tempat pembuangan ke rumah yang didiaminya.

Saking asiknya ngobrol-ngobrol, perjalanan sekitar 4 jam tak terasa. Kendaraan yang membawa Cak Nun dan Ibu Novia tiba di lokasi acara di Basisschool El-Amien, Amsterdam. Teman-teman pengurus masjid Al Ikhlas langsung menyambut Cak Nun dan Ibu Novia ke ruang transit sebelum beracara usai dzuhur. (gd)

Sambil menikmati perjalanan, Cak Nun mengingat-ingat bagaimana dulu Beliau bisa menggelandang hingga di Negeri Kincir Angin dan beberapa negara Eropa.
search cart twitter facebook gplus youtube image