Sinau Dimensi Hakiki Agama dan Luasnya Hati Manusia

Catatan Perjalanan Sinau Bareng Mbah Nun dan Ibu Novia Kolopaking di Australia, 16-22 November 2018, bag. 4

Alhamdulillah acara Sinau Bareng kemaren sore-malam berjalan lancar dan sukses, serta semoga membawa berkah untuk kami semua. Acara berlangsung di Bentley Community Centre, Nyamup Way, Bentley, Perth, Western Australia. Kalau dihitung secara singkat yang hadir sekitar 200-an orang lebih. Orang-orang yang saya kira nggak akan datang karena mereka mungkin kurang sejalan dengan Mbah Nun yang mungkin dianggap liberal, tapi ternyata mereka datang.

Malahan ada peristiwa unik ketika orang yang saya kira anti mbah Nun memanggil saya dari jauh. Dalam hati saya mbatin bakalan ditegur atau dimarahin, eh ternyata dia bilang, ‘Yu pecinya bagus, belinya di mana.’ Oalah, (saat itu saya pakai peci Maiyah), saya kira mau dimarahin. Akhirnya saya kasih beliau peci Maiyah. Ini oleh-oleh Mbah Nun. Begitulah, ternyata saya tidak mampu memahami secara utuh hati manusia.

Mengawali acara, para hadirin menyimak dua buah sambutan yaitu dari ketua panitia Mas Dody Adibrata dan perwakilan dari Konjen RI Pak Omar Haris. Mas Dody Menyambut kedatangan Perwakilan Konjen RI Perth, Para Habaib alim ulama dan masyarakat Indonesia di Perth, serta mempersilakan kepada tamu untuk menyampaikan apa yang ada di hati dan pikirannya kepada Mbah Nun.

Ada pula satu sambutan dari perwakilan ulama yakni Imam Abdul Jalil Ahmad. Beliau menjelaskan makna Sinau Nareng dalam bahasa Inggris adalah to learn each other. Namun beliau bilang nggak ada yang mau diomongkan, karena ingin mendengarkan Mbah Nun. Sementara itu, Pak Omar menyampaikan rasa syukurnya atas kedatangan Mbah Nun yang beliau sebut sebagai bapak, orangtua, kakak dan tokoh masyarakat yang selalu menemani masyarakat Indonesia.

Sebelum acara Sinau Bareng pun ada satu persembahan hadrah dari Madrasah Darul Ma’arif. Saya salut, mereka ini orang-orang Indonesia di Australia tetapi masih sempat merawat tradisi yang baik, dan ini diinisiasi oleh Pak Nono Sofari yang asli Kalimantan Selatan dan pengagum Guru Sekumpul atau Tuan Guru Zaini Martapura.

Sejak awal acara berlangsung, bagi saya pribadi rasanya tidak seperti di Australia, melainkan seperti di Indonesia. Tidak hanya karena ada grup hadroh ini, tetapi keberadaan Mbah Nun itu sendiri seakan mampu membawa sesuatu dari Indonesia yang kami sering rindukan. Entah apa namanya.

Selain apa-apa yang sudah disampaikan Mbah Nun yang sebenarnya lebih merupakan pengantar, muatan Sinau Bareng tampak pada tanya jawab dengan jamaah. Pertanyaan-pertanyaan yang muncul mencerminkan kesungguhan hati manusia untuk beragama dengan sebaik-baiknya dan setulus-tulusnya. Misalnya ada pertanyaan bagaimana status orang yang terlahir bukan Islam padahal kita juga meyakini kitab Injil dll. Bagimana menyikapi non-Muslim, apakah doa mereka diterima, padahal Allah menganugerahkan rahmatan lil alamin dan mengerti segala bahasa, juga Mbah Nun menjawab lengkap pertanyaan melalui ayat innaddiina ‘indallahil Islam dan lakum diinukum waliyadin.

Ada juga pertanyaan seperti ini, bagaimana kalau kita sudah sering bershalawat berakibat kita lebih mencintai Nabi ketimbang Allah. Saya masih ingat betul, begini jawab Mbah Nun, “Ya tidak mungkinlah. Kalau akalnya tersetruktur dengan benar, itu tidak akan terjadi.” Lalu Mbah Nun menjelaskannya melalui konsep Cinta segitiga.

Dalam Sinau Bareng itu, Bu Via juga menghadirkan keindahan dan kehangatan dengan beberapa lagu yang dibawakannya, seperti lagu Sayang Padaku pada bagian akhir acara. Bagi saya, Sinau Bareng di Perth kemarin persis sama atmosfernya seperti Sinau Bareng dan Maiyahan di Indonesia.

Banyak yang minta foto Mbah Nun dan Bu Via. Ada suatu waktu yang saya nyari Mbah Nun kok nggak kelihatan lama. Tahunya Beliau sedang di luar di suatu pojok tersembunyi, beberapa orang sedang ngantri minta disuwuk dan minta air doa. Sampe-sampe saya terpaksa jadi Banser dadakan biar mereka bisa antri gantian secara tertib.

Pokoknya plek seperti di Indonesia. Beberapa teman mahasiswa S3 sedang berdiskusi dengan mbah Nun. Saya kira diskusi ilmiah ternyata setelah saya dekati mereka sedang konsultasi akik. Oalah, tak kira ngomong studinya atau kemajuan teknologi, atau perpolitikan ternyata ngomongin cincin batu akik. Ya ilmiah juga sih.. Mbah Nun koleksi batu akiknya juga banyak.

Teman saya yang sedang studi S3 bidang perpustakaan penggemar akik itu aslinya Mandar Sulawesi Barat. Dia suka dengan karya shalawat versi Mandar Mbah Nun dan KiaiKanjeng, obrolan mereka guyub karena menemui banyak kesaamaan. Salah satunya karena Mbah Nun kan sering ke Mandar dan punya hubungan khusus dengan wilayah itu.

Banyak orang yang kenal sama saya terpaksa “bertawasul” dengan saya untuk bisa mendapatkan akses langsung ke Mbah Nun untuk foto ataupun minta suwuk. Hmmm.. ini sperti penjelasan Mbah Nun tentang makna shalawat dan cinta segitiga. Karena antriannya panjang, banyak sekali yang berebutan minta foto, salaman, dll. Demikian ya, serba sekilas coretan saya, pasti banyak yang belum ter-cover di tulisan ini, tapi semoga kebahagiaan ini bisa juga sampai Anda semua.

Buku Cak Nun